Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Istimewa)

Merawat Ukhuwah di Tengah Pandemi, Ini Pesan Suci Al-Quran

Khazanah 16 June 2020 03:01 WIB

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, umat Islam memiliki landasan dalil yang kuat tentang ukhuwah. Meskipun begitu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai umat Islam selalu jatuh bangun untuk mewujudkannya.

“Ukhuwah itu diuji di saat kritis, bisakah kita berukhuwah? Di Al-Quran selalu ada anjuran bersatu sekaligus tidak berpecah belah. Itu tidak mudah. Di level teologis-normatif kita kaya, tapi dalam realitas sosiologis-historis kita perlu belajar ukhuwah yang otentik, ketulusan di saat berbeda, dan ketulusan berkorban pada saat dibutuhkan,” kata Haedar, dalam keterangan, Senin 15 Juni 2020.

Haedar Nashir, selain menganggap, perbedaan adalah hal yang wajar, menurutnya tetap dibutuhkan kedewasaan untuk merawatnya agar tidak terjerumus dalam perpecahan.

Menurut Haedar, ada tiga hal yang seringkali menjadi ujian bagi ukhuwah umat Islam Indonesia yaitu kekuasaan, paham politik keagamaan, dan faktor luar yang tidak terlihat dan sengaja membenturkan umat Islam.

“Kita mudah beretorika soal ukhuwah tetapi ketika berhubungan dengan kue kekuasaan, kita lupa lagi siapa saudara kita. Apa yang sudah di tangan susah lepas. Maka pandai-pandailah saat kita punya kekuasaan dan berebut karena di situ ujian ukhuwah kita,” pesannya.

Lebih jauh Haedar menegaskan, ujian kedua bagi ukhuwah berkaitan dengan paham keagamaan yang berkaitan dengan politik keagamaan. Kelompok yang kecil memiliki militansi besar, sedangkan kelompok yang besar cenderung punya ego dan fanatisme yang tinggi. Umat Islam harus belajar untuk menekan ego dan membiasakan diri berdialog.

Untuk menghadapi ujian ukhuwah ketiga yaitu permainan pihak di luar umat yang tidak terlihat bagi Haedar membutuhkan kejelian dan kewaspadaan umat.

Termasuk dalam konteks kebangsaan adalah kritis terhadap isu-isu besar yang menyangkut hajat orang banyak seperti RUU Omnibus Law hingga RUU Halauan Ideologi Pancasila.

“Bisakah sesama umat Islam menentukan satu titik pandang yang sama tanpa masuk dalam urusan kepentingan. Ini ujian ukhuwah. Sikap ketulusan yang otentik dibutuhkan.

"Perlu kemurnian dan kebersihan hati. Dengan ikhlas, kita tidak pernah merasa kehilangan apapun sehingga ukhuwah akan terwujud. Apa pentingnya kekuasaan jika diperoleh di atas retaknya hati umat. Berkah hilang. Harus ada yang berani kita korbankan untuk kepentingan orang lain,” kata Haedar Nashir, yang sebelumnya tampil dalam Webinar Nasional UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

“Kritik harus lugas, elegan, argumentatif bukan karena suka-tidak suka dan jangan membeo terus, kita harus meluruskan juga jika ada arah (kebijakan) yang tidak pas karena umat Islam memberi saham terbesar untuk negeri ini. Bagaimana mewujudkan sila ke-3, para elit politik kita ajak mewujudkan persatuan dengan tindakan, bukan dengan retorika dan simbol. Di saat seperti ini persatuan diuji,” kata Haedar.

Dalam masa pandemi Haedar berpesan agar umat Islam mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin dengan cara memberi solusi, minimal patuh pada protokol kesehatan, bukan malah menjadi beban dengan melanggarnya.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

10 Jul 2020 23:23 WIB

Metro TV Minta Polisi Usut Tuntas Terbunuhnya Yodi Prabowo

Nasional

Ada dugaan Yodi tewas dibunuh.

10 Jul 2020 23:19 WIB

Ganjar Pranowo: Alumni UGM Kangslupan Demit

Nasional

Mas, mau liat AD/ART-nya seperti apa, kok organisasi alumni ne hebat.

10 Jul 2020 23:07 WIB

840 ASN Pemprov Jatim Jalani Tes Usap PCR, 98 Positif Covid-19

Jawa Timur

Sebelumnya, pemprov Jatim menemukan 98 ASN terkonfirmasi positif corona.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...