Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Mengubah Kemungkaran Tak Harus Melalui Cara-Cara yang Garang

Khazanah 31 May 2019 07:41 WIB

Muhammadiyah hingga saat ini masih tetap kokoh karena dibangun di atas pondasi diniyah, bukan hanya karena aspek kontemporer semata. Sehingga Muhammadiyah menjadi organisasi yang terus besar dan tetap teguh hingga saat ini.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, mengungkapkan hal itu, dalam Pengajian Ramadhan yang diselengarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman pada Kamis 30 Mei 2019 di Sleman.

Menurut Haedar, pondasi awal Muhammadiyah tidak lain adalah yang diletakkan oleh KH. Ahmad Dahlan, yang pada rangkaian sejarahnya dibangun berlandaskan pada Al Qur’an. Tepatya QS. Ali Imron ayat 104, ayat ini menjadi peneguhan bagi Muhammadiyah yang bergerak sebagai organisasi yang ber-amar ma’ruf nahi mungkar.

“Hendaklah kalian menjadi segolongan umat, yang dimaksud umat disitu bukan sembarangan umat, seperti umat yang awam. Tetapi yaitu orang-orang yang cerdas terpilih, maka orang Muhammadiyah harus menjadi orang yang cerdas dan terpilih,” ungkapnya.

“Karakter Muhammadiyah atau orang-orang Muhammadiyah dalam berorganisasi dari dahulu sampai sekarang tetap ber-amar ma’ruf nahi mungkar, kalau ada kemungkaran kita ubah. Bisa melalui kekuasaan, juga bisa sebagai kekuatan kelompok kepentingan. Tetapi harus tetap memakai prinsip Muhammadiyah (lihat; Kepribadian Muhammadiyah),” kata Haedar Nashir.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki pondasi ideologis yang kuat hasil dari formulasi gagasan-gagasan KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian melahirkan pedoman-pedoman penting seusai alur sejarahnya. Artinya, sebagai organisasi Islam yang merujuk kepada al Qur’an dan As Sunnah, Muhammadiyah juga sebagai organisasi yang mengembangkan ijtihad sebagai jalan menuju kebenaran.

“Karakter Muhammadiyah atau orang-orang Muhammadiyah dalam berorganisasi dari dahulu sampai sekarang tetap ber-amar ma’ruf nahi mungkar, kalau ada kemungkaran kita ubah. Bisa melalui kekuasaan, juga bisa sebagai kekuatan kelompok kepentingan. Tetapi harus tetap memakai prinsip Muhammadiyah (lihat; Kepribadian Muhammadiyah),” terangnya.

Hal ini juga menepis isu bahwa Muhammadiyah sudah kehilangan semangat nahi mungkar, padahal Muhammadiyah memiliki cara tersendiri dalam mengimplementasikannya.

“Karena mengubah kemungkaran tidak harus melalui cara-cara yang ‘garang’,” tegas Haedar.

Haedar menegaskan, jika persoalan prinsip tidak boleh lembek, tapi juga harus tetap proporsional.

“Karena selain ber-amar ma’ruf nahi mungkar juga harus disertai dengan teladan yang baik (Uswahtun Khasanah),” katanya.

Pentingnya menerapkan Kepribadian Muhammadiyah dalam menggulirkan roda organisasimerupakan langkah penting dalam menjaga trust umat kepada Muhammadiyah sendiri. Karena pada saat ini banyak ditemui aktor, baik di politik atau lain sebagainya yang sudah mulai pikun terhadap sejarah masa lalunya. Sehingga bukan hanya hanya gagal faham terhadap sejarah, tapi juga melukai sejarah yang dibuatnya dan menghilangkan integritasyang selama ini dibangunnya.

“Kita boleh kehilangan apa saja, tapi jangan sampai kehilangan integritas diri. Integritas diri sebagai pertaruhan hidup. Boleh tidak punya apa-apa, tapi tidak boleh kita kehilangan trust atau amanah,” tegas Haedar.

Mengajak flash back sejarah masa lalu antara pemerintah dan Muhammadiyah, tepatnya ketika Buya Hamka sedang berseteru dan ditahan oleh Pemerintah Orde Lama. Hubungan pemerintah saat itu dengan Muhammadiyah memang sempat membeku, sampai hampir Presiden Sukarno tidak mau menghadiri penutupan Muktamar Muhammadiyah pada tahun 1962 di Pelembang.

Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat amar ma’ruf nahi mungkar bapak-bapak Muhammadiyah saat itu, seperti, Ahmad Baidowi, Mas Mansur dan lain-lain untuk terus berusaha memecahkan kebekuan hubungan kedua belah pihak dengan berdialog dan melakukan lobi. Hingga ketika diwaktu penutupan Muktamar munculah ungkapan Soekarno terhadap Muhammadiyah, ‘Makin Lama Makin Cinta’.

Terkait persoalan kebangsaan, Haedar menyaran pasca pemilihan umum 2019 untuk dilakukan konsolidasi demokrasi, ekonomi, dan budaya yang Ia anggap sekarang ini semakin menjadi liberal. Sedangkan untuk melakukan penguatan basis kekuatan Muhammaidyah, Haedar menyoroti lima hal, yakni paham agama, ideologi muhammadiyah, sistem gerakan, amal usaha, dan sistem kepemimpinan. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Aug 2020 16:45 WIB

NU Lahir setelah 3 Tahun Mbah Dahlan Wafat

Tokoh

Perbedaan furu’iyah ibadah mulai muncul setelah Mbah Dahlan meninggal.

05 Aug 2020 16:50 WIB

Kado Milad Muhammadiyah ke-111: Satu Tujuan, Beda Pendekatan

Tokoh

KH Ahmad Dahlan-KH Hasyim Asy’ari adalah saudara satu guru.

05 Aug 2020 14:14 WIB

Ketua LP Maarif NU: Insya Allah Gabung POP Lagi Tahun Depan

Nasional

LP Maarif PBNU masih pikir pikir akan bergabung kembali

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...