Denyut Pertembakauan Jawa Timur (5)Namanya Bertanam, Kalau Tidak Untung ya Buntung. Primadona yang Bikin Jantungan Bukan?

06 Jul 2018 14:16 Ekonomi
Bertanam tembakau hasilnya jauh lebih banyak dibanding dengan tanaman di luar tembakau. Bahkan sampai empat kali lipat. Umumnya petani merasa tidak masalah ketika mengalami kerugian karena mereka berharap keuntungan musim tanam tahun berikutnya. Menurut petani, yang namanya bertanam kalau tidak untung ya buntung. Selesai
Ngopibareng.id |

Masih soal tembakau. Sampai dimana isu soal tulisan pertembakauan Jawa Timur? Oh iya, sampai makelar tembakau yang begitu ditakuti oleh petani tembakau. Lalu jurus apa yang pas untuk menghapus ketakutan-ketakutan itu? Entahlah! Selama tembakau masih menjadi primadona ketakutan itu akan tetap bercokol sampai selesai hayat dikandung badan.  

________________

Tidak terlihat di permukaan. Namun fenomena ketakutan di kalangan petani tembakau nyata adanya. Ketakutan itu terpelihara sedemikian rapi sehingga menjadi senjata ampuh untuk menekan kaum petani.

Ketika tembakau dipetik, lalu dijemur selama dua hari, tembakau tidak langsung laku. Masih ada proses lanjutnya. Tembakau kering itu kemudian dibungkus dengan tikar. Pembungkusan biasanya dilakukan pada sore hingga malam hari. Lalu, saat malam hari itulah, sudah ada calon pembeli yang mengintai di depan pintu rumah.

Mereka yang datang itu adalah para bandol maupun tukang tongkok. Tukang tongkok adalah sebutan untuk pedagang yang hanya mengambil keuntungan dari komisi.

Maka, malam itu tembakau harus laku. Jika sampai esok harinya tidak laku, maka petani menjadi resah karena biasanya tembakau akan dipandang sebelah mata oleh pedagang. Istilah di kalangan petani, kalau tembakau kering itu menginap sampai dua hari, maka itu pertanda akan sulit untuk laku.

Ketakutan petani yang lain adalah penerapan standar kualitas yang tidak jelas dari pabrikan. Kualitas tembakau yang ditentukan tanpa adanya standar selalu memberi peluang bagi pabrikan untuk berada di posisi atas.

Petani tidak bisa berbuat apa-apa ketika pabrikan memvonis tembakau ini jelek. Tembakau itu juga jelak. Dan seterusnya.  Ini diperparah lagi dengan terjadinya praktek kecurangan dari bandol atau pembeli di bawah pabrikan.

Produk hilir, cerutu yang masih punya denyut ekspor tinggi. foto:istimewa/goole

Petani biasa menyebut pabrikan adalah gudang atau pemilik gudang. Sedang bandol adalah kepanjangan tangan dari pabrikan. Sementara pabrikan adalah kepanjangan tangan dari pabrik rokok.

Banyak pedagang (bandol) yang membeli tembakau petani dengan harga lebih tinggi dari harga pabrikan. Namun dalam prakteknya, petani dirugikan karena setiap bal, bandol masih memotong "kepala".

Memotong kepala itu artinya: kalau setiap bal beratnya 50 kg maka potongannya 5 kg. Kalau beratnya 40 kg maka dipotong 4 kg. Selain itu masih ada pengurangan berat timbangan rata-rata 3kg per bal. Gila kan?

Akibatnya, untuk satu bal yang beratnya 50 kg petani bisa kehilangan tembakau tak kurang dari 8 kg. Praktik ini dapat terus terjadi karena tidak semua petani bisa menjual langsung ke pabrikan. Kalau mau langsung harus memiliki hubungan dengan orang dalam.

Untuk mengirim tembakau ke pabrikan harus memiliki kartu khusus atau kenal dengan orang dalam itu. Jika melihat tembakau yang datang sangat banyak, pabrikan tak akan kehabisan akal untuk menjatuhkan harga jual tembakau milik petani.

Eksklusif kan kalau sudah siap ekspor begini. foto:istimewa google

Anehnya, para petani tembakau walaupun tidak berdaya dengan main kasar itu, mereka tetap akan menanam tembakau. Mereka tidak akan mau berpindah ke tanaman yang lain. Primadona yang bikin geleng-geleng kepala bukan?

Boleh jadi keenganan mereka untuk berpindah ke tanaman lain karena faktor ketersediaan air. Para petani di Kabupaten Bojonegoro dan Pamekasan sangat merasakan ini. Air pada lokasi lahan tembakau memang sangat sulit didapatkan sehingga tidak memungkinkan mereka untuk berpindah ke tanaman lain yang membutuhkan lebih banyak air seperti padi atau jagung.

Selain itu, hasil dari bertanam tembakau jauh lebih banyak dibandingkan dengan tanaman di luar tembakau. Bahkan sampai empat kali lipat. Umumnya petani merasa tidak masalah ketika mengalami kerugian pada musim tanam tahun ini, karena mereka mengharapkan keuntungan pada musim tanam tahun berikutnya.

Menurut petani, yang namanya bertanam kalau tidak untung ya buntung. Menanam tembakau, tiga kali kerugian akan tertutupi oleh satu kali keuntungan. Karena memiliki pemahaman seperti itu, tembakau tetap menjadi andalan penghasilan.

Namun demikian ada juga  terdapat segelintir petani yang telah merasakan manfaat menanam tanaman di luar tembakau. Sebagaimana terjadi di Kabupaten Jember yaitu dengan mengikuti pola kemitraan tanaman jagung dengan perusahaan. Petani yang tidak mampu bertahan karena dihantui ketakutan biasanya yang menjajal progam kemitraan.

Ada beberapa bentuk kemitraan, yaitu perusahaan menyewa lahan petani dan memperkerjakan petani sebagai pemelihara tembakau di lahan miliknya yang disewa perusahaan. Perusahaan kemudian memberikan hutang sarana produksi kepada petani dan membeli hasil panen petani pada harga yang telah ditetapkan.

Kemitraan dengan sistem sewa seperti yang dilakukan pada pengusahaan tembakau Na-Oogst nampaknya menguntungkan petani karena mereka mendapatkan jaminan pendapatan sekaligus pendapatan tambahan sebagai buruh tani di tanah miliknya sendiri. Tapi kenyataan bicara berbeda.

Meski sarana produksi diberikan sebagai hutang, kelemahan lantas muncul. Perusahaan tetap tidak berpihak kepada petani yaitu dengan mengambil terlebih dahulu hasil panen dari kualitas yang terbaik sebagai pembayaran hutang dan menyisakan hasil panen kemudian dengan kualitas medium sampai tidak baik kepada petani. Setelah yang paling bagus diambil perusahaan, petani baru bebas menjual hasil panennya ke blandang, pengepul/penimbun, pedagang.

Pada gilirannya petani akan menerima harga yang jauh lebih rendah dari harga yang berlaku di gudang. Saat itu bisa saja petani langsung dapat menjual ke gudang, namun pihak gudang akan menerapkan sistem buka tutup yang tidak terjadwal. Sistem ini memungkinkan gudang untuk mempermainkan harga dengan alasan over supply.

Gudang juga tidak memberikan informasi yang jelas tentang hubungan antara harga dengan kualitas tembakau yang dijual petani ke gudang, selain itu muncul cara-cara lain untuk mengurangi jumlah timbangan tembakau petani. (idi/habis)

Editor : widi kamidi


Bagikan artikel ini