Napak Tilas Sejarah Perjuangan Ulama, Ini Pesan Kiai Marzuki

16 Nov 2019 20:28 Reportase

Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar mengatakan, di tempat bersejarah seperti gedung yang disebut Markas Besar Oelama (MBO) membutuhkan proses legal guna mendapat sertifikat resmi atas nama Badan Hukum NU.

"Di sini, kita berdoa bersama agar proses tersebut bisa diselesaikan. Lalu dimanfaatkan secara penuh oleh NU," tuturnya.

Hal itu diungkapkannya, dalam acara Napak Tilas Sejarah Perjuangan Ulama di gedung yang disebut Markas Besar Oelama (MBO) di Waru Sidoarjo, Sabtu 16 November 2019. Acara ini dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2019 digelar PWNU Jawa Timur.

Napak tilas selain dihadiri Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, juga Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, dan jajaran pengurus PWNU, Badan Otonom dan Lembaga di lingkungan PWNU Jawa Timur.

Pada bagian lain, Kiai Marzuki Mustamar mengatakan, dalam pemanfaatan gedung itu nanti, di bisa digunakan untuk kegiatan nuansa perjuangan. Seperti pelatihan kader-kader NU, disertai dengan acara pemberian ijazah doa.

"Menurut saya, ketika kader-kader NU melakukan kegiatan yang membutuhkan penguatan spiritual, di sinilah tempatnya. Yang penting, dimanfaatkan untuk perjuangan NU dan kepentingan NKRI," tuturnya.

Sebelum acara, dilakukan pembacaan Shalawat Nabi, Tahlilan dan Istighotsah. Nuansa khas budaya pesantren mewarnai acara tersebut.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar di gedung Perjuangan Ulama di Waru Sidoarjo Foto nu for ngopibarengid
Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar di gedung Perjuangan Ulama di Waru Sidoarjo. (Foto: nu for ngopibareng.id)

Seperti diketahui, pertempuran mencapai puncaknya di Surabaya pada 10 November 1945 (Hari Pahlawan), tidak terlepas dari pencetusan Resolusi Jihad NU, berdasar Fatwa Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad menggerakkan seluruh elemen bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda kedua yang membonceng Sekutu.

Sebelumnya, pada 19 September 1945 banyak orang rela mati dalam peristiwa penyobekan bagian biru dari bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya.

Sebelum datang Brigade 49 Divisi India Tentara Inggris pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, kalangan santri merasa tentara asing akan datang dan perang tak bisa dihindarkan.

Di Surabaya yang panas pada akhir Oktober 1945, para kiai pun berkumpul. Mereka terus berkomitmen bagi kemerdekaan bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Setidaknya waktu itu Wahid Hasyim, anak dari Rais Akbar NU Kiai Haji Hasyim Asy'ari, adalah Menteri Agama Republik Indonesia sejak September 1945.

KH Hasyim Asy'ari sendiri merupakan salah satu ulama besar dari pesantren yang berpengaruh sejak zaman kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang pada 1942.

Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) mencatat, pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci).

Dalam pertemuan itu lahirlah Resolusi Jihad NU 22 Oktober yang menjadi dasar penetapan Hari Santri. Resolusi Jihad punya dampak besar di Jawa Timur.

Pada hari-hari berikutnya, ia menjadi pendorong keterlibatan santri dan jamaah NU untuk ikut serta dalam pertempuran 10 November 1945.

KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001) menjelaskan bahwa hampir bersamaan ketika terjadi perlawanan dahsyat dari laskar santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara Sekutu juga mendarat di ibu kota Jawa Tengah itu.

Dari peperangan tersebut, lahirlah pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu. Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan.

Dengat niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan dan menghentikan ketidakperikemanusiaan penjajah, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu.

Setelah berhasil bergabung dengan ribuan tentara lain, mereka berangkat ke medan pertempuran di Surabaya, Semarang, dan Ambarawa. Namun sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu mampir ke Kawedanan Parakan guna mengisi dan memperkuat diri oleh berbagai macam ilmu kekebalan dari seorang ulama tersohor di daerah Parakan, Kiai Haji Subchi.

Didorong semangat jihad yang digelorakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad NU serta kesadaran agar terlepas dari belenggu penjajahan untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu di Indonesia, Kiai Subchi memberikan bekal berupa doa kepada barisan Hizbullah dan Sabilillah. Tentara Allah itu berbaris dengan bambu runcingnya dan masing-masing mereka ‘diberkahi’ oleh doa Kiai Subchi yang disepuhkan ke bambu runcing.