NORDIC: Pertarungan Coffee ala Perahu Naga

13 Feb 2018 16:25 Coffee & Resto
Ngopibareng.id |

Namanya Nordic. Logonya perahu berkepala naga. Perahu zaman mitologi sepertinya, bukan perahu kekinian yang biasa digunakan berwisata di tepian pantai.

Andai tak ada tulisan coffee-nya orang akan mengira kalau coffee shop ini adalah gerai baju. Maklum juga, Nordic Coffee berdampingan langsung dengan On Market Go+. Dia punya tempat nyempil di pojok depan sebelah kiri. Cukup besar sebenarnya, hanya baju-baju di sebelahnya lebih banyak sehingga mendominasi sudut horison mata.

Nordic Coffee sejatinya bukan coffee shop sembarangan sebenarnya. Dia punya kelas. Dia punya owner kenamaan. Orang kopi yang punya ilmu kopi segudang banyaknya. Punya bahan baku kopi berkualitas. Malah di Nordic ini acapkali menjadi rujukan para pelaku-pelaku kopi, untuk sekadar mengetahui biji kopi apa yang saat ini lagi trend di pasar lokal maun pasar global.

Sudut Nordic dalam On Market Go+ Tunjungan Plasa LT 3, Surabaya. foto:widikamidi

Nordic, di ranah perkopian, di ranah per-coffeeshop-an, boleh dibilang unik. Mungkin juga aneh. Malah barangkali bisa disebut coffee shop yang "ngeri-ngeri sedap". Apa pasal? Dia berbisnis tempat ngopi di Mal Plaza Tunjungan Lantai 3 dengan lokasi berhadapan langsung dengan brand kopi besar, Starbucks.

Apa ini tidak bunuh diri? "Tidak!" Jawab Christian Hartono, owner sekaligus Barista di Nordic Coffee ini dengan mantap. Kata dia, biar orang mencari kopi dengan sendirinya. Kalau kopinya enak pasti dicari. Kalau pengopi ingin gengsi tinggi, ya duduk di tetangga sebelah. Minum es kopi, es blend apa saja yang bisa dikaitkan dengan kopi, dll. Tapi, kalau pengopi ingin mencari kopi yang rekomen, ya biar mereka menoleh sendiri kesini.

"Kadang ngiri juga sih, tapi ini di awal-awal saja waktu pertama kita buka. Di depan rame, sementara kita hanya satu dua. Tapi itu sudah lewat. Ternyata, meski sudah banyak publikasi soal kopi yang bagus, kopi yang diseduh uenak itu bagaimana dan seperti apa, tetap saja banyak orang tak memilih duduk untuk beli kopi, tetapi beli gengsi," kata Christian yang beberapa kali menjuarai kompetisi-kompetisi kopi nasional.

Rahmat, barista Nordic Coffee sedang menyiapkan manual brewing untuk pelanggan. foto:widikamidi

Christian mengakui, bukan perkara mudah berhadapan market dengan brand besar. "Malah, khusus yang di depan kita, Starbucks juga bermain manual brewing. Ini tidak terjadi di gerai Starbucks yang lain. Boleh jadi, kita ini meski hanya kecil saja tetapi menakutkan buat pasar mereka," canda Christian.

Tapi intinya, lanjut dia, Nordic Coffee, fokus saja. Tetap menyediakan biji-biji kopi berkualitas yang mungkin para tetangga tidak memilikinya. Lagi pula Nordic memang bukan dalam ranah rebutan pasar, juga bukan untuk bertarung yang bagaimana dengan kompetitor.

"Kita hanya ingin mereka punya sudut pandang kopi yang berbeda. Begini lho kopi. Begini lho rasa taste kopi yang sesungguhnya. Begini lho kopi kalau diminum tanpa gula. Bisa manis. Bisa asyik, dan bisa didiskusikan dengan keasyikan tiada tara pula."

Christian Hartono di depan gerainya yang lain yang diberi judul Kopi Koko Nakal.

Kenapa sih pakai nama Nordic? Koko ganteng ini angkat bahu pelahan sembari tersenyum. "Mungkin seperti filosofi atau mitologi kali ya. Mitologi dewa-dewa zaman lalu hahahaha. Dengan tangan dewa, kita mau berperahu kepala naga untuk menaklukkan yang besar. Kalau tidak menaklukkan ya minimal mampu berdampingan-lah hahahaha," tawa Christ renyah.

Boleh jadi pernyataan Christian ini ada benarnya. Menurut Wikipedia, mitologi Nordic dipercaya oleh negara-negara Nordic yang menempati wilayah di Eropa Timur dan Atlantik Utara. Negara-negara Nordik itu adalah Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia dan Swedia, dan juga teritori Kepulauan Faroe, Greenland, Svalbard dan Åland. 

"Ah jangan bahas mitologi ah, tambah puyeng nanti kepala. Bahas kopi ajah, nih ada kopi yang baru dan dijamin tetangga sebelah tidak punya. Ada biji kopi dari Honduras, ada Kayanza-Ngozi Border Burundi dari varietas red bourbon, ada Kenya Kamwangi Kirinyaga, ada Ethiopia Alemu Baketo, ada Columbia Popayan, dll," kata dia.

Kalau yang biji lokal, lanjut Christ, ada Toraja Yale, ada juga Papua Monomania. Ini biji-biji kopi yang keren. Kopi Indonesia sejatinya juga mampu bersaing dengan biji-biji kopi dari luar negeri. Asal proses paskapanen bagus, roasterynya bagus, penyeduhnya juga bagus, maka kopi-kopi ini citarasanya bakal tak hilang tujuh hari tujuh malam. (*)

Kopi super specialty
Biji-biji kopi yang patut ditiru paskapanennya oleh Indonesia
Lokal, tapi menginternasional.
Penulis : widi kamidi