Menteri Mendadak Khatib

07 Dec 2018 17:41 Feature

Menteri jago khotbah Jum'at mungkin banyak. Tapi, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil fasih menjadi khatib mendadak saya baru tahu.

Jumat ini saya sedang mengikuti FIABCI Global Business Summit, temu bisnis pengusaha properti se dunia. Acaranya digelar di The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali.

Ratusan pengembang dari berbagai luar negeri hadir. Juga President FIABCI World Assen Makedonov dan President FIABCI Terpilih Walid dari Libanon.

Pagi itu Sofyan yang juga salah satu Ketua PP DMI ini menjadi nara sumber utama. Menjelaskan tentang kebijakan kepemilikan properti oleh asing.

Ia menyampaikannya penuh dengan bahasa Inggris. Memang audience-nya sebagian besar peserta FIABCI Global Summit dari luar negeri.

Sofyan menyampaikan dengan ciamik. Beberapa kali melontarkan joke yang membuat gerr peserta. Hanya orang yang terbiasa berbahasa Inggris yang bisa guyon dengan bahasa yang sama.

Setengah jam lebih ia berpidato tanpa membuat pendengarnya bosan. Dengan bahasa Inggris sepenuhnya.

Saya yang listening dalam bahasa Inggris lemah pun paham. Juga guyonan-guyonannya. Apalagi para bule pengusaha properti yang biasa keliling dunia itu.

Di ujung pidatonya yang menarik, ia masih sempat melemparkan joke. Tahun depan ia menghadapi pergantian menteri. Kalau masih dipercaya, ia ingin jadi menteri Pemuda dan Urusan Perempuan.

Seruangan dibikin ngakak karenanya. Inilah pertemuan serius antar pejabat pemerintah dan pebisnis yang terasa cair. Mencerahkan tanpa membuat kening mengkerut.

Saatnya Shalat Jum'at pun tiba. Sofyan masih sempat melakukan pertemuan dengan seorang menteri dari Jepang sebelum masa Jum'atan tiba.

Di The Westin Nusa Dua, hari itu, memang disediakan tempat shalat Jum'at berjamaah. Sudah pula disediakan khatib dan imam.

Namun, begitu melihat ada Sofyan Jalil di baris terdepan, panitia meminta dia menjadi khatib. Ia terlihat mengangguk menyanggupinya. 

Ikut berjamaah di situ Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Suharso Monoarfa. Juga Ketum DPP REI Soelaeman Soemawinata.

Arif Afandi kanan bersama Sofyan Jalil dan Suharso Monoarfa usai shalat Jumat di Bali
Arif Afandi (kanan) bersama Sofyan Jalil dan Suharso Monoarfa usai shalat Jumat di Bali.

Mendadak saya tahu menteri asal Aceh ini lihai menjadi khatib. Tanpa teks ia penuhi rukun khotbah dengan tartib. Tanpa teks ia kutip sejumlah ayat Alquran dan hadis.

Ia paparkan tentang perlunya mengedepankan kembali akhlak dalam situasi sekarang. Apalagi karena Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Sofyan prihatin dengan kenyataan sekarang karena banyak orang kehilangan akhlaq akibat berbeda pikiran. Berbeda mazhab maupun berbeda pilihan politik.

"Ini karena kita lebih menekankah fiqh atau hukum dalam Islam. Padahal, dalam hal fiqh, kita mengenal 4 mazhab karena perbedaan penafsiran tentang hukum Islam," katanya.

Ia mengingatkan, imam dari empat madzhab yang berbeda itu pun mengedepankan akhlak. Mereka saling menghormati dan tidak menganggap madzhabnya sebagai kebenaran absolut.

Menurutnya, pertentangan dan hilangnya akhlak karena setiap orang kini bisa mengekspresikan diri lewat media sosial. Semua yang berhati setan, jin dan manusia bisa mengekspresikan diri.

Keren. Inilah menteri yang juga ustad. Menteri yang fasih berbahasa Inggris dan juga fasih mengutip Alquran dan hadis. Profesional tanpa membikin gerah lainnya.

Sofyan Jalil memang menteri yang istimewa. Ia dikenal dekat dengan Jusuf Kalla. Ia dulu menjadi kepercayaan JK saat maju menjadi wakil presiden bersama SBY. Ia pun ditunjuk jadi Menteri BUMN.

Ia tidak jadi menteri saat JK pisah kongsi dengan SBY di periode kedua. Sofyan kembali menjadi menteri ketika JK menjadi wapresnya Jokowi.

Ia menteri profesional. Selalu menguasai apa yang diamanahkan kepadanya. Mungkin karena itu, Pak JK selalu percaya. Apalagi jago juga soal agama.

Saya pernah menjalani apa yang dijalani Sofyan Jalil saat menjadi wakil walikota Surabaya. Setiap Jumat keliling menjadi khatib.

Awalnya sederhana. Setelah dilantik, atas seijin walikota saya fokus membebaskan masjid yang puluhan tahun memotong satu jalur jalan kembar menuju kota baru Surabaya Barat.

Empat walikota berusaha membebaskan tak berhasil. Alhamdulillah, dengan pendekatan personal akhirnya takmir mau memindahkan masjid dengan ganti rugi.

Eh, baru 80 persen selesai, dana ganti rugi habis. Mereka tak mau pindah sebelum 100 persen tuntas. Padahal, Pemkot tak mungkin lagi keluarkan tambahan ganti rugi.

Saya pun turun tangan lagi. Saya ajak rembugan. Saya menjamin secara pribadi maupun sebagai wawali, pembangunan masjid pasti selesai.

Akhirnya mereka percaya dengan memasukkan saya jadi pengurus yayasan. Sepakat Jumat berikutnya pindahan dengan ditandai shalat Jumat pertama di masjid baru.

Saking senangnya, saya keceplosan. Bersedia menjadi khatib saat shalat Jum'at pertama. Di masjid itu. Mereka pun setuju.

Akibatnya, banyak yang tahu saya bisa menjadi khatib. Setelah itu, undangan dari takmir masjid mengalir tiada habis. 

Selama menjadi khatib, saya tak berani bicara soal pahala dosa. Soal surga dan neraka. Hanya selalu mengajak jamaah merenung dan memotivasi tentang kehidupan. 

Yang penting tisak ketinggalan rukunnya khotbah Jum'at. Seperti gaya salah satu gaya menteri Kabinet Kerja ini berkhotbah.

Rasanya, Sofyan Jalil amat sangat penting secara rutin berkeliling menjadi khatib. Keliling di masjid kementerian maupun kantor BUMN. Biar mengisi khotbah Jumat dengan pencerahannya.

Saya yakin makin banyak jamaah rindu khatib yang mencerahkan seperti Sofyan Jalil. Bukan khatib yang menciptakan kecemasan dengan bungkus agama. (arif afandi)