Masjid Nabawi, di dalamnya terdapat Makam Nabi di Madinah. (Foto: Istimewa)
Masjid Nabawi, di dalamnya terdapat Makam Nabi di Madinah. (Foto: Istimewa)

Munajat Al-Hujrah As-Syarifah, Ikhtiar Menghentikan Corona

Ngopibareng.id Khazanah 02 April 2020 10:30 WIB

Ada anjuran, sebaiknya umat Islam berdoa di makam Rasulullah di bawah kubah hijau. Sementara jendela kubah di Masjid Nabawi itu dibuka. Sehingga, doa langsung tembus ke pintu langit, sehingga mudah terkabulkan.

Apalagi, di tengah masa darurat Covid-19 alias pandemic Virus Corona. Doa dilakukan semacam itu, pernah dilakukan pada zaman setelah Nabi Muhammad Saw wafat, yakni ketika ada bencana kemarau panjang.

Terkait hal itu, berikut catatan Agus Maftuh Abegebriel, Dubes RI di Ryadh, Arab Saudi, yang menjelaskan soal anjuran Munajat Al-Hujrah As-Syarifah, Ikhtiar Menghentikan Corona. Berikut lengkapnya:

Setahun yang lalu, ketika mendampingi Presiden Joko Widodo sowan Kanjeng Nabi Muhammad SAW di rumah Nabi (Hujrah Syarifah), Imam Besar Masjid Madinah memberikan briefing singkat kepada kami.

Briefing saat di dalam rumah Kanjeng Nabi tersebut berisi: "Berbicara di depan Rasulullah harus dengan suara yang lirih, pelan dan penuh dengan etika tata krama".

Setelah itu, di ruangan yang didominasi kiswah warna hijau tersebut, Sang Imam membimbing kami mengucapkan salam kepada Kanjeng Rasul, lalu Abu Bakar dan Umar bin Khatab.

Munajat artinya adalah berbisik, curhat dan mencurahkan kesedihan sekaligus harapan kepada Allah dan RasulNya sang pemegang syafa’at.

Penulis syarah/eksplanasi Sahih Bukhari, Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani pernah menulis 32 bait untuk curahkan kerinduannya kepada Rasulullah.

Hal yang sama dilakukan oleh al-Fairuzzabadi, penulis kamus al-Muhit dan kamus al-Wasith juga mempersembahkan 14 bait ekspresi kekangenannya kepada Sang Rasul pemilik hujrah syarifah.

34 bait yang saya bacakan ini adalah munajat para ulama kita kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad, di hadapan makam beliau yang dikenal dengan sebutan Al-Hujrah as-Syarifah (Ruangan yang mulia).

Bait-bait munajat tersebut pernah dikupas oleh Al-Allamah Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitab empat jilidnya, al-Majmu’at an-Nabhaniyyah fi al-mada’ih an-Nabawiyyah dan juga oleh Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasaniy dalam kitab Syifa’ al-Fuad bi Ziyarah Khoir al-Ibad. Ibrahim Rifat Pasha juga menyinggung munajat tersebut dalam kitab Mir’at al-Haramain.

Beberapa ukiran bait-bait tersebut masih melekat di Hujrah Syarifah ini baik di bagian luar Hujrah maupun bagian dalam termasuk di Kubah Hijau bagian dalam.

Dua bait yang paling mudah dilihat, terpahat jelas dengan warna emas di dua pilar sebelah selatan hujrah, persis di depan kita ketika mengucapkan salam untuk Kanjeng Nabi Muhammad, Sayyiduna Abu Bakar dan Sayyiduna Umar.

يا خير من دفنت في القاع أعظمـه، فطاب من طيبهـن القـاع والأكـم
نفسي الفـداء لقبـر أنـت ساكنـه، فيه العفاف وفيـه الجـود والكـرم

(Wahai manusia terbaik yang tinggal di hujrah ini, Debu dan bukit Madinah menjadi wangi karena aromamu. Jiwaku akan menjadi tebusan untuk menjaga hujrah yang engkau tempati, karena di dalam hujrah tersebut, ada seorang Rasulullah yang maksum, agung dan mulia).

Ada satu bait yang sengaja saya modifikasi untuk kondisi kekinian dimana seluruh bangsa bersama-sama dalam memerangi virus corona.

إني إذا سامني ضيم يروعني، أقول يا سيد السادات يا سندي

(Ketika kepedihan menerpaku, aku akan curhat: Wahai Kanjeng Nabiku, Wahai sandaranku).

Saya modif menjadi:

إني إذا سامني كورونا يروعني، أقول يا سيد السادات يا سندي

(Ketika virus corona menghajarku, aku akan curhat: Wahai Kanjeng Nabiku, Wahai sandaranku).

Fenomena Corona harus dilihat dari kacamata “scientific cum doctriner” ada wilayah sains keilmuan namun juga ada wilayah doktrin keagamaan. Ada juga wilayah “transcendence” bahwa sudah pasti ada kekuatan di luar alam “musyahadah” (yang kelihatan ini).

Bernostalgia dalam MEMORI BERSANTRI (Bukan Memori Berkasih, lagu Malaysia itu), th 80 an, saya teringat ketika ngaji kilatan kitab Al-Iqna’ fi hall alfaz Abi Syuja’ di Kyai Khudlori, Sari Baru Kaliwungu Kendal.

Dalam halaman awal kitab karya Al-Khatib As-Syirbini tersebut ditulis: Kitab2 suci yang diturunkan dari langit itu ada 104. Suhuf (Kitab) Nabi Syis ada 60, Suhuf Ibrahim 30, Suhuf Musa sebelum Taurat 10, plus Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

104 Kitab suci tersebut semua maknanya terkandung dalam Al-Qur’an. Semua ayat Al-Qur’an terkandung dalam Fatikhah, Fatikhah terkandung dalam basmalah. Basmallah terkandung dalam huruf ba(ب).

Kok, hanya satu huruf? Ya.. As-Syirbini menjelaskan --dengan mengutip Imam Nasafi-- bahwa “huruf ba” tersebut adalah singkatan dari: Bii Ma Kana Wa Bii Ma Yakunu (Sebab AKULAH (ALLAH), segala sesuatu itu telah terjadi, dan sebab AKU (ALLAH), segala sesuatu sedang dan akan terjadi.

Untuk terjemah lengkap 34 bait syair ini, biarlah nanti kawan-kawan / kang-kang santri yang menerjemahkan. Bahasa hati dan rasa menjadi alat utama untuk menerjemahkan teks-teks sastra termasuk sudah barang tentu ilmu philology.

Di pamungkas Munajat tersebut saya tutup dengan dua bait syair:

(Wahai Sayyidku, Rasulullah, pegang dan gengamlah tanganku
Aku tak punya siapa pun selain engkau dan Allah, aku tak akan pernah berpaling kepada siapa pun.
Wahai Sayyidku, Rasulullah, pegang dan gengamlah tanganku
Sungguh tak kuat lagi aku memikul beban kehidupan yang berat ini).

WAHAI RASULULLAH, TUNTUN DAN GENGGAMLAH TANGANKU.

Diplomatic Quarter Riyadh, 1/04/2020

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Nov 2020 05:20 WIB

Sean Connery Meninggal, dari James Bond hingga Gelar Kerajaan

Film

Aktor James Bond, Seam Connery, meninggal dunia.

01 Nov 2020 04:23 WIB

Terdapat Nilai-nilai Pancasila dalam Tradisi Tahlilan

Islam Sehari-hari

Penjelasan KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur

01 Nov 2020 03:42 WIB

Musibah dan Sakit Ternyata Mengurangi Dosa Kita, Ini Haditsnya

Islam Sehari-hari

Pesan Nabi Muhammad Saw kepada umat Islam

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...