Rumah Budi Satrio di Puri Maharani Masangan Sidoarjo. (Foto: Amir/ngopibareng.id)
Rumah Budi Satrio di Puri Maharani Masangan Sidoarjo. (Foto: Amir/ngopibareng.id)

Metamorfosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis

Ngopibareng.id Feature 04 June 2018 12:43 WIB

Sosok teroris selama ini hampir selalu digambarkan dengan sosok yang tertutup dan asosial dengan dengan tetangga. Benarkah?

Sigit Priyadi adalah tetangga samping kiri persis rumah Budi Satrio di Perumahan Puri Maharani, Masangan Sidoarjo. Sedangkan Budi Satrio adalah Wakil Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Dia tewas ditembak di rumahnya saat akan ditangkap oleh Densus 88 pada 14 Mei 2018 lalu.  

Seingat Sigit, Budi mulai pindah ke rumah kelas menengah ke atas ini sekitar tahun 2005 atau 2006. Awalnya Budi Satrio pernah bekerja di sebagai guru di salah satu sekolah Islam favorit di Surabaya. Namun dia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai guru. Setahu Sigit, Budi akhirnya menekuni dunia bisnis. Bisnisnya adalah industri rumahan pembuatan sabun dan wewangian. Budi sering menawarkan produknya ke tetangga sekitar.

“Para tetangga semakin percaya jika Budi punya bisnis bikin sabun. Samping rumahnya itu, ada alat untuk mencampur sabun,” kata Sigit.

Dalam keseharian, Sigit juga dinilai bukan sebagai sosok yang tertutup sekali. Dia juga bergaul dengan tetangga sekitar. Bahkan pada saat pindah ke perumahan ini, para Bapak dulu punya agenda main futsal. Budi bahkan terlibat di dalammnya.

“Dia juga ikut main futsal dengan Bapak-bapak juga. Sekarang kegiatan itu memang sudah berhenti, karena nafas para Bapak sudah ga kuat lagi,” ujar Sigit.

Budi juga dikenal sebagai tetangga yang toleran dengan aktivitas tetangga lain. Salah satunya, dulu bapak-bapak di perumahan ini setiap malam kumpul bermain kartu remi. Budi, meski tak ikut main, tapi dia juga tetap keluar rumah, sekedar setor muka jika Bapak-bapak gelar permainan.

“Rumah saya dulu juga buat nge-band. Saya izin Pak Budi. Terganggu apa tidak? Dia malah katakan, wah enggak Pak. Saya malah suka musik rock kok,” ujar Sigit.

Sigit Priyadi adalah tetangga bersebelahan dengan rumah Budi Satrio di Perumahan Puri Maharani Masangan Sidoarjo Foto AmirngopibarengidSigit Priyadi adalah tetangga bersebelahan dengan rumah Budi Satrio di Perumahan Puri Maharani, Masangan Sidoarjo. (Foto: Amir/ngopibareng.id)

Sigit terakhir bertemu dengan Budi, Senin 14 Mei 2018, sekitar jam 05.30 WIB. Saat itu Budi berboncengan mengantar dengan istrinya bekerja. Sembari berboncengan, itu mereka juga membawa daun paleman-paleman kering untuk dibuang.

“Saat papasan itu, saya sungkan mau menyapa. Karena mereka berdua terlihat sedang tertawa-tawa kecil. Seperti lagi bahagia begitu,” ujar Sigit.

Sigit tak menyangka, jika dua jam setelah pertemuan itu, banyak polisi yang berkerumun di depan rumahnya. Di sela-sela kerumunan itu, dia mendengar jika Budi Satrio telah tewas ditembak polisi.

Dari gambaran sosial dua tokoh Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya ini, setidaknya warga dikejutkan dengan profil mereka. Stigma sosok teroris yang berkembang selama ini selalu diidentikan dengan sosok pendiam dan tertutup, tak mau bersosialisasi dengan tetangga. Mereka para pelaku teror juga diidentikan dengan warga pendatang dan gemar pakai berbaju Islami.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Rudi Setiawan pun menyebut pribadi yang sudah terpapar paham radikal, umumnya mereka tertutup dari lingkungan dan enggan bersosialisasi. Kemudian memiliki riwayat tinggal berpindah-pindah. Mereka juga bertolak belakang dengan cinta tanah air.

Ini disampaikan oleh Kombes Rudi Setiawan dalam acara silahturahmi dengan Ketua RT, RW, Lembaga Ketahanan Masyarakat Kota (LKMK) pasca kejadian bom bunuh diri. Dalam acara ini Rudi meminta kepada warga untuk ikut mendeteksi keberadaan orang-orang yang dianggap mencurigakan.

Apa yang disampaikan oleh Rudi Setiawan ini sebenarnya terbantahkan dengan sosok dua pentolan JAD Surabaya ini. Paham radikalisme ternyata bisa menyebar ke siapa pun, termasuk orang-orang yang tak pernah kita bayangkan bakal terlibat dalam terorisme. Dua orang pentolan JAD itu termasuk orang yang ramah dan gaul kepada tetangga.

Pelibatan warga masyarakat untuk mendeteksi keberadaan orang-orang yang mencurigakan sebagai teroris, dianggap aktivis Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya Fatkhul Khoir malah bisa terjebak kepada stigma negatif.

“Jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, ujung-ujungnya malah bisa jadi stigma. Mentang-mentang berjenggot dan pakai baju gamis dianggap teroris. Mentang-mentang pakai cadar, dianggap istri teroris. Padahal bukan begitu,” kata dia.

Pelibatan warga dalam aksi mencegah terorisme kata dia sebenarnya juga penting. Namun dalam batas tertentu. Kata dia, tak bisa aparat menyalahkan warga sekitar karena ada tetangganya yang terlibat dalam terorisme.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh budayawan Nahdlatul Ulama (NU), Riadi Ngasiran. Kata dia, jangan sampai warga terjebak pada stigma teroris hanya berdasarkan tampang dan pakaian yang ia kenakan.

Ia mencontohkan, dalam tubuh NU sendiri yang selama ini dikenal lebih lembut dalam berdakwah, ternyata ada juga yang mewajibkan memakai cadar untuk para santri perempuannya. 

"Pesantren NU juga ada yang memakai cadar. Tapi apakah mereka kemudian menjadi radikal saat pakai cadar? Tidak juga," ujar Riadi.

Oleh karena itu, dia mengingatkan kepada warga agar tak salah kaprah dalam menilai keberagamaan seseorang. Hanya karena dia memakai cadar atau gamis dia dianggap teroris. Kata dia, untuk mendeteksi seseorang berpotensi menjadi teroris sebenarnya bukan dilihat dari cadar, gamis atau celana cingkrang yang ia kenakan. Tapi diilhat dari paham yang ia anut dan percayai.

"Kalau dia anut paham yang selalu menyalahkan kelompok lain dan suka menghujat, maka saatnya untuk berhati-hati," ujar Riadi.

Pengamat terorisme Al-Chaidar juga mengatakan, deteksi dini untuk mencegah terorisme tak bisa hanya dengan menempelkan stigma pelaku, jika ada laki-laki berjenggot dan pakai baju gamis sedangkan perempuannya memakai cadar, adalah teroris.

Kata dia, upaya untuk menekan aksi terorisme itu lebih efektif jika dilakukan dengan cara melalui counter wacana dari paham radikal yang berkembang dalam kelompok-kelompok tertentu.  Menurut dia, cara ini sebenarnya sangat efektif.

“Dalam skala kecil, saya sudah melakukannya bersama dengan Universitas Indonesia. Namun sayangnya, gerakan semacam ini masih belum masif dilakukan,” ujar dia.

Kata dia, masih diperlukan kepedulian dari pemerintah untuk melakukan counter wacana terhadap paham-paham radikal secara lebih masif. Sayangnya, dia menilai hingga saat ini pemerintah belum menaruh perhatian pada model pencegahan aksi terorisme semacam ini. (Habis).

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Jun 2018 12:23 WIB

Metaformosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis

Feature

Sosok teroris selama ini hampir selalu digambarkan dengan sosok yang tertutup dan asosial dengan dengan tetangga. Benarkah?

19 May 2018 10:35 WIB

Legislator Usulkan Sekolah di Surabaya Terapkan "Home Visit"

Surabaya

Program dianggap "home visit" ini lebih efektif dalam rangka mendekatkan guru sebagai orang tua di sekolah dengan orang tua yang ada di rumah

18 May 2018 17:24 WIB

Aman Abdurahman Pipis di Celana saat Dengar Jaksa Menuntut Mati

Nasional

Mendengar tuntutan Jaksa, Aman Abdurrahman, gembong teroris ISIS di Indonesia tampak panik dan menggeser posisi duduknya

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...