Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald J Trump

Melongok Korea Utara di Tengah Mission Kimpossible (1)Mulur Mungkret Pertarungan Dua Pemimpin ''Gila" di Dunia

12 Mar 2018 12:26

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Babak baru hubungan Amerika Serikat dengan Korea Utara mulai terbuka. Presiden Kim Jong Un mengundang Presiden Donald J Trump untuk bertemu. Trump menyanggupinya. Kesediaan Presiden AS yang  terkenal penuh dengan kontroversi ini terungkap setelah pejabat Korea Selatan Chung Eui-Yong mengumumkan di depan Gedung Putih, dua hari lalu.

Sikap Presiden Trum ini langsung mendapat respon beragam dari sejumlah media di negeri Paman Sam. Malah ada yang menuliskan judul besar: MIssion Kimpossible. Tentu ini semacam upaya memplesetkan persitiwa politik internasional itu seperti judul Film yang dibintangi aktor ganteng Tom Cruise Mission Impossible. Inilah film yang menceritakan operasi inteligen yang terkadang tak masuk akal.

Saya tidak tahu mengapa media Amerika merespon rencana pertemuan Trump dengan Kim itu dengan nada skeptis. Apakah betul pertemuan kedua negara yang sedang bersaing soal senjata nuklir itu betul-betul sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi?

Kesediaan Trump bertemu Kim itu terjadi setelah Presiden Korea Utara yang masih muda itu bilang berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi. Kim juga berjanji akan menahan diri untuk uji coba rudal nuklir lebih lanjut. Komitmen Kim itu diungkapkan kepada pejabat Korea Selatan, negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat.

Seperti biasanya, Trump merespon perkembangan sikap Kim itu lewat cuitannya di Twitter. ''Kim Jong Un berbicara tentang denuklirisasi dengan Perwakilan Korea Selatan, bukan hanya pembekuan. Juga, tidak ada pengujian rudal oleh Korea Utara selama periode waktu ini. Kemajuan besar dibuat tapi sanksi akan tetap ada sampai tercapai kesepakatan. Rapat sedang direncanakan,'' katanya.

Bisa jadi, media AS skeptis karena Trump memang sering mengumbar janji yang belum tentu bisa ia penuhi. Apalagi, pernyataan Trump ini langsung ditimpali Sekretaris Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders. Ia bilang pihaknya tidak akan mengadakan pertemuan ini sampai melihat tindakan nyata yang sesuai dengan kata-kata dan retorika Korea Utara. ''Kami belum menentukan waktu dan lokasi,'' tegasnya.

Akankah pertemuan dua presiden dari negara yang sangat terbuka dengan negeri yang penuh ketertutupan itu bisa terjadi? Rasanya masih perlu menunggu perkembangan lebih lanjut. Mission Possible, Mission Impossible, atau Mission Kimpossible?

Sejak uji coba rudal nuklir beberapa waktu lalu, Korea Utara memang sempat membuat was-was para sekutu AS. Jepang dan Korea Selatan utamanya. Mereka lah yang akan menjadi korban pertama ketegangan yang tiada akhir akibat senjata nuklir yang dikembangkan Korea Utara.

Satu-satunya negeri yang sangat tertutup di dunia ini memang menjadikan senjata mereka sebagai amunisi untuk politik internasionalnya. Nuklir ibarat menjadi sandera dunia internasional untuk mengikuti dan selalu was was dengan langkah-langkah Kim Jong Un.

Korea Utara dengan ketertutupannya memang selalu menjadi misteri. Ia negara miskin tapi ditakuti banyak negara. Arus perubahan di sejumlah negara komunis seperti China dan Rusia seakan tidak mengusik negara itu untuk ikut berubah. Keukeuh dengan apa yang diyakini.

Penulis (dua dari kiri) bersama para jurnalis senior saat meliput kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri di Pyongyang, Korea Utara, 2001.

Tahun 2001, saya pernah ke Pyongyang, ibukota Korea Utara, bersama rombongan Presiden Megawati Soekarnoputri. Itulah kali pertama saya mengunjungi negara yang saat itu dipimpin Kim Jong Il, ayah dari Kim Jong Un. Juga merupakan pengalaman pertama saya mengikuti sebuah kunjungan kenegaraan antar negara.

Sebagai bagian dari rombongan presiden, umumnya selalu mendapat perlakuan istimewa di negara tujuan. Sesuatu yang biasanya dilarang untuk warga asing, biasanya diperbolehkan untuk rombongan tamu negara. Tapi hal seperti ini tidak terjadi saat masuk Pyongyang.

Lho? Ya. Begitu mendarat di Bandara militer Pyongyang, sudah mendapatkan perintah agar semua telepon seluler ditinggalkan di pesawat. Semua anggota rombongan tidak boleh membawa alat komunikasi nirkabel itu saat berada di negeri tersebut.

Selama berada di kota yang sepi itu, semua wartawan tidak boleh pergi lebih dari 20 kilometer dari ibukota. Kalau pergi sendiri selalu ada pengawalan dua orang. Seorang dari kementerian luar negeri Korea Utara, seorang lagi tidak jelas. Mereka semacam laison official yang selalu ngintil kami. 

Selama dua hari di Pyongyang saya pun tak pernah bersua dengan Presiden Kim Jong Il, orang paling kuasa di negeri itu. Sungguh negeri penuh misteri. (arifafandi/bersambung)