Berjemur meningkatkan imunitas tubuh. (Ilustrasi:Fa-Vidhi/Ngopibareng.id)

Berjemur Melawan Covid-19, Ini yang Harus Diperhatikan

Nasional 05 April 2020 14:45 WIB

Virus corona atau covid-19 menjadi pandemi yang mebawah secara global. Berbagai upaya dilakukan agar selamat dari terinfeksi covid-19. Mulai dari anggaran triliunan rupiah, hingga minum jamu dan berjemur, untuk menambah kekebalan tubuh.

Indonesia sendiri telah mengalokasikan 405,1 triliun rupiah sebagai amunisi untuk memutus mata rantai penuluran corona. Akademisi, peneliti, maupun lembaga swadaya, menyarankan mengonsumsi jamu seperti jahe, kunyit kencur, daun sinom dan temu lawak, serta vitamin C untuk meningkatkan imun tubuh.

Ada yang memilih cara yang murah meriah, yakni denga berjemur, untuk mendapatkan asupan vitamin D dari sinar matahari yang memancar pada pukul 10.00 WIB.

Sebagian ilmuwan berpendapat virus corona itu bisa mati dengan sendirinya oleh sinar matahari pada suhu 27 derajat Celsius."Kami bersama tetangga melawan corona dengan berjemur di bawah terik matahari. Kulit jadi gosong nggak masalah yang pentung sehat dan terbebas corona," kata Mariska, yang tengah berjemur bersama keluarga di Kayumanis, Jatinegara Jakarta Tumur, Minggu 5 April 2020. “Kebetulan kami lagi berkumpul”, ujarnya.

Namun, belakangan ini terjadi perdebatan tentang waktu berjemur terbaik. Perdebatan itu ramai diperbincangkan di media sosial. Ada yang menyebutkan waktu yang tepat untuk berjemur adalah di atas pukul 10.00 WIB, untuk mendapatkan hasil vitamin D dari paparan sinar matahari.

Di sisi lain, ada pula yang beranggapan jika sinar matahari yang paling baik untuk berjemur adalah pukul 07.00-09.30 WIB pagi.

Perdebatan itu mengundang kebimbangan di masyarakat, atas saran mana yang sebaiknya dipertimbangkan untuk dilakukan.

Berjemur di bawah sinar matahari menjadi salah satu tren yang saat ini dilakukan untuk mendapatkan kulit yang eksotis. Namun sejak dulu, berjemur terbukti bisa menguatkan tulang karena memberi asupan vitamin D3.

Tapi cahaya matahari yang overdosis dan juga gelombang cahaya matahari yang baru muncul justru memiliki risiko buruk bagi kesehatan?

Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Ahli Gizi dan Magister Filsafat, Dr dr Tan Shot Yen M Hum.

Semua orang dan para ahli sepakat berjemur dibawah cahaya matahari atau ultraviolet, yang diinginkan adalah manfaatnya.

Tan menjelaskan setidaknya ada dua jenis cahaya matahari yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh manusia, yaitu ultraviolet A dan ultraviolet B.

Ultraviolet A ini tidak dibutuhkan oleh manusia, bahkan justru harusnya dihindari karena terpapar secara berlebih dapat menyebabkan kanker dan keriput.

Ultraviolet A umumnya adalah cahaya matahari yang ada di sekitar pukul setengah enam hingga jam tujuh pagi. Tepatnya saat matahari mulai beranjak naik dan gelombang cahaya matahari sedang panjang.

Sedangkan, cahaya matahari atau sinar ultraviolet B merupakan gelombang cahaya yang pendek. Inilah yang dibutuhkan oleh tubuh.

Ultraviolet B bisa Anda dapatkan saat matahari naik yaitu sekitar jam 10 pagi. Akan tetapi, Tan juga mengingatkan setidaknya hanya bisa berjemur badan sekitar 10-15 menit saja. 

Penulis : Asmanu Sudharso

Editor : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

14 Aug 2020 09:18 WIB

Episode Terakhir The K2: Cloud Nine Diledakkan Sung Won

ngopiK-pop

Pertikaian Yoo Jin dan Sung Won berujung peledakan Cloud Nine.

14 Aug 2020 09:12 WIB

Laka Maut di Jember, 5 Korban Meninggal

Nusantara

Ada 5 yang korban luka-luka dan 5 meninggal.

14 Aug 2020 08:10 WIB

Hari ini, Presiden Sampaikan Pidato Kenegaraan di Sidang MPR

Nasional

Pidato kenegaraan disampaikan dalam sidang tahunan MPR RI.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...