Misi Pratikno Mencari Enam 'Bidadari'

18 Oct 2019 18:07 Ajar Edi
Ujar Ajar

Prof Pratikno dalam dua minggu terakhir ini, jadi orang tersibuk di Istana. Maklum, Menteri Sekretaris Negara ini punya banyak gawe. Yang utama, persiapan pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober nanti.

Selain itu, Pak Pratik, panggilan akrabnya, harus membantu Pak Jokowi. Untuk mencari para menteri. Sesuatu yang khalayak tunggu.

Hanya dia yang menemani Pak Jokowi saat wawancara para kandidat. Mencatat dan turut memberikan masukan. Juga jadi penghubung dengan para ketua umum (Ketum) partai politik (Parpol).

Salah satu misinya, mencari enam “bidadari” baru. Tapi, mantan Rektor UGM ini, tak mungkin meniru perilaku Jaka Tarub, legenda dari Jawa Timur itu. Jaka Tarub mengintip tujuh bidadari yang tengah mandi di kali.

Lantas, mencuri pakaian salah satu dari mereka. Lalu, menjadikannya istri. Karena bidadari yang dicari Pak Pratik adalah kandidat menteri dari kaum hawa.

Dia—dengan dibantu orang terdekat, telah memberikan analisa ke Pak Jokowi. Menyorongkan daftar panjang perempuan yang layak. Tentu banyak parameternya.

Yang utama, bisa diterima semua kalangan. Sehingga mengurangi beban Pak Jokowi. Di kabinet periode Pak Jokowi-Pak JK, ada delapan perempuan sebagai menteri.

Pak Jokowi, dikabarkan, masih ingin menjaga komposisi itu. Terbaru, hanya dua nama yang kembali bergabung. Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan dan Ibu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri.

Enam lainnya? Ada yang sudah mulai aktifitas anyar, seperti Mbak Puan Maharani yang jadi Ketua DPR RI. Sisanya ya siap-siap balik ke aktifitas lama.

Yang pasti, negara sebesar Indonesia tak kekurangan kandidat perempuan berprestasi. Mereka yang mampu berkontribusi. Memberikan nilai tambah bagi pembangunan negeri.

Bisa saja dari kalangan akademisi. Purnawiran atau yang masih aktif di TNI dan Polisi. Para politisi pasti dengan suka hati. Atau birokrat berprestasi.

Cuma, masuk kandidat menteri harus lolos screening banyak hal. Kalau dari kalangan profesional, rekam jejaknya harus jelas terpampang. Atau, dia disokong organisasi sosial yang besar.

Masih ada urusan keterwakilan agama atau suku. Memang, dukungan Pak Jokowi tentu paling penting. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, membagi komposisi pembantunya baik dari kalangan Parpol dan profesional.

Yang utama, para Ketum Parpol sudah menyodorkan daftar kandidat. Termasuk Gus Abdul Muhaimin Iskandar (AMI), bos PKB itu. Berulang kali, PKB sudah tegas meminta jatah enam menteri.

Konon, Mbak Ida Fauziyah jadi salah satu “bidadari” yang dipilih Pak Jokowi. Mantan calon Wagub Jateng ini, diplot menduduki kursi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mengantikan Mama Yohana Susana Yembise, guru besar perempuan pertama dari Papua.

Dari PDI Perjuangan, Ibu Megawati sudah merestui Ibu Tri Rismaharini untuk duduk di kabinet. Posisinya? Masih belum jelas. Dia mengisi jatah PDI P yang dulu diberikan untuk Ibu Susi Pudjiastuti.

Bisa jadi banyak yang kecewa, bila Ibu Susi terpental dari kabinet. Namun, kalau jeli melihat pemberitaan media, ini bisa dimaklumi. Selama perjalanan karirnya jadi Menteri Kelautan, kiprahnya tak lekang dengan konflik.

Baik dengan sesama menteri di kabinet, juga dengan sebagian kelompok nelayan Pantura yang tak suka dengan kebijakannya. Namun, karena Ibu Susi adalah kesayangan media, Pak Jokowi sepertinya tak tega mereshuflenya di tengah jalan.

Sebagai orang Solo, Pak Jokowi sangat menghindari munculnya beragam konflik. Dia lebih menyukai harmoni. Kondisi ketenangan yang bisa dijadikan energi postif.

Tentu kita masih ingat, saat Menteri Sudirman Said berkonflik dengan Menko Rizal Ramli. Keduanya terpental dari Istana. Apalagi, Pak Rizal Ramli juga sempat berkonflik terbuka dengan Pak JK, untuk urusan listrik.

Ada juga, konflik Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dengan Menteri BUMN Rini Soemarno. Urusan kereta cepat Bandung-Jakarta. Pak Jonan sempat kena reshuffle, beruntung, selepas pulang dari Vatikan, dia dipercaya lagi jadi Menteri BUMN.

