Mengenali Manifestasi Alergi yang Beragam pada Anak

11 Nov 2019 22:59 Kesehatan

Sebanyak 80 persen alergi makanan pada anak disebabkan oleh makanan seperti telur, susu sapi, kacang, kacang kedelai, dan gandum. Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis anak, dr. Septria Erlitarini, SpA.

Menurutnya gejala alergi pada anak dapat ditandai dengan rabbit nose (anak sering menggerakkan hidung), allergic salute (anak sering menggaruk hidung), dan allergic shiner (kelopak mata tampak ada tanda kehitaman).

Septria juga mengungkapkan, reaksi alergi atau manifestasi pada anak sangat beragam. Organ target yang sering terkena adalah kulit, saluran cerna, saluran napas atas atau bawah, dan sistemik.

"Dermatitis atopik merupakan manifestasi klinis utama alergi makanan pada anak usia tiga bulan hingga tiga tahun," ujar dokter dari MedicElle Clinic ini.

Septria menambahkan, pada setiap organ reaksi alergi pun berbeda-beda pada setiap anak. Seperti reaksi alergi pada kulit dapat memunculkan gangguan kulit urtikaria (biduran) atau agioedema (bengkak).

"Bila alergi bereaksi pada saluran cerna. Gangguan bisa terjadi ialah mual, muntah, kolik, diare, sering kentut, kembung dan konstipasi menahun. Kalau dicurigai kolik, bayi biasanya akan sering menangis tanpa sebab beberapa jam secara terus menerus di waktu tertentu," jelas Septria.

Sambungnya, berbeda lagi kalau manifestasi terjadi pada saluran napas. Gangguan yang ditimbulkan bisa berupa batuk, pilek, dan sesak.

"Ada pula manifestasi yang berupa syok anafilatik. Reaksi ini terjadi beberapa menit sampai dua jam setelah mengonsumsi makanan tersebut. Gejalanya bersifat sistemik. Anak syok, tekanan darah rendah hingga kolaps, jalan nafas bengkak dan tertutup. Bahkan bisa pula diikuti kelainan di organ lainnya," imbuhnya.

Tambah Septria, bahaya alergi pada anak yang perlu diwaspadai adalah bila sampai menjadi penyakit kronis. Menggangu kualitas hidupnya sampai memegaruhi tumbuh kembangnya.

Saat ini, ungkapnya, pencegahan dan penanganan alergi makanan pada anak adalah dengan memberinya ASI. Lalu dilakukan pula eliminasi terhadap pemicu alergi tersebut.

"Serta lakukan konsultasi dengan dokter agar tidak terjadi manifestasi yang membahayakan bagi anak," tutupnya.

Penulis : Pita Sari
Editor : Rizal A


Bagikan artikel ini