Suasana indah kehidupan keberagamaan di Indonesia. (Foto: Istimewa)
Suasana indah kehidupan keberagamaan di Indonesia. (Foto: Istimewa)

Menghapus Egoisme, di Antara Jihad Kekang Hawa Nafsu

Ngopibareng.id Khazanah 03 August 2020 07:32 WIB

Cinta dan kasih saya sesama manusia, di antara ajaran utama Islam. Saling hormat, saling menghargai dan menjaga harmoni dengan alam. Namun, belakangan ada fenomena tak sedap dalam kaitan kehidupan beragamaan di Indonesia.

"Sepanjang sejarah manusia selalu ada sekelompok orang yang mengklaim pandangan dan jalan hidup keagamaannya sebagai paling benar, sambil menuduh pandangan selain dirinya adalah salah total dan sesat. Di antara mereka ada yang melakukan gerakan ekstrem," pesan KH Husein Muhammad, ulama pesantren yang dikenal sebagai aktivis.

Mereka "Bukan hanya menyalahkan dan mensesatkan pandangan yang lain itu, tetapi juga memandangnya telah keluar dari agama. Murtad. Dan lebih dari itu mereka memfatwakan keabsahan hukuman gantung (mati) atas yang lain itu. Mereka bicara di atas panggung dengan suara meledak-ledak, penuh emosi kemarahan menyampaikan fatwa itu. Kesombongan dan egoisme terus diperlihatkan di depan publik.

"Sungguh tak ada satupun agama dan sistem etika kemanusiaan di dunia ini yang membenarkan cara-cara seperti itu. Semua agama dan etika kemanusiaan hadir untuk membimbing manusia ke jalan hidup utama, menciptakan kehidupan sosial yang baik, persaudaraan, mewujudkan keadilan, kasih sayang dan cinta, bukan untuk menciptakan kerusakan, membodohi, permusuhan, membenci dan kekerasan," tutur penulis buku Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur.

Kesombongan dan egoisme adalah dosa besar. Iblis diusir dari sorga karena dia "takabbur", sombong, angkuh dan mementingkan/membenarkan diri sendiri.

Para bijak bestari mengatakan :

هُنَاكَ طُرُقٌ عَدِيْدَةٌ تُوصِلُ اِلَى الله لكن هُنَاكَ طَرِيْقٌ مُسْتَقِيْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ الطَّرِيْقُ الَّذِى تَمحَى فِيْهِ الاَنَانِيَةُ وَالْاَثْرَةُ.

Ada banyak jalan mendekati Tuhan. Akan tetapi ada satu jalan yang lurus. Yaitu menghapus dan meniadakan egoisme dan kepentingan diri.

Hari raya Adha/Kurban adalah simbol perjuangan/jihad diri menghapuskan ego. Iblis diusir dari situasi kehidupan nyaman nan penuh kenikmatan sorgawi, bukan karena dia tak beriman kepada Tuhan, tetapi akibat karakter dan ekspresi egois, kesombongan dan keangkuhan diri, sambil merendahkan selain dirinya.

Berikut di antara lirik lagu ditulis KH Husein Muhammad.

SAYAP JIWA

Dari hati yang bening
Tumbuh dan kibarkan sayap jiwamu
Tebarkan cintamu kepada
Seluruh umat manusia

Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Esa
Anugerah-Nya yang melimpah
Dan Rahmat-Nya untuk semua
Bangsa

01.08.20
HM

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Feb 2021 17:00 WIB

21 Kepala Daerah di Jawa Tengah Bakal Dilantik Secara Hibrida

Nusantara

Ada yang daring, ada yang pula yang langsung.

25 Feb 2021 16:50 WIB

Keluarganya Kena Covid, Anang Hermansyah Buka Rahasia Tetap Sehat

Selebriti

Ia mengaku rutin melakukan olah raga dan menjaga mood.

25 Feb 2021 16:36 WIB

Investasi Geser ke Luar Jawa, Presiden Indonesia Mulai Bangkit

Ekonomi dan Bisnis

Investasi luar Jawa sudah 50,5 persen dari total investasi Indonesia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...