Muhammadiyah Respon Ijtima Ulama, Haedar: NKRI Sudah Bersyariah

11 Aug 2019 20:13 Nasional

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, konsep NKRI saat ini sudah sarat dengan nilai-nilai syariah. Karena itu, ia meminta tidak ada lagi pertentangan istilah syariah di tengah-tengah masyarakat.

"NKRI itu 'kan sudah lama bersyariah. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Adil Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin Hikmah Kebijaksanaan Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial," kata Haedar dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Minggu 11 Agustus 2019.

Haedar mengungkapkan hal itu, menanggapi Ijtimak Ulama IV yang menelurkan sejumlah rekomendasi berkaitan dengan situasi Indonesia, termasuk mengajak umat Islam mewujudkan NKRI bersyariah berdasarkan Pancasila.

"Nah, maqashid syariah, tujuan syariah, itu 'kan sudah tercakup di dalamnya (Pancasila). Jadi tidak perlu lagi ada idiom-idiom, simbol-simbol, dan konsep-konsep yang makin menjauhkan NKRI ini dari jiwanya, karena hanya berpikir soal nama, soal atribut, soal cangkang, soal kulit," kata Haedar.

Muhammadiyah, lanjut Haedar, sudah final menjadikan Indonesia sebagai darul ahdi wa syahadah, yakni negara hasil kesepakatan bersama yang di dalamnya memiliki Pancasila sebagai ideologi negara.

"Praktikkan saja Pancasila, insyaallah baik syariat Islam maupun syariat agama lain itu akan tercakup di dalamnya. Jadi sudah cukup, kita jangan terus dihadapkan pada pertentangan istilah-istilah," tegasnya.

"Jadi ini saatnya Indonesia mengimplementasikan dan mewujudkan Pancasila. Juga tadi, buat para pejabat juga, mari lebih baik kita gerakkan Pancasila untuk kita amalkan, kita praktikkan termasuk dalam kebijakan," kata Haedar Nashir.

Sementara itu, terkait Idul Adha, umat Islam disyariatkan untuk menunaikan salat Ied di tanah lapang sesuai Sunnah Rasulullah SAW. Selain itu, untuk orang yang lapang pada momen idul adha, disyariatkan untuk menunaikan ibadah kurban.

 

Idul Adha dalam makna menunaikan salat ied maupun juga Idul Adha yang kita kaitkan dengan ibadah kurban, memiliki makna udyah dan kurban. Udyah atau adha yakni hari penyembelihan dan kurban punya makna mendekatkan.

 

“Karena itu baik dalam menunaikan salat ataupun berkurban, setiap Muslim harus semakin dekat kepada Allah SWT, dan berkurban berkhidmat dalam mengaktualisasikan ibadah itu dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Haedar Nashir.

 

Ketika seseorang atau sahibul kurban berkurban, lanjut Haedar, sesungguhnya bukan hanya tentang penyembelihan, tetapi makna di balik itu adalah jiwa berkorban untuk meraih takwa.

 

Haedar juga menceritakan, bahwa ibadah kurban dalam sejarah terkait dengan dua peristiwa, yang pertama Habil dan Qabil putra Adam yang satu sama lain berkurban, yang Habil diterima dan Qabil ditolak. Pada surah Al-maidah ayat 27, peristiwa itu menunjukkan bahwa diterima atau tidak terimanya kurban tergantung pada takwa.