Negara Damai, Jalankan Syariat Islam Jadi Tenang

15 Mar 2019 03:08 Khazanah

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keagamaan yang hingga saat ini menjadi penjaga Nusantara. Sebab, paradigma NU tidak membenturkan antara teologi dan nasionalisme.

"Jangkarnya Nusantara hari ini, itu tinggal NU," kata Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta Dr Ngatawi Al-Zastrouw, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Jumat 15 Maret 2019.

Ia mencontohkan bagaimana NU lantang dalam menggelorakan jargon 'NKRI Harga Mati', tetapi di sisi lain, terdapat kelompok keagamaan yang mengusung agar syariat Islam langsung ditegakkan dengan cara mendirikan negara agama.

"Kenapa NU mengatakan NKRI harga mati? Karena NKRI menjadi wasilah, instrumen dalam kita menjalankan syariat Islam," kata Zastrouw.

Ia menjelaskan, jargon NU tersebut merupakan instrumen dalam melaksanaan syariat Islam. Sebab sambungnya, jika negara damai, maka umat Islam dalam menjalankan syariat Islam dapat dilakukan dengan tenang.

Namun, jika sebaliknya, yakni negara dalam keadaan konflik seperti Syria, maka secara otomatis, umat Islam merasakan ketidaknyamanan dalam menjalankan syariat Islam.

"Kenapa NU mengatakan NKRI harga mati? Karena NKRI menjadi wasilah, instrumen dalam kita menjalankan syariat Islam," kata Zastrouw.

Menurutnya, penerapan NKRI sebagai instrumen ini sesuai dengan kaidah fiqih yang menyatakan bahwa 'perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib'.

"Syariat Islam wajib, bisa menjalankan syariat Islam nek negaranya tenteram, aman, berdaulat, maka menjaga ketenteraman, kedaulatan NKRI hukumnya menjadi wajib, maka NKRI harga mati," terangnya mencontohkan.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai ideologi negara karena lima sila yang ada sesuai dengan ajaran dalam Islam. Oleh karena itu, tidak sepatutnya jika Pancasila dianggap thagut.

"Seluruh isi (sila-sila dalam) Pancasila itu cerminan dari Al-Qur'an dan hadits," tutur Zastrouw, yang sebelumnya jadi pembicara pada Diskusi Publik yang diselenggarakan Majelis Ulama dan Umara Nusantara (Maulana) di Rumah Pergerakan Gus Dur di Kalibata Timur, Jakarta, belum lama ini. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini