Herlina ketika membuat kerajinan dari daun agel. (Foto: Istimewa)

Miliki Hak Paten, Lyena Craft Siap Tembus Pasar Eropa

13 May 2018 16:08

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Serat daun atau tali agel dikenal sebagai daun yang kuat.  Serat daun ini, seringkali dipergunakan untuk menghela kapal laut dengan bobot ribuan ton. Namun ditangan Herlina Tresnayati, serat daun yang memiliki nama latin Corypha utan ini, dijadikan kreasi handycraft dengan desain model yang cantik.

Usaha yang dirintis Herlina sejak Juni 2007 ini bermula dari rasa kepeduliannya pada warga Madura yang jadi pengungsi akibat kerusuhan Sambas, Kalimantan, tahun 2000. Saat itu, ada sebanyak 375 kepala keluarga yang direlokasi dan dibangunkan tempat tinggal di Desa Klebun, Kecamatan Sepulu, Bangkalan.

Terdorong rasa simpati dan empati, Herlina pun mendaftar sebagai relawan di Yayasan Sumbangsih Nuansa Madura. Basic ilmu keperawatan yang  ia miliki menempatkannya sebagai tenaga pendamping kesehatan.

Di tengah kosongan waktunya, para pengungsi diajari cara membuat membuat serat agel. Daun yang dianggap hama oleh warga setempat karena tidak memiliki nilai guna. Di tangan Herlina, tangkai daun agel diolah menjadi serat yang kuat dan elastis. Lilitan serat agel inilah yang dijadikan bahan berbagai macam kerajinan tangan, mulai tas, topi, kotak tisu, sampai tatakan gelas.  

“Akhirnya keterusan dan berjalan sampai sekarang,” ungkapnya. 

Kerajinan dari serat daun agel. (Foto: Istimewa)

Tak disangka usaha dari kerajinan daun agel yang ia beri nama Lyena Craft ini terus berkembang. Berawal dari Bangkalan dan sekitarnya, kerajinan buatan Herlina sudah merambah Surabaya, Banyuwangi dan Bali.  

Tak ingin usaha yang ia rintis bertahun-tahun dibajak pihak lain, Ibu satu anak ini telah mengantongi surat Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Depkum dan HAM Republik Indonesia. Surat itu menyatakan,  Herlina Triesnayati sebagai pencipta sekaligus pemilik hak cipta Tas Agel Bangkalan. Surat paten ini diterima pada 13 Agustus 2015 lalu.

“Alhamdulillah, saya kini bisa lebih tenang. Sebelumnya sempat dihantui rasa was-was. Bagaimana tidak, jangankan produk beginian, tempe saja dibajak orang,” ujarnya.

Bahkan, sejak memiliki hak paten, usaha Herlina ini telah menembus pasar Amerika Serikat, Jepang serta China. Ia pun optimis jika usahanya bisa menembus pasar Eropa.

“Tahun ini saya ingin masuk pasar Eropa,” tandas ibu satu anak ini, optimistis.

Dengan hak paten di tangan, Herlina semakin percaya diri mampu mewujudkan mimpi tersebut. Apalagi Semen Indonesia memberi dukungan penuh, baik berupa pinjaman modal usaha maupun pendampingan.

“Termasuk dukungan dalam pengurusan hak paten ini. Semua ditanggung oleh Semen Indonesia. Kalau saya sendiri, nggak kebayang bisa dapatkan (paten) seperti ini,” tandasnya.

Dari usaha kerajinannya ini, Herlina bisa mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan. (amm)