Mimpi Menteri Retno Marsudi

20 May 2019 09:33 Ajar Edi
Ujar Ajar

Mei ini, jadi bulan yang sibuk bagi Menteri Retno Marsudi. Dia harus bolak balik Jakarta New York. Karena duduk sebagai Presiden Dewan Keamanan (DK) PBB untuk sebulan ini.

Dengan ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang memucak, dia harus berpikir seribu kali. Apalagi ditambah gejolak politik Venezuela. Kalau semua memburuk, bisa jadi, dia harus sebulan penuh di New York. 

“Harus mempimpin sidang DKK PBB,” ujar Menteri Retno, di acara town hall Hari Kartini di sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Jabatan Presiden DK dipegang setiap anggota bergantian. Selama satu bulan, berdasarkan urutan alfabet nama negara.

Kehadiran Indonesia di DKK PBB, tentu membawa warna baru. Sentuhan perempuan, membuat arena diplomasi diwarnai sesuatu berbeda. Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia itu membuktikannya.

Pada rapat Debat Terbuka (Open Debate) yang digelar di markas besar DK PBB di New York pada Selasa, 7 Mei lalu ditandai dengan batik dan tenun. Para diplomat negara anggota, hadir mengenakan batik. Tak terkecuali Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang memilih tenun motif troso cerah. 

Sebelumnya, pada Januari lalu, Indonesia resmi terpilih anggota tidak tetap DKK PBB. Selama dua tahun. Dari 1 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020. 

Seremoninya ditandai dengan pemancangan sang saka merah putih. Di markas PBB pada Rabu, 2 Januari lalu. “Sebenarnya itu buah perjalanan panjang,” ungkap lulusan UGM ini. 

Ternyata, untuk meraih kepercayaan itu, tak semudah membalikkan telapak tangan. Selama tiga tahun, Menteri Retno dan para diplomat kita berkampanye. Meyakinkan anggota PBB lain. Bahwa Indonesia layak mengemban amanah itu.

Banyak mimpi Menteri Retno Marsudi. Salah satunya, bekerja keras menjaga perdamaian dunia. Dengan memperkuat ekosistem perdamaian dan stabilitas global. Di benaknya, pada titik ini, perempuan punya peran besar. 

“Kita ingin meningkatkan kapasitas pasukan perdamaian PBB. Dengan memperbanyak juru damai perempuan,” cetusnya. Dirinya meyakini, kehadiran Indonesia akan meningkatkan kekompakan antara organisasi di kawasan, dengan PBB. 

Ternyata, untuk meraih kepercayaan itu, tak semudah membalikkan telapak tangan. Selama tiga tahun, Menteri Retno dan para diplomat kita berkampanye. Meyakinkan anggota PBB lain. Bahwa Indonesia layak mengemban amanah itu.

Juga mampu terus mendorong pendekatan global yang komprehensif. “Untuk memerangi terorisme dan radikalisme,” tegasnya. Yang juga jadi perhatian seriusnya adalah isu Palestina. Seturut menggiatkan pembangunan berkelanjutan.

Sebagai perempuan Indonesia, semangat Kartini sangat dijiwainya. Memastikan, perempuan punya hak yang sama besar dalam menjaga perdamaian. Memiliki kesetaraan.

Berbicara Kartini, tentu banyak tokoh perempuan di Indonesia dengan beragam perjuangan. Melawan penjajah hingga menegakan pendidikan, juga kesehatan di setiap gerak jaman. Serta mereka yang hingga kini terus bekerja mewujudkan kesetaraan.

Ada satu tokoh fiksi perempuan, yang juga layak diperbincangkan. Dia yang terus bergulat dalam beragam penderitaan. Namun nyala api perjuangannya tak pernah padam, melawan penindasan. 

Nyai Ontosoroh, tokoh dalam tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Saat masih muda, dia dijual ayahnya. Lantas dijadikan gundik. Dalam kelindan kesedihan, dia bekerja keras melengkapi dirinya. 

Belajar berhitung, membaca, berniaga, belajar hukum, serta belajar berdiplomasi. Semua untuk melawan kuasa ketidakadilan yang dideritanya. Mengubah steorotip gundik, yang tak dipandang dalam status sosial masyarakat, menjadi ada. 

Sebagai perempuan Indonesia, semangat Kartini sangat dijiwainya. Memastikan, perempuan punya hak yang sama besar dalam menjaga perdamaian. Memiliki kesetaraan.

Ada kekuatan lainnya. Dia menginspirasi. Memberi kekuatan kepada Minke untuk terus melawan semua ketidakadilan. Terus menulis menyuarakan kemerdekaan bangsanya. 

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” ucap Nyai Ontosoroh kepada Minke.

Karya, kiprah, dan inspirasi adalah pembeda buat siapa saja. Baik perempuan atau laki-laki. Kiprah yang membuat kita berdaulat dan nyata perannya.

Kembali ke Ibu Retno. Dalam kehidupan sehari-hari, dia meyakini, keberagaman adalan kunci. Di matanya, penghargaan atas perbedaan adalah modal dasar. “Bukan sebagai pembeda atau pemecah belah,” tambahnya.

Berbagi, bekerjasama adalah hal penting dalam mewujudkan kesetaraan perempuan. Contoh sederhana adalah dalam kehidupan  keluarganya. Memastikan peran tanpa melihat pembeda nan tradisional serta konvesnional.

Namun, ada tiga hal yang dia tak mau berbagi dengan laki-laki. “Mengandung, melahirkan, serta menyusui,” guraunya.

Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini