Adegan drama lakon Musuh Bersama oleh Gabungan Seniman Teater Jatim, di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jatim, Selasa 27 Maret 2018. (foto: emm/ngopibareng.id)
Adegan drama lakon Musuh Bersama oleh Gabungan Seniman Teater Jatim, di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jatim, Selasa 27 Maret 2018. (foto: emm/ngopibareng.id)

Musuh Masyarakat di Taman Budaya Jawa Timur

Ngopibareng.id Feature 28 March 2018 16:51 WIB

Iklim kesenian Surabaya kembali dihidupkan dengan pementasan teater. Setelah terakhir kali teater digelar bulan Desember  tahun lalu oleh Bengkel  Muda Surabaya di Balai Pemuda, tidak ada lagi pentas teater, hingga Selasa 27 Malam 2018.

Karya Henrik Ibsen yang diterjemahkan Asrul Sani berjudul Musuh Masyarakat, dipentaskan di gedung kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur Jl. Genteng Kali.  Menariknya, yang mementaskan adalah beberapa aktor dan orang teater di Surabaya yang khusus untuk pementasan ini berkumpul  dalam Gabungan Seniman Teater Jawa Timur.

Dalam naskah aslinya yang berjudul En Folkefiende , settting karya Henrik Ibsen berada di sebuah kota di tepi  laut selatan wilayah Norwegia.  Ini termasuk drama klasik abad 19,  ditulis tahun 1882. Henrik sendiri hidup 1828 -1906.

Bercerita tentang seorang dokter idealis,  yang berusaha menyelamatkan sebuah mata air atau sendang dari pencemaran yang berbahaya. Pencemaran itu berasal dari pabrik-pabrik yang ada di kota itu.

Celakanya, usaha dokter idealis itu dihambat oleh walikota yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Sang dokter yakin bahwa air di sumber mata air telah mengandung racun berbahaya dan akan mengungkapkannya di surat kabar. Tetapi walikota berhasil mempengaruhi masyarakat  dengan mengatakan bahwa  adiknya  adalah pembohong.

Maka konflik antara Dokter Waskito (naskah aslinya bernama dokter Thomas Stockman) dan Walikota (dalam naskah asli bernama Peter Stockman), diramu oleh sutradara Harwi Mardianto berdasarkan adaptasi naskah yang dilakukan Rakhmat  Giryadi.

 

Adegan drama lakon Musuh Bersama oleh Gabungan Seniman Teater Jatim di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim Selasa 27 Maret 2018 foto emmngopibarengidAdegan drama lakon Musuh Bersama oleh Gabungan Seniman Teater Jatim, di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jatim, Selasa 27 Maret 2018. (foto: emm/ngopibareng.id)

Pada naskah asli yang diterjemahkan Asrul Sani, cerita berawal dari dialog antara kakak beradik itu. Dari situlah persoalan dimulai, kemudian berkembang ke  adegan-adegan berikutnya. Tetapi di gedung Cak Durasim, cerita justru dimulai dari munculnya masyarakat kota yang memprotes kehadiran penjual air sendang.  Tapi namanya juga adaptasi bebas, maka apa yang ada di panggung tak harus persis dengan naskah asli.

Iringan musik yang digarap secara live oleh Nasar Albatati dan kawan-kawannya cukup mendukung. Dengan dasar kendang, bedug dan kentongan, musik tidak sekadar tempelan saja meskipun tidak  kaya dengan komposisi, bahkan cenderung monoton

Agung Kasa yang memerankan Dalang, bermain dengan enteng tanpa beban. Demikian juga saat dialog, misalnya dialog dengan Dukun Sendang yang diperankan Rusdi Zaki. Dalang benar-benar  bebas seakan lepas dari naskah. Tapi ada kecenderungan mbanyol. Maka apa yang dikatakan Dalang selalu saja mengundang tawa penonton, yang jumlahnya lebih banyak dari pada kursi di gedung Cak Durasim yang berjumlah 412. Para penonton yang sebagian besar adalah kaum muda tertawa terpingkal, sehingga sepanjang pertunjukan suasananya jadi grrr.

Tapi suasana grrr selama pertunjukan yang berdurasi sekitar 80 menit tentu membawa konsekwensi tersendiri. Yaitu Musuh Masyarakat jadi kehilangan ruang yang  memberi kesempatan kepada penonton untuk melakukan perenungan.

En Folkefiende ditulis oleh Henrik Ibsen sebenarnya untuk menyampaikan pesan moral terhadap suatu skandal. Skandal keluarga dimana seorang kakak dan adik berseberangan  untuk saling menjatuhkan. Henrik Ibsen adalah salah satu stratrawan besar Noerwegia, tentu memiliki ketajaman dalam mengkritisi masalah sosial yang terjadi pada masa hidupnya.

Sayangnya, di gedung Cak Durasim, para aktor yang memainkan naskah Henrik terjebak untuk memanjakan penonton dengan gerakan maupun dialog yang mengundang tawa. Dan ini adalah pilihan. Pada akhirnya memang penonton ke luar gedung dengan penuh kepuasan.

Sebelum pertunjukan yang digelar untuk memperingati Hari Teater Dunia ini dimulai, Rakhmat Giryadi mewakili Gabungan Seniman Teater Jatim , menyampaikan terima kasih kepada UPT Taman Budaya Jatim yang telah memfasilitasi pementasan ini. Dia berharap fasilitas UPT Taman Budaya  Jatim bisa dimanfaatkan oleh kelompok teater lain.

Sukatno, Kepala UPT Taman Budaya memang mengakui bahwa pementasan naskah Musuh Masyarakat ini didukung penuh oleh UPT Taman Budaya Jatim, termasuk subsidi untuk produksi. “Kami senang karena tahun ini kita bisa sama-sama memperingati Hari Teater Dunia dengan pementasan Musuh Masyarakat ini,” katanya. (m.anis)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

11 Nov 2019 08:49 WIB

Pentas Teater Gandrik, Kaum Pelajar pun Perlu Nonton

Seni dan Budaya

Kehadiran Teater Gandrik di Surabaya, merupakan kesempatan emas bagi para pelajar.

01 Aug 2018 14:21 WIB

Blackout Munir, Payung Hitam, Pentas Teater

Seni dan Budaya

Teater Payung Hitam dari Bandung sudah lama tidak pentas di Surabaya. Ketika Selasa malam kelompok ini main di Gedung Cak Durasim, kebutuhan batin peminat teater di Surabaya agak terpenuhi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...