Merindukan Islam yang Hanif dan Menyejukkan

29 Oct 2018 13:38 Erros Djarot

Dalam berbagai catatan sejarah, perkawinan antara kekuatan masyarakat agamis (Islam) dan kaum Nasionalis merupakan perpaduan kekuatan yang menjadi cikal bakal dari fondasi kekuatan rakyat Indonesia yang sejati. Gabungan dua kubu kekuatan inilah yang memberi andil sangat besar bagi terwujudnya kemerdekaan Indonesia sebagai negara bangsa.

Perpaduan kekuatan ini pulalah yang menjadi dasar tali pengikat persatuan rakyat Indonesia. Islam sebagai agama pemersatu, sekaligus juga sebagai tuntunan bersatunya kekuatan rakyat, telah teruji oleh sejarah.

Dalam catatan sejarah pun, para pendiri bangsa Indonesia didominasi oleh sederet tokoh dan pejuang dari dua kubu kekuatan ini (Islam-Nasionalis). Tercatat dengan tinta emas bagaimana kaum agamis memuliakan agamanya dengan memanifestasikan pemahaman agama dan ketauhidan mereka lewat perjuangan memuliakan kemanusiaan, membangun peradaban dengan cara memperjuangkan kemerdekaan dalam upaya mengangkat harkat dan derajat rakyat Indonesia.

Dari yang terjajah menjadi merdeka, dari yang buta di berbagai cabang kehidupan menjadi melek dan tercerahkan, dari yang terkurung dalam pembodohan dibebaskan dan menjadi cerdas, dan demikian seterusnya.

Itulah sebabnya di masa lalu, kehadiran Islam sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, sangat terasakan. Di samping terasakan hadir sebagai agama yang menyatukan rakyat dalam persatuan dan persaudaraan, peradabannya telah menempatkan kebhinekaan sebagai anugerah dan justru kekuatan bangsa Indonesia.

Maka Islam yang tumbuh di Nusantara ini, begitu dikagumi oleh dunia. Sebagai agama kaum mayoritas, ia mampu mengayomi agama kaum minoritas dengan menciptakan kerukunan kehidupan beragama. Berbagai aliran dan mashab yang eksis di dalam dunia Islam di Nusantara ini, bukan menjadi masalah yang dipersoalkan dan dipertentangkan, tapi sebaliknya justru ditumbuhkan dalam kerukunan hingga menjadi kekayaan yang menguatkan. Peradaban Islami yang hadir pun menguatkan pandangan bahwa Islam benar adanya sebagai agama yang rahmatan lilalamin.

Maka ketika Islam di Nusantara ini, terlepas dan terserabut dari akar kesejarahannya, dipastikan ia akan terserabut pula dari peran strategisnya sebagai perekat, pemersatu, dan sumber kekuatan rakyat yang sejati. Dan ketika kaum muslimin dan muslimah Indonesia bergerak meninggalkan ke-Indonesiaannya, berikut budaya daerah yang membesarkan dan menghidupkannya, maka dipastikan ia akan hadir dengan wajah yang asing dari identitas dirinya sebagai perekat, pemersatu, dan agama penebar pencerahan yang sejuk dan mencerdaskan. 

Bila belakangan ini sejumlah organisasi yang mengusung bendera Islam kehadirannya justru menebar keresahan dan hawa panas yang jauh dari kesejukan, jangan-jangan hal yang dikhawatirkan sebagaimana uraian di atas tengah terjadi. Apalagi ketika kehadiran dan geraknya cenderung mengancam persatuan dan persaudaraan antar sesama anak bangsa, dan bahkan antar sesama kaum muslim sendiri, jelas dan pasti ada yang tidak beres dengan negeri ini. 

Dipastikan kehadiran dan gerakan yang demikian ini sangat ahistoris. Apalagi bila referensi menumbuh-kembangkan Islam secara baik dan benar berkiblat pada cara-cara melalui pendekatan kebudayaan sebagaimana dilakukan Wali Songo (Sunan Kalijogo), maka hingar bingar hari ini pasti lahir dari berbagai gerak dan perilaku yang sangat ahistoris.

Dampak dari perilaku ahistoris ini  pastilah menciptakan suasana yang distruktif terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana amanat para pendiri bangsa membangun sebuah negara bangsa yang berkepribadian dan berbudaya. 

Yakni sebuah negara bangsa yang berketuhanan, yang memuliakan kerakyatan dalam persaudaraan, yang menjunjung tinggi persatuan, dan yang berkeadilan sosial. Dengan kata lain membangun masyarakat yang berpandangan hidup Pancasila.

Untuk sekadar diketahui, bermodalkan dasar pemikiran dan upaya menjaga kesinambungan sejarah gerakan umat Islam Indonesia sebagaimana catatan di atas inilah, maka Cak Nurcholis Majid, Gus Dur, Gus Mustofa Bisri dan kawan-kawan, termasuk saya, M. Sobari, dan Cak Ainun Najib, semasa rezim otoriter Orde Baru berkuasa dengan sadar melakukan berbagai upaya agar agama Islam dan kaum muslimin Indonesia dimuliakan dan termuliakan di mata bangsanya maupun di mata dunia Internasional. 

Cak Nurcholis dengan gerakan penyemaian Islam yang hanif, Gus Dur dengan pemikiran ke-Islaman yang progresif revolusioner, Gus Mus dengan gerakan pencerahannya yang santun dan sejuk, Cak Nun, Sobari dan saya yang menggelar berbagai kegiatan untuk mengharmonikan pertalian Islam dan Kebudayaan. 

Dalam upaya mengangkat derajat peradaban yang Islami ini, kami memilih pijakan nilai-budaya dalam melakukan syiar --yang tidak terperangkap pada keharusan berpenampilan kearab-araban.  Sebagaimana pesan bung Karno kepada rakyatnya; agar pada saat menjadi Hindu tidak usah menjadi India; menjadi Kristen tidak harus menjadi Yahudi; dan pada saat menjadi Islam tidak harus menjadi Arab, tapi tetaplah menjadi Indonesia. 

Dengan demikian kehadiran di atas bumi Nusantara pun menjadi tak asing dan diterima bumi dengan tangan terbuka karena tetap berada dalam lingkaran dan garis kesejarahannya

Lewat gerakan yang bermuatan nilai-nilai keIslaman yang dipadukan dengan semangat Nasionalisme yang tinggi ini, ternyata mampu membangkitkan semangat kehidupan berdemokrasi yang anti rezimn otoritarian-militeristik, sekaligus anti diktator mayoritas maupun tirani minoritas. 

Maka kehadiran gerakan yang bernafaskan Islam dan Nasionalisme ini, saat itu hadir sebagai penebar semangat pencerahan, penebar aura positif, dan yang mencerdaskan. Islam dikala itu tidak pernah kami gunakan sebagai alat politik, namun sebagai pijakan nilai dan tuntunan yang mengarahkan gerakan politik kami agar tetap berada di atas rel kebenaran dan kebarokahan bagi umat , bangsa dan negara yang diperjuangkan.

Nah, jika hari ini hawa panas dan permusuhan telah menyebar ke mana-mana, dimana sesama umat Islam sendiri malah saling serang dan saling menyudutkan; sehingga wajah Islam menjadi terkesan berang dan pemarah, sudah saatnya lah para Ulama, para pemimpin, dan para tokoh di negeri ini melakukan perenungan untuk bersama menjawab satu pertanyaan; peradaban seperti inikah yang akan kita bangun sebagai bangsa? Karena rakyat sudah sangat merindukan hadirnya kembali Islam yang hanif dan menyejukkan!

*) Erros Djarot - Dikutip sepenuhnya dari laman watyutink.com

Reporter/Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini