Mirip Krengsengan, Tapi Bukan! Ini Nasi Osik Sepanjang

27 Apr 2019 08:39 Kuliner

Osik. Entah apa artinya. Kalau kosik banyak orang Jawa yang paham. Karena memang kosakata bahasa Jawa. Kosik itu pembacaan pendek dari mengko disik. Artinya, nanti dulu. Bisa juga, tunggu sebentar. 

Apakah osik ada hubungannya dengan kosik? Rasanya tidak! Osik nama panganan. Sementara kosik hanya kosakata bahasa Jawa. Diperpendek pula. Dikorupsi beberapa hurufnya. Pada penggalan katanya. (Sayangnya, ini jenis korupsi yang tidak memberatkan).

Tapi kalau kosik dan osik nekat dihubung-hubungkan, tetap bisa saja. Misalnya begini: "Bu saya osiknya dua ya, es tehnya agak cepat sedikit ya bu, ini tadi ambil jajan terus kesereten," kata seorang pembeli.

Bu Aliyah, penjual nasi osik pun, karena sedang ramai pelanggan, sementara tak ada yang membantu berjualan, menjawab, "Kosik yo mas. Antri sedikit lagi. Sabar sebentar ya. Atau kalau kesereten ambil sendiri minumnya boleh saja."

Nah, begitu bentuk nekatnya. Maka, memang sebaiknya segera ambil minum kalau kesereten makanan. Bisa mengganggu jalan pernafasan.

Jangan biarkan menunggu kalau selera sudah di kepala ambil sepeda motor keluarkan mobil dari garasi ambil ponsel dengan aplikasi wussss segera beli ya FotoIstimewaHappy Suhadi Instagram
Jangan biarkan menunggu kalau selera sudah di kepala, ambil sepeda motor, keluarkan mobil dari garasi, ambil ponsel dengan aplikasi, wussss segera beli ya. (Foto:Istimewa/Happy Suhadi Instagram)

Ini nasi osik kreasi Bu Aliyah. Di Sepanjang. Persisnya di Jalan Raya Bebekan No 3-7, Bebekan, Taman, Sidoarjo. Suatu waktu, food stylist keren Surabaya, Happy Suhadi, menjajalnya. Kata dia, cocok juga kuliner malam satu ini. Tampilannya sedikit mirip dengan nasi krengsengan, tapi dia bukan krengsengan. Bumbunya beda.

Nasi osik yang sekilas mirip nasi krengsengan itu dijadwal buka setiap hari. Hanya malam hari lho. Jadi jangan sampai kesasar waktu bila ingin mencari sensasinya. Hebatnya, Bu Aliyah ini buka sampai subuh. Mulai bukanya jam 21.00-04.00. Waktunya cukup panjang, jadi tak perlu kesusu

Menurut Bu Aliyah, osik memang bukan krengsengan. Niatnya juga bukan jual nasi krengsengan. "Kalau dikatakan mirip sih oke saja. Tapi aslinya sama sekali tak mirip kok. Wong bumbu dasarnya juga berbeda. Kalau jual nasi krengsengan sudah banyak, jadi kita nggak jualitu. Kita jualan pakai resep keluarga saja," kata Bu Aliyah.

Happy Suhadi menyebut, kuliner osik ini bisa jadi alternatif kuliner malam hari. Kebanyakan kuliner malam itu hanya pecel lele, penyetan ayam, bebek goreng, nasi goreng, dan sejenisnya. Nah ada osik ini, bisa jadi pilihan. 

"Kalau saya, taste sambelnya agak asin. Kalau bumbunya sih tak masalah, seperti ada taste karenya. Nasi disiram bumbu gitu. Topingnya ini yang bisa bikin sensasi. Lauk maksudnya. Bisa lidah sapi goreng. Bisa empal. Otak sapi. Tapi awas ya bagi yang takut kolestrol hahahaha. Jangan khawatirkan harganya, cukup 20K bisa nambah lauk itu. Bisa juga sih kalau mau lebih hemat lagi, pesen nasi dan siram dengan kuahnya saja, tanpa lauk hahahahaha " canda Happy Wahyuni Suhadi. (idi)

 

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini