Masjid Abbas bin Ali di Karbala, Irak. Monumen sejarah kejayaan Islam. (Foto: Istimewa)
Masjid Abbas bin Ali di Karbala, Irak. Monumen sejarah kejayaan Islam. (Foto: Istimewa)

Mengharukan! Mengalah Adu Gulat Demi Dzuriyat Rasulullah

Ngopibareng.id Khazanah 01 November 2020 05:47 WIB

Di Irak, ada seorang pegulat terkenal dan tangguh yang tak terkalahkan. Namanya Abu Qasim. Tak seorang pun mudah mengalahkan Abu Qasim, sehingga sulit mencari lawan tandingnya.

Suatu hari, Sang Raja mengadakan sayembara adu gulat dengan hadiah besar melawan pegulat tangguh, Abu Qasim. Seorang lelaki tua, mendaftarkan dirinya sebagai lawan gulat menantang Abu Qasim.

Pada hari H. pertandingan, Abu Qasim dengan gagahnya dielukan-elukan pendukungnya. Abu Qasim maju ke arena pertandingan. Tak dinyana, sebelum pertandingan, lawan tarungnya berkata:

"Wahai Abu Qasim, aku tahu engkau seorang pegulat tangguh yang tak sembarang orang mudah mengalahkanmu. Tapi kali ini mengalahlah demi keadaanku ! "

"Apa maksudmu, tanya?," Abu Qasim keheranan.

"Begini, aku adalah seorang dzuriat keturunan Rasulullah. Aku dan keluargaku hidup dalam serba kekurangan. Kami kelaparan. Begitu mendengar ada sayembara yang menjanjikan hadiah besar dari sang Raja, aku nekat mengikutinya, sebab keluargaku tertimpa musibah. Aku memohon, agar engkau bersedia mengalah untukku kali ini saja!"

Mendengar penuturan tulus itu, Abu Qasim terenyuh. Kecintaannya yang besar terhadap Rasulullah mengalahkan rasa ego dan reputasi kariernya yang bersinar cemerlang.

"Baiklah, aku akan mengalah, demi cintaku pada datukmu!" sahut Abu Qasim.

Pertandingan dimulai, baru pada ronde pertama, Abu Qasim pegulat tangguh itu bertekuk lutut menyerah kalah. Semua penonton keheranan. Bagaimana sang pegulat tangguh kalah bertarung dengan lelaki tua yang tampak tak berdaya ?

Akhirnya, hadiah itu diserahkan pada seorang sayyid yang tua itu demi membantu keluarganya yang sedang tertimpa musibah.

Hingga sang Raja pun sontak merasa tak percaya apa yang dilihatnya. Sang Raja memanggil Abu Qasim dan menanyakan perihal kekalahannya. Abu Qasim menjawab, "Aku memang sengaja mengalah demi cintaku terhadap datuknya ! "

Pada malam harinya, Abu Qasim bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasulullah mendekap dan mencium Abu Qasim seraya berkata :

"Abu Qasim, lantaran engkau telah menolong cucuku, aku mencintaimu dan Allah pun mencintaimu. Sejak malam ini, Allah angkat derajatmu menjadi wali-Nya, waliyun min auliaillah, golongan para kekasih Allah."

Begitulah awal kisah seorang bernama Abu Qasim yang kemudian dikenal sebagai seorang wali dan sufi kenamaan dengan sebutan Imam Junaid al-Baghdadi.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد

"Semoga kita dan seluruh keluarga kita selalu cinta kepada Allah, selalu cinta kepada Rasulullah, selalu cinta kepada Keluarga Rasulullah, keturunan Rasulullah, sahabat Rasulullah. Amin....!!!". Demikian pesan indah Ustadz Keman Almaarif Jombang.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Nov 2020 09:39 WIB

Puasa dan Sedekah Ada Batas, Anjuran Zikir Sebanyak-banyaknya

Islam Sehari-hari

Penjelasan Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Ponpes Aswaja Sukolilo Surabaya

27 Nov 2020 09:20 WIB

Liburkan Tim, Madura United Tunggu Jaminan Kepastian Liga

Liga Indonesia

Meski PSSI dan LIB sudah mengummkan liga digelar Februari.

27 Nov 2020 09:07 WIB

Meski dari Habaib, Para Wali Sembunyikan Marga

As’ad Said Ali

Salam Ukhuwah untuk Para Habaib

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...