InfografisMengukur Kelayakan Edy Rahmayadi Mundur dari Ketum PSSI

11 Dec 2018 11:47 Bola

Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 berbuntut tuntutan agar Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, mundur dari jabatannya. Mantan Pangkostrad itu dinilai gagal memimpin PSSI karena prestasi Tim Garuda jeblok.

Lantas benarkah Edy gagal dalam menjalankan tugasnya? Seburuk itukah kinerja Edy dalam memimpin federasi sepak bola Indonesia? Menilai buruknya kinerja PSSI bila diukur dari prestasi Timnas di Piala AFF 2018 ansih tentu tidak adil bagi Edy, karena masih ada seabrek program lain di PSSI.

Untuk menyebut kinerja Edy buruk, tentu ada sejumlah parameter yang harus disertakan.  Sesuai data yang diperoleh Ngopibareng dari PSSI, kinerja PSSI di bawah kepemimpinan Edy tidak bisa sepenuhnya dianggap gagal. Pasalnya, ada puluhan program yang sudah dijalankan dan selesai dengan baik.

Prestasi Timnas U-16 menjuarai Piala AFF U-16 2018, peringkat tiga Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2018, dan 16 besar Asian Games 2018 adalah sederet prestasi Timnas di era kepemimpinan Edy. Belum lagi sejumlah kursus kepelatihan di semua level yang juga sudah selesai digelar.

Grafis by VidhiNgopibareng
Grafis by: Vidhi/Ngopibareng

Selain itu juga ada kerja sama PSSI dengan Jerman dan Australia dalam proyek Sport for Development serta beberapa program lainnya yang mampu dituntaskan dengan baik oleh PSSI dan Asprov PSSI di daerah.

Tampaknya, semua data itu tak lagi dilihat oleh masyarakat setelah kegagalan Timnas di Piala AFF 2018, terutama kegagalan PSSI mempertahankan Luis Milla sebagai nahkoda Timnas. Sebagai Ketua Umum PSSI, Edy dianggap bertanggung jawab atas kepergian Milla dari Timnas.

Namun, penjelasan Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria mengenai pengambilan keputusan di PSSI dilakukan secara kolektif kolegial dalam forum rapat Executive Committee, sekeras apa pun suara Edy serta hak prerogative yang ia miliki, jika mayoritas Exco tidak menghendaki, maka keputusan Edy bisa jadi mentah.

Setelah keputusan diambil dalam rapat Exco, untuk pelaksanaan programnya dijalankan oleh kesekjenan.   

Grafis by VidhiNgopibareng
Grafis by: Vidhi/Ngopibareng

Namun yang menjadi persoalan sebetulnya adalah rangkap jabatan antara Ketua Umum PSSI dan Gubernur Sumatera Utara yang kini diemban oleh Edy. Sebagai orang nomor satu di Sumut, Edy tentu harus mencurahkan banyak waktu dan konsentrasinya untuk jabatan barunya tersebut.

Padahal kehadiran Edy dibutuhkan di PSSI, karena untuk mengurusi federasi sepak bola Indonesia itu tidak bisa dijalankan sebagai sambilan semata. Organisasi sebesar PSSI membutuhkan pemimpin yang selalu ada kapan pun dibutuhkan fisik, tenaga dan pikirannya.

Lantas pertanyaannya, sampai kapan Edy bisa membagi konsentrasinya untuk dua urusan yang tak bisa dibilang main-main ini? Mampukah Edy mengemban tugasnya di kedua hal yang sangat berbeda ini dengan baik? Masihkah dibutuhkan Munaslub untuk mencari figur pemimpin PSSI baru untuk menggantikan Edy?    

 

Yang jelas, sampai sekarang belum ada tanda-tanda Edy akan meletakkan jabatannya. Juga tidak ada upaya dari pemilik suara sah PSSI yang menginginkan digelar Munaslub untuk mencari suksesor mantan Pangkostrad ini. (Nas)

Reporter/Penulis : Rizal A
Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini