Museum Musik Indonesia Mengumpulkan Puing-Puing Nada di Penjuru Negeri

09 Mar 2019 19:07 Feature

Melewati pintu kaca di lantai dua gedung kesenian Gajayana, kita disuguhkan pemandangan poster-poster musisi dengan gaya lawas. Ribuan kaset pita, piringan hitam, majalah-majalah musik juga bisa dengan mudah kita jumpai. Agar semakin tenggelam dalam suasana museum, ada baiknya kita memutar piringan hitam atau vinyl.

Dengan menyumbang uang perawatan sebesar lima ribu rupiah, ngopibareng.id menikmati suara merdu Wieteke van Dort atau yang lebih dikenal dengan nama Tante Lien. Seorang penyanyi berdarah Belanda yang lahir di Surabaya, 16 Mei 1943.

Kumpulan lagunya yang terekam dalam vinyl menjadi salah satu koleksi di Museum Musik Indonesia (MMI) yang berlokasi di Jl. Nusakambangan No.19, Kasin, Klojen, Kota Malang. Album Tante Lien ini adalah satu dari 26.109 koleksi barang museum.

Hengky Herwanto, salah seorang pelopor MMI barangkali tak pernah menyangka akan bisa mengumpulkan puing-puing nada di seluruh dunia. Belum semua, tapi ini adalah langkah luar biasa bagi pecinta musik terutama di tanah air.

"Mendirikan sebuah ruang yang fokus menjadi pengepul puing-puing nada bukanlah cita-cita Hengky seorang. Dia sudah banyak melihat di berbagai media, banyak tokoh musik tidak jarang melontarkan gagasan didirikannya museum musik. Namun, gagasan tersebut tak pernah ada wujudnya. Hengky bersama teman-temannya memberanikan diri untuk memulai."

Jus Do It!” kata Hengky mengisahkan Perjalanan MMI. Menurut dia, hanya niat dan rasa cinta terhadap musik yang mampu mendorong berdirinya MMI. Hengky pun mengatakan, “Seandainya kami banyak mikir dan takut melangkah, mungkin museum ini tak akan pernah lahir.

Awalnya, selama dua bulan Hengky bergerilya mengumpulkan puing-puing nada lewat teman-teman dekatnya. Terkumpulah 253 buah kaset dan piringan hitam hasil gerilya. Menjadi modal awal berdirinya Galeri Malang Bernyanyi (GMB) pada 8 Agustus 2009. Yang nantinya, menjadi embrio lahirnya MMI.

Mendirikan sebuah ruang yang fokus menjadi pengepul puing-puing nada bukanlah cita-cita Hengky seorang. Dia sudah banyak melihat di berbagai media, banyak tokoh musik tidak jarang melontarkan gagasan didirikannya museum musik. Namun, gagasan tersebut tak pernah ada wujudnya. Hengky bersama teman-temannya memberanikan diri untuk memulai.

GMB sebagi embrio MMI lahir dari para pecinta musik yang berkumpul dalam Komunitas Pecinta Kajoetangan. Mereka adalah Pongki, Hengki, Ateng, Wibi, Tutik dan Tutuk. Sejak tahun 70-an mereka telah mendedikasikan diri dalam dunia musik. Karena kesamaan rasa, tak ada penolakan sama sekali dari mereka saat Hengky melempar gagasan berdirinya galeri musik.

Tak ada museum tanpa koleksi. Beruntung gagasan berdirinya galeri musik banyak menuai dukungan dari masyarakat luas.  Salah satunya adalah Priyanto, warga Sidoarjo ini menjadi penyumbang kaset pertama berupa dua buah kaset album Gombloh.

Upaya mengumpulkan barang koleksi untuk museum tak melulu berjalan mulus. Mereka pernah mencoba penggalangan sumbangan barang koleksi melalui Radio Mas FM, selama tiga bulan menunggu, hanya lima orang yang merespon.

Selain mengumpulkan barang, pengarsipan mejadi poin penting yang harus dilakukan para pengepul nada ini. Setiap koleksi dicatat dengan diberi nomor urut, tanggal sumbangan, nama dan alamat penyumbang, serta tahun produksi.

Prosedur ini pun tak mesti mudah dijalani. Tidak sedikit penyumbang yang lupa memberikan alamat, album yang tidak mencantumkan tahun rilis, bahkan ada ada rekaman tanpa cover yang tidak tertulis nama artis dan judul albumnya.

Meski begitu, bagaimana pun bentuk barang koleksi yang disumbangkan, tetap mereka simpan. Proses kurasi kelayakan barang koleksi museum masih terus berjalan, mengingat ada ribuan barang dengan berbagai jenis.

Mulai dari kaset pita, CD, piringan hitam, buku, instrumen musik, memorabilia, leaflet agenda musik. Barang-barang tersebut kesemuanya berkaitan dengan musik, dan tidak hanya musik di Indonesia tapi banyak negara di seluruh dunia.

GMB banyak tertolong dengan adanya pecinta musik tanah air yang sedang bertugas atau bahkan melaksanakan ibadah keagamaan di luar negeri. Mereka sengaja menyempatkan diri ke music store untuk membeli CD yang selanjutnya disumbangkan untuk koleksi museum. Seorang perempuan bernama Lilik misal, saat melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi, ia menyempatkan diri untuk membeli CD untuk GMB. Berbagai bentuk dukungan ini menambahkan semangat Hengky dan kawan-kawan.

Sumbangan koleksi terus mengalir. Di etalase yang hanya berukuran 35 x 40, seharga 30 ribu rupiah, Hengky menyimpan barang koleksi. Garasi rumah pribadi Hengky di Jalan Citarum 17 Malang, ia relakan sebagai tempat menyimpan barang koleksi. “Terima kasih untuk Ibu Soewarsono, ibu kandung saya yang tidak keberatan rumahnya dipakai GMB,” ujar Hengky.   

 

Seiring berjalannya waktu GMB kini telah resmi menjadi Museum Musik Indonesia (MMI) sejak 19 November 2016. Menjadi satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia. (“Jus Do It!” kata Hengky mengisahkan Perjalanan MMI. Menurut dia, hanya niat dan rasa cinta terhadap musik yang mampu mendorong berdirinya MMI. Hengky pun mengatakan, “Seandainya kami banyak mikir dan takut melangkah, mungkin museum ini tak akan pernah lahir.

 

Awalnya, selama dua bulan Hengky bergerilya mengumpulkan puing-puing nada lewat teman-teman dekatnya. Terkumpulah 253 buah kaset dan piringan hitam hasil gerilya. Menjadi modal awal berdirinya Galeri Malang Bernyanyi (GMB) pada 8 Agustus 2009. Yang nantinya, menjadi embrio lahirnya MMI.

 

Mendirikan sebuah ruang yang fokus menjadi pengepul puing-puing nada bukanlah cita-cita Hengky seorang. Dia sudah banyak melihat di berbagai media, banyak tokoh musik tidak jarang melontarkan gagasan didirikannya museum musik. Namun, gagasan tersebut tak pernah ada wujudnya. Hengky bersama teman-temannya memberanikan diri untuk memulai.

 

GMB sebagi embrio MMI lahir dari para pecinta musik yang berkumpul dalam Komunitas Pecinta Kajoetangan. Mereka adalah Pongki, Hengki, Ateng, Wibi, Tutik dan Tutuk. Sejak tahun 70-an mereka telah mendedikasikan diri dalam dunia musik. Karena kesamaan rasa, tak ada penolakan sama sekali dari mereka saat Hengky melempar gagasan berdirinya galeri musik.

 

Tak ada museum tanpa koleksi. Beruntung gagasan berdirinya galeri musik banyak menuai dukungan dari masyarakat luas.  Salah satunya adalah Priyanto, warga Sidoarjo ini menjadi penyumbang kaset pertama berupa dua buah kaset album Gombloh.

 

Upaya mengumpulkan barang koleksi untuk museum tak melulu berjalan mulus. Mereka pernah mencoba penggalangan sumbangan barang koleksi melalui Radio Mas FM, selama tiga bulan menunggu, hanya lima orang yang merespon.

 

Selain mengumpulkan barang, pengarsipan mejadi poin penting yang harus dilakukan para pengepul nada ini. Setiap koleksi dicatat dengan diberi nomor urut, tanggal sumbangan, nama dan alamat penyumbang, serta tahun produksi.

 

Prosedur ini pun tak mesti mudah dijalani. Tidak sedikit penyumbang yang lupa memberikan alamat, album yang tidak mencantumkan tahun rilis, bahkan ada ada rekaman tanpa cover yang tidak tertulis nama artis dan judul albumnya.

 

Meski begitu, bagaimana pun bentuk barang koleksi yang disumbangkan, tetap mereka simpan. Proses kurasi kelayakan barang koleksi museum masih terus berjalan, mengingat ada ribuan barang dengan berbagai jenis.

 

Mulai dari kaset pita, CD, piringan hitam, buku, instrumen musik, memorabilia, leaflet agenda musik. Barang-barang tersebut kesemuanya berkaitan dengan musik, dan tidak hanya musik di Indonesia tapi banyak negara di seluruh dunia.

 

GMB banyak tertolong dengan adanya pecinta musik tanah air yang sedang bertugas atau bahkan melaksanakan ibadah keagamaan di luar negeri. Mereka sengaja menyempatkan diri ke music store untuk membeli CD yang selanjutnya disumbangkan untuk koleksi museum. Seorang perempuan bernama Lilik misal, saat melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi, ia menyempatkan diri untuk membeli CD untuk GMB. Berbagai bentuk dukungan ini menambahkan semangat Hengky dan kawan-kawan.

 

Sumbangan koleksi terus mengalir. Di etalase yang hanya berukuran 35 x 40, seharga 30 ribu rupiah, Hengky menyimpan barang koleksi. Garasi rumah pribadi Hengky di Jalan Citarum 17 Malang, ia relakan sebagai tempat menyimpan barang koleksi. “Terima kasih untuk Ibu Soewarsono, ibu kandung saya yang tidak keberatan rumahnya dipakai GMB,” ujar Hengky.   

 

Seiring berjalannya waktu GMB kini telah resmi menjadi Museum Musik Indonesia (MMI) sejak 19 November 2016. Menjadi satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia. (Fajar Dwi Ariffandhi)


Reporter/Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini