Sepak Terjang Egianus Kagoya, Pemimpin KKB Papua

05 Dec 2018 10:07 Timur Indonesia

Jumlah korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di pegunungan Nduga, Papua hingga saat ini masih simpang-siur. Banyak sumber menyebut pekerja yang ditembak mati di kawasan itu mencapai 31 orang.

Untuk memastikan jumlah korban, personel gabungan dari TNI dan Polri saat ini telah berada di kawasan Nduga untuk melakukan penyisiran.

Polisi menyimpulkan, penyerangan ini dilakukan KKB yang kerap beraksi di Nduga. "Aksi biadab ini dilakukan KKB pimpinan Egianus Kagoya," kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal dalam siaran persnya pada Selasa 4 Desember 2018.

Penyerangan dilakukan pada karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Istaka Karya, pada Minggu 2 Desember 2018. Penembakan dilakukan saat pekerja proyek sedang mengerjakan pembangunan jembatan Trans Papua yang ada di kawasan itu. Sebanyak 31 pekerja dikabarkan tewas ditembak.

Tak cukup menembaki pekerja, KKB pimpinan Kagoya juga menembaki posko Yonif 755/Walet yang ada di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Penyerangan terhadap posko ini terjadi pada Senin 3 Desember 2018.

Lantas siapa sebenarnya Egianus Kagoya? Bagi aparat keamanan, Kagoya bukanlah nama asing. Dia disebut kerap memimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan serangkaian kekerasan dan penyiksaan.

Kelompok Egianus Kagoya Foto istimewa
Kelompok Egianus Kagoya. Foto: istimewa

Kagoya juga pernah memimpin menyerang lapangan terbang di Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Saat itu, dua anak beserta orang tuanya tewas. Selain itu, pilot Trigana Air dan dua orang sipil terluka.

Tak hanya itu, pada Oktober 2018 lalu, Kagoya juga diketahui memimpin penyanderaan terhadap 15 guru dan tenaga medis di Kecamatan Mependuma, Kabupaten Nduga Papua. Saat itu, kelompok Kagoya juga melakukan kekerasan seksual dan pemerkosaan.

KKB pimpinan Kagoya diduga memiliki sekitar 20-25 senjata api berstandar militer yang merupakan senjata hasil rampasan dari anggota TNI dan Polri yang mereka ambil secara paksa. Beberapa senjata mereka diketahui merupakan senjata standar NATO yang diperoleh secara ilegal.

"Mereka ini sudah lebih dari teroris. Sangat tidak manusiawi. Pekerja proyek pembangunan jalan yang akan mensejahterakan Papua malah ditembaki," kata Wakapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Dax Sianturi.

Sementara itu, aksi penembakan pada pekerja sipil di Papua ini terjadi ketika ratusan aktivis, termasuk satu warga Autralia ditangkap ketika melakukan aksi demonstrasi 1 Desember 2018 lalu.

Bagi sebagian warga Papua, awal Desember diyakini menjadi hari kemerdekaan bagi mereka dimana hari itu diperingati sebagai hari bebasnya Papua dari Belanda pada tahun 1961. (man)

Reporter/Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini