Merekam Sejarah Supersemar Melalui Karya Seni

10 Mar 2019 19:45 Seni & Budaya

Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966, menjadi catatan sejarah Indonesia yang sarat polemik.

Keluarnya Supersemar, memberi jalan Soeharto menggeser kursi kepresidenan Soekarno.  Sebagian kalangan menyebut peristiwa ini dengan crepping coup d’etat atau kudeta merangkak.

Bermula dari Supersemar, kemudian lewat Surat Keputusan MPRS, 27 Maret 1968 Soeharto resmi menjadi Presiden. Menancapkan paku kekuasaan selama hampir tiga puluh tahun.

Kontroversi Supersemar pun terus berlanjut, mulai keaslian teks, proses Soeharto mendapatkan surat, hingga interpretasi perintah dalam isi surat.

Terlepas dari berbagai kontroversi perihal Supersemar, ia menjadi bagian dalam sejarah panjang Indonesia.

Para seniman muda di Malang mencoba merespon kejadian bersejarah tersebut lewat karya. Selama tiga hari ini, mulai Sabtu 9 Maret 2019 hingga 11 Maret 2019 atau peringatan hari lahirnya Supersemar.

Para seniman muda ini menyelenggarakan pameran seni rupa di sebuah ruang kolektif bernama Linkar di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Puluhan karya seni rupa dengan berbagai medium, dipamerkan selama tiga hari.

Bayu Seminah, 23 tahun, penggagas acara menceritakan bahwa pameran ini sebagai respon atas interpretasi sejarah oleh para seniman.

"Lewat karya mereka berupaya mengingat Supersemar dengan segala kontroversinya," katanya.

Destrisiana, salah satu perupa mengungkapkan kesenangannya bisa ikut serta dalam pameran bertajuk SUPER SEMAR. "Senang, ini pertama kali saya pameran," katanya pada pengunjung.

Destriana menggambar dua tengkorak manusia. Salah satu tengkorak menggunakan kemeja dan peci hitam ala Soekarno. Sedangkan yang satunya lagi berseragam militer dengan topi berbintang.

Selain gambar seni rupa dua dimensi juga ada karya seni rupa tiga dimensi berbentuk instalasi.

Bayu seniman asal Jogjakarta, menempelkan tulisan channel 66 pada televisi bekas.  Menandakan tahun terjadinya Supersemar. Tisu-tisu dengan bercak merah mewakili makna kelamnya sejarah Indonesia. Tidak terkecuali pasca terbitnya Supersemar.

Memang, pasca terbitnya Supersemar, Soeharto di atas angin. PKI dibubarkan, Ketua MPR Chairul Saleh ditangkap dan diganti oleh AH. Nasution, dan selama nyaris 30 tahun berkuasa juga banyak melahirkan tragedi berdarah.

"Ini bukan sekadar sejarah. Apapun entah yang buruk atau baik tetaplah berkarya," katanya.

Total ada sembilan seniman yang memamerkan dua puluhan karya. Tidak hanya karya seniman Malang, seniman asal Jogja juga ikut memeriahkan pameran ini.

Selain pameran juga ada penampilan musik, workshop sketsa, dan performing art. Mereka bersama merekam sejarah lewat karya seni. (fjr)

Reporter/Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini