Merawat Ingatan, Pengurus Sengaja Tak Renovasi SMTB Bagian Depan

14 May 2019 04:54 Surabaya

Gereja Santa Maria Tak Bercelah (SMTB) yang berlokasi di Jalan Ngagel Madya Nomor 1 Surabaya, menjadi salah satu gereja dari tiga gereja di Surabaya yang mendapatkan aksi teror bom pada 13 Mei 2018 lalu.

Saat ini geraja SMTB berdiri kokoh dan tetap menjadi tempat ibadah paling nyaman bagi para jemaatnya.

Bahkan, bagi para jemaat, suster dan juga romo gereja SMTB, trauma sudah tak dirasakan lagi. Sebab, peristiwa 13 Mei 2018 dianggap sebagai sebuah peristiwa iman.

"Trauma sudah tidak lagi ya, kami sudah melakukan aktivitas seperti biasa sejak sehari setelah peristiwa bom itu terjadi. Bahkan, setelah kejadian itu setiap hari sampai sekarang kami selalu mengadakan ibadah misa," kata Sr Bernadetha Wiwik T, MC (Misionaris Claris), salah satu biarawati di gereja SMTB.

Suster Wiwik, biasa ia disapa, mengatakan, sehari pasca bom, gereja SMTB sudah direnovasi. Hanya saja, di bagian depan gereja belum direnovasi. Dibiarkan dengan kondisi apa adanya.

 

Gambar yang ada disamping geraja yang juga terkena bom dan menjadi kenangan sampai sekarang  Foto Pitangopibarengid
Gambar yang ada disamping geraja yang juga terkena bom dan menjadi kenangan sampai sekarang. (Foto: Pita/ngopibareng.id)

"Bagian gambar di depan yang rusak dan bolong memang tak direnovasi supaya bisa memunculkan lagi ingatan saat kami melihatnya. Tentunya harus ingatan yang baik yang diingat untuk tetap berdo'a dan hidup saling toleransi," ujar suster Wiwik dalam acara peringatan satu tahun peristiwa 13 Mei di gereja SMTB Surabaya.

Gambar atau ukiran tokoh-tokoh nasrani berwarna emas ini memang telihat lubang di beberapa sisi. Namun hal ini tak mengurangi keindahan saat melihat gambar tersebut. Gambar atau ukiran yang rusak ini adalah saksi bisu sejarah Surabaya dalam mengenang peristiwa 13 Mei lalu.

Senada dengan suster Wiwik, Desmonda (20 tahun) yang juga merupakan korban dari peristiwa 13 Mei lalu menggungkapkan, memang tak mundah untuk menghilangkan trauma yang ada.

"Tapi saya sadar memupuk trauma akan menjadikan para pelaku menggangap mereka berhasil untuk menakut-nakuti kami. Jadi saya dan kawan-kawan bangkit lagi dengan melawan rasa trauma itu dan kami bisa," ujar Desmonda.

Kata Desmonde, sekarang mereka tak takut lagi ke gereja dan bisa beribadah serta berdo'a dengan tenang. (pts) 

Reporter/Penulis : Pita Sari
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini