KH Bahauddin bin Kiai Nursalim (Gus Baha'). (Foto: ist/ngopibareng.id)

Menjadi Awam Ternyata Penting, Tausiyah Gus Baha'

Khazanah 08 September 2019 04:27 WIB

KH Bahauddin bin Kiai Nursalim (Gus Baha') punya kalimat yang dipigura, dan kelak benda itu akan diwasiatkan kepada anak-cucunya.

Kalimat itu ditulis dalam bahasa Arab. Kira-kira artinya: “Wahai anak-cucuku, aku ini belajar banyak bukan untuk menjadi orang alim. Tapi untuk memahami luasnya rahmat Allah sehingga aku bisa hormat kepada semua umat Kanjeng Nabi.”

Salah satu golongan umat Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang terbesar adalah orang awam. Kanjeng Nabi sendiri juga rileks menghadapi orang awam. Salah satu sahabat beliau suka sekali mabuk. Namanya: Nu’aiman.

Nu’aiman ini cinta sekali dengan Kanjeng Nabi. Kalau tidak bersama Kanjeng Nabi, dia pusing. Tapi kalau tak mabuk juga pusing. Akhirnya dipilihlah jalan tengah, sering mabuk di dekat Kanjeng Nabi.

Ada banyak cerita tentang Nu’aiman ini. Orangnya jenaka, mabukan, ceplas-ceplos, dan sering mengerjai Kanjeng Nabi. Tapi Kanjeng Nabi sangat mencintainya

Kelakuan Nu’aiman yang seperti itu, sering ditegur para sahabat. Dan Kanjeng Nabi balik menegur para sahabat tersebut. “Bagaimanapun Nu’aiman itu mencintai Allah dan rasulnya.” Dan di kesempatan lain, Kanjeng Nabi berkata, “Aku itu paling gembira kalau bercanda dengan Nu’aiman.”

Ada sekelompok wali, yang menurut Gus Baha, tak pernah melakukan salat sunah qabliah dan ba’diah. Hal itu mereka pertahankan dgn tujuan agar salat sunah itu tetap dianggap sunah dan tak membebani orang awam.

"Bayangkan jika di zaman sekarang, para pekerja kasar atau mereka yang punya kerjaan ketat dalam soal waktu seperti satpam dan sopir, tentu mereka akan berat jika dibebani dengan salat sunah seperti itu. Bahkan bisa jadi masalah," tutur Gus Baha'.

Kelompok wali ini, menurut Pengasuh Pesantren Al-Quran Narukan Kragan Rembang, seakan memasang badan jgn sampai orang-orang yg tidak mengerjakan salat qabliah dan ba’diyah dianggap buruk. Dan jangan menganggap salat sunah sebagai beban.

"Banyak wali yang suka bermain sepakbola, bahkan menari. Jadi wali itu bukan hanya orang khusyuk saja. Kalau sepakbola diharamkan, banyak hal diharamkan, yang rugi ya Kanjeng Nabi. Umatnya jadi terlalu berat menjalankan dan memeluk agama Islam," tutur Gus Baha', dalam catatan Puthut @puthutea.

Makanya, Gus Baha selalu berpesan, jgn suka menghukumi dan memberi cap kepada orang lain. Apalagi dengan cap munafik.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Jun 2020 04:38 WIB

Tradisi Haul Dianggap Bid’ah oleh Wahabi, Ini Jawaban Ulama

Islam Sehari-hari

Menelusuri Jejak Tradisi Haul di Nusantara

03 Jun 2020 04:57 WIB

Imam Ghazali, Kritik Ulil terhadap Kepongahan Saintifik

Khazanah

Alasan mengapa Imam al-Ghazali masih relevan sekarang

31 May 2020 18:12 WIB

Di Eropa, NU Inggris Dukung Terjemah Al-Qur'an ke Bahasa Rumania

Khazanah

Dakwah Islam moderat yang dikembangkan PCINU UK.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...