Nama lain di kalangan khalayak yang ramai diperbincangkan adalah Grace Natalie. Ketua Umum PSI ini, memang salah satu suporter Pak Jokowi. Secara terbuka, mantan jurnalis ini, mengakui siap kalau diminta menjadi menteri.

Untuk nama kandidat “bidadari” dari kalangan birokrat, muncul nama Mbak Rosarita Niken Widiastuti. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika ini, sudah menyambangi Istana. Kalau dia dipercaya, bisa jadi posnya tak jauh dari bidang yang kini digeluti.

Dari kalangan organisasi masa, nama yang kuat adalah Mbak Yenny Wahid. Putri mantan Presiden Abdurahman Wahid ini, digadang-gadang ikut membantu di kabinet. Pasalnya, dia juga ikut berkeringat memenangkan Pak Jokowi.

Di masa kampanye lalu, dia mengerahkan segala upaya. Yang luar biasa adalah perayaan Hari Lahir ke 73 Muslimat Nahdlatul Ulama. Sebagai ketua panitia, dia kumpulkan lebih dari seratus ribu ibu anggota muslimat di Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu, 27 Januari 2019.

Pada pengumuman kabinet pertama, Pak Jokowi membuat sejarah. Memilih Ibu Retno jadi perempuan pertama yang duduk jadi Menteri Luar Negeri. Apakah di periode ke 2, juga akan ada sejarah lagi?

Akan sangat menarik bila Pak Jokowi memilih Mbak Yenny, sebagai Menteri Pertahanan. Ini jadi sejarah juga. Menjadikannya sebagai perempuan pertama sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).

Sebelumnya, sejarah sudah dibuat Gus Dur. Mantan Ketum PBNU ini, memilih Pak Joewono Soedarsono duduk di kursi Menhan. Dia tercatat sebagai orang sipil pertama di kursi itu.

Kursi Menhan memang penting. Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri, Menhan menjadi pelaksana tugas kepresidenan bila presiden dan wakil presiden berhalangan tetap. Ini sesuai aturan konstitusi kita.

Karena pentingnya posisi itu, kabarnya Partai Gerindra juga berminat. Bahkan, rumor yang beredar, Pak Prabowo Subianto mau menduduki kursi itu. Selain itu, bisnis Alutista di Kementerian Pertahanan, bak gula yang menarik banyak semut.

Memang, dengan merapatnya Partai Gerindra, nama kandidat menteri makin dinamis. Belakangan, Partai Demokrat dan Partai PAN juga siap bergabung dengan pemerintah. Jika ini diakomodasi, jatah kursi menteri dari parpol makin mengecil.

Kabarnya, PKB hanya akan dapat dua posisi menteri. Selain Mbak Ida, ada Cak Hanif Dhakiri yang kembali menduduki posisi Menteri Tenaga Kerja. Putra mantan TKI ini, dianggap sukses mengelola hantaman para buruh selama lima tahun ini.

Untuk PPP, tetap satu menteri. Masih mengincar posisi di Kementerian Agama. Kandidat yang disorongkan adalah Cak Moh. Arwani Thomafi.

Gus Aang, panggilan karib Thomafi ini anggota DPR-RI (2014-2019). Dia mewakili Dapil Jawa Tengah III (Blora, Grobongan, Pati, dan Rembang). Politisi muda ini putra almarhum tokoh PPP K.H. Thoyfur.

Konon, nama ini disorongkan langsung oleh (alm) KH Maimoen Zubair, ulama kharismatis ke Pak Jokowi. Ketua Majelis Syariah PPP ini menyampikannya sebelum berangkat haji dan meninggal dunia di Mekkah pada 6 Agustus 2019.

Perubahan konstelasi politik membuat penyusunan kabinet harus dipikir matang. Biar tak ada konflik lagi. Kabarnya, Pak Jokowi sudah menyiapkan 10 posisi wakil menteri (Wamen).

Untuk memfasilitasi permintaan para pendukungnya. Baik politisi, militer, Polisi, relawan, hingga profesional. Kabarnya, Pak Budi Gunadi Sadikin akan menduduki kursi Wamen BUMN. Pak Budi ini datang dari kalangan profesional.

Kini, dia adalah Dirut Inalum, salah satu tokoh kunci pengambilalihan 51 persen saham Freeport Indonesia. Pak Budi, sebelumnya adalah staff khusus Menteri BUMN Rini Soemarno. Bisa jadi, posisi ini kompensasi kalau Ibu Rini juga tak dipilih jadi pembantu presiden lagi.

Mohon dipahami, urusan “bidadari” dan nama menteri ini semua hanya bersandar pada konon, kabar, dan rumor. Semua masih bisa berubah hingga 20 Oktober 2019. “Sabar! Sebentar lagi,” tulis Pak Jokowi di media sosialnya.


Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini