Mengenal Lebih Dekat Perayaan Imlek Warga Surabaya

05 Feb 2019 09:48 Surabaya

Juliman bersama ayahnya mendatangi Klenteng Sanggar Agung di Jalan Kenjeran Surabaya beberapa hari yang lalu. Tujuannya satu, untuk melaksanakan sembahyang akhir tahun sebagai ungkapan rasa syukur telah diberi kemudahan selama tahun kemarin.

“Minggu ini merupakan minggu terakhir, saya harus ke klenteng untuk sembahyang,” kata Juliman.

Ia mengatakan, dalam kepercayaan umat Khonghucu, setidaknya dalam setahun penganutnya minimal harus dua kali sembahyang di klenteng, yaitu pada awal dan akhir tahun.

Sembahyang di awal tahun biasanya memohon kepada dewa agar diberi kemudahan, kelancaran rezeki, dan kesehatan. Sedangkan sembahyang di akhir tahun biasa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur telah diberi kemudahan menjalani tahun sebelumnya.

Sembahyang di akhir tahun pun, kata Juliman, lebih idealnya tak dilakukan pada sembarang hari. Menurutnya, sebaiknya sembahyang di akhir tahun disesuaikan dengan perhitungan feng shui dan shio.

“Namun anak muda keturunan Tionghoa sekarang sudah banyak yang mengabaikan. Mereka datang ke Klenteng untuk sembahyang akhir tahun hanya menyesuaikan dengan kesibukannya. Bukan berdasarkan feng shui atau shio,” kata Acin, nama Tionghoa Juliman.

Ia mengatakan, sembahyang akhir tahun ini wajib dilakukan karena bertepatan dengan seminggu sebelum datangnya Imlek, waktu di mana para dewa pergi ke kahyangan. Para dewa diyakini baru akan kembali pada lima hari setelah Imlek.

“Makanya, bersih-bersih patung para dewa ini dilakukan seminggu sebelumnya. Karena mereka para dewa sedang pergi. Kalau sekarang tak boleh, karena kami meyakini mereka bersemayam di patung-patung tersebut,” ujarnya.

Umat Khonghucu boleh saja sembahyang akhir tahun menjelang Imlek, namun dianggap kurang karena yang ada hanya para pengawal para dewa. Sedangkan para dewanya sedang pergi ke kahyangan.

Maka dari itu, puncak sembahyang Imlek biasanya akan terjadi pada tahun baru Imlek. Umat Khonghucu akan datang berbondong-bondong datang ke klenteng untuk memanjatkan doa agar dimudahkan dalam menjalani kehidupan dalam satu tahun ke depan.

Sedangkan puncak sembahyang kedua akan terjadi pada lima hari setelah tahun baru Imlek di mana para dewa sudah kembali bersemayam di patung-patung dalam klenteng.

“Perayaan Imlek sebenarnya dirayakan selama lima belas hari. Di hari yang kelima belas itu, kita biasanya mengenal sebagai Cap Go Meh,” ujar Juliman.

Ia juga mengingatkan jika Imlek berbeda dengan ibadah umat Islam atau Kristiani, Idul Fitri atau Natal. Idul Fitri atau Natal merupakan hari raya keagamaan, sedangkan Imlek sebenarnya bukan hari besar keagamaan. Namun Imlek adalah tahun baru berdasarkan perhitungan kalender Tiongkok.

“Jadi siapa pun boleh merayakan Imlek, apalagi warga keturunan Cina. Sama halnya kita merayakan tahun baru Masehi,” katanya.

Tampak depan Klenteng Sanggar Agung Surabaya Foto Amir Tejongopibarengid
Tampak depan Klenteng Sanggar Agung Surabaya. (Foto: Amir Tejo/ngopibareng.id)

Klenteng bersiap sambut Imlek
Lain Juliman, lain Wahyuni. Meski tak terlalu berjubel, namun Wahyuni harus cekatan meladeni pembeli yang butuh peralatan sembahyang. Siang itu aktivitas kerja Wahyuni bersama dengan dua orang rekan kerjanya lebih sibuk dibanding hari-hari sebelumnya.

Maklum, pekan-pekan ini merupakan minggu akhir di mana Klenteng masih buka.Klenteng Sanggar Agung yang terletak di Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, ini tutup pada akan tutup, menjelang Imlek.

Selain menjadi pengurus Klenteng Sanggar Agung, Wahyuni kerap turun tangan langsung melayani umat Khonghucu yang membutuhkan peralatan sembahyang. Di Klenteng ini, selain menjadi tempat sembahyang, terdapat toko yang menyediakan peralatan sembahyang. Aneka ragam peralatan sembahyang dijual di toko ini, seperti yosua, kertas sembahyang, dan lilin.

Letak toko ini menjadi satu dengan gedung utama Klenteng, hanya saja toko berada di sayap kiri bangunan Klenteng.

Untuk menyambut datangnya Imlek, berbagai persiapan sudah dilakukan Klenteng Sanggar Agung. Persiapan itu antara lain membuat pintu masuk baru untuk pengunjung umum di ujung Selatan Klenteng. Asal tahu saja, selain menjadi tempat sembahyang umat Khonghucu, Klenteng Sanggar Agung ini juga terbuka warga umum non-Khonghucu yang ingin berkunjung. Bedanya, hanya terletak pada pintu masuknya saja.

“Kalau sekarang pengunjung umum masuknya lewat pintu utara yang masih jadi satu dengan toko dan kantor. Takutnya, kalau masih jadi satu, mengganggu umat yang akan ke toko dan ke kantor Sanggar saat Imlek nanti,” kata Wahyuni.

Selain membuat pintu masuk baru untuk pengunjung umum, Klenteng Sanggar Agung mempercantik bangunan dengan mengecat ulang.

“Kita sudah sediakan sekitar lima ribu paket perangkat sembahyang. Umat Khonghucu yang akan datang sembahyang saat Imlek nanti jumlahnya ribuan. Mereka biasanya lebih memilih beli di sini daripada mampir di jalan untuk beli perangkat sembahyang.Harga satu paketnya cuma Rp13.000,” kata Wahyuni.

Klenteng Sanggar Agung, atau juga dikenal dengan nama Klenteng Hong San Tang, dibangun sekitar tahun 1999 lalu. Klenteng ini letaknya berada di dalam Pantai Ria Kenjeran Surabaya.

Untuk masuk dalam area Pantai Ria Kenjeran, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp15.000 untuk kendaraan roda dua dengan 2 orang penumpang. Sedangkan untuk mobil dikenakan tiket sebesar Rp20.000 beserta 2 orang penumpang. Sedangkan jika penumpang mobil lebih dari dua orang, maka akan dikenakan tiket tambahan sebesar Rp5.000 per kepala.

Patung Dewi Kwan Im di belakang Klenteng Sanggar Agung Foto Amir Tejongopibarengid
Patung Dewi Kwan Im di belakang Klenteng Sanggar Agung. (Foto: Amir Tejo/ngopibareng.id)

Memuja Dewi Kwan Im
Selain menjadi tempat ibadah umat Khonghucu, klenteng ini juga terbuka untuk pengunjung umum. Tempat ini menjadi spot yang menarik bagi yang penggemar fotografi atau sekadar swafoto bersama pasangan. Karena di klenteng ini terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter yang membelakangi pantai timur Surabaya.

Kata Juliman, keberadaan patung Dewi Kwan Im di klenteng ini sebagai penanda jika klenteng ini memang memuja Dewi Kwan Im, karena tak semua klenteng di Indonesia memujanya.

Ia mengatakan, banyak penganut Khonghucu yang lebih sreg untuk memuja Dewi Kwan Im, karena dianggap sebagai dewi yang paling mau membantu kesusahan umat manusia.

Menurut kepercayaan umat Khonghucu, Dewi Kwan Im sebenarnya bersinggasana di kahyangan bersama dengan Buddha Gautama, namun dia enggan berada di kahyangan, malah lebih memilih turun ke bumi untuk membantu kesusahan manusia.

"Saya sendiri, merasa lebih sreg untuk memuja Dewi Kwan Im, dibanding dewa lainnya. Namun bukan berarti saya tak menyembah dewa lainnya," kata Juliman. (amr)

Reporter/Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini