Nasionalisme Muhammadiyah, Begini Faktanya

17 Nov 2018 18:48 Khazanah

Mr Kasman Singodimedjo adalah pejuang bangsa. Ketika ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini, banyak orang mencari jejak perjuangannya, dalam pembentukan negeri ini.

Untuk memperjelas eksistensi para pejuang yang lahir dari rahim Muhammadiyah, berikut ulasan Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tentang Nasionalisme Muhammadiyah. Di dalamnya, banyak disebut para kader Muhammadiyah yang tampil dalam sejarah Indonesia:

Pada  8 November 2018, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Mr Kasman Singodimedjo atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara Indonesia. Mr Kasman adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat ber­peran dalam pembentukan negara Indonesia; dasar negara Pancasila, UUD 1945, KNIP (DPR/MPR), BKR (TNI), jaksa agung, politik modern, dan perguruan tinggi Islam.

"Yang tidak kalah besarnya adalah jasa Ir Juanda. Lewat perjuangan dan diplomasi politik, Ir Juanda adalah tokoh kunci di balik pengakuan inter­nasional atas Indonesia sebagai ne­gara kepulauan."

Selain Mr Kasman, beberapa tokoh Muhammadiyah juga mendapatkan gelar pahlawan. Di antara mereka adalah KH Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, Kiai Fachruddin, KH Mas Mansur, Buya Hamka, Ir Juanda, Ki Bagus Hadikusumo, Ir Soekarno, dan Fatmawati. Sederet nama-nama pah­lawan nasional tersebut mem­bukti­kan peran kesejarahan dan nasional­isme Muhammadiyah.

Melalui para tokoh dan gerak­an­nya, Muhammadiyah meletakkan dasar-dasar kenegaraan dan mene­gak­kan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ki Bagus Hadi­kusumo, Mr Kasman Singodimedjo, Prof Abdul Kahar Mudzakir, dan Ir Soekarno adalah tokoh penting yang merumuskan Pancasila seperti yang kita miliki sekarang.

Demi persatuan dan kemerdekaan Indonesia, Mr Kasman Singodimedjo berjasa melobi Ki Bagus Hadikusumo untuk menye­tujui dihapuskannya frasa “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam ru­musan sila pertama sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Beberapa ahli sejarah menye­but­kan Ir Soekarno menyetujui rumusan dasar negara versi Piagam Jakarta. Demikian halnya dengan AA Mara­mis, tokoh Nasrani yang turut me­rumuskan dasar negara. Seandainya para tokoh muslim bersikukuh mem­pertahankan kepentingan kelompok karena jumlahnya yang mayoritas, mereka bisa tetap mempertahankan Piagam Jakarta.

Dengan jiwa dan semangat nasionalisme, para tokoh muslim menghadiahkan Pancasila untuk Indonesia. Alamsyah pernah menyebut Pancasila sebagai hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia.

Yang tidak kalah besarnya adalah jasa Ir Juanda. Lewat perjuangan dan diplomasi politik, Ir Juanda adalah tokoh kunci di balik pengakuan inter­nasional atas Indonesia sebagai ne­gara kepulauan.

Dengan pengakuan internasional tersebut Indonesia dapat menjaga kedaulatan wilayah, terutama laut. Juanda adalah kader Muhammadiyah yang memilih kem­bali menjadi guru setelah mening­gal­kan gelanggang politik. (md/adi)