Makam Bupati pertama di Surabaya di pesarean Kromodjajan Konomam. (Foto: Pita Sari/Ngopibareng.id)
Makam Bupati pertama di Surabaya di pesarean Kromodjajan Konomam. (Foto: Pita Sari/Ngopibareng.id)

Mengenal Bupati Pertama Surabaya, Makamnya Seberang Stasiun Semut

Ngopibareng.id Feature 02 March 2020 19:12 WIB

Saat melintas di Stasiun Surabaya Kota (SB) atau yang lebih populer dengan stasiun Semut, tepatnya di Jalan Bongkaran Anda akan melihat tumpukan botol bekas yang tersusun rapi. Daerah itu dikenal banyak orang daerah pengepul barang bekas.

Di tengah deretan pengepul plastik tersebut terdapat masjid yang bernama Nurul Ihsan. Di kompleks masjid itu konon ada pesarean bupati pertama Kota Surabaya, yaitu Kandjeng Adipati Kromodjojodirono I atau Raden Gloendoeng.

Kandjeng Adipati Kromodjojodirono I atau Raden Gloendoeng bupati pertama Surabaya yang menjabat pada tahun 1819 hingga 1825.

Kandjeng Adipati Kromodjojodirono 1 ini merupakan putra dari Darmojudo V atau Joko Ismail Kromo Widjojo, seorang pejabat Surabaya pertama pada masa pemerintahan Belanda.

Kandjeng Adipati Kromodjojodirono disebut sebagai bupati, karena dulu Surabaya bukan merupakan Kabupaten. Tapi wilayah seperti kerajaan, kraton, kadipaten dan karesidenan.

Kawasan pesarean Kromodjajan Konomam terlihat masih terawat. Kesan tua amat terlihat dari batu bata yang sudah berlumutan dan papan nama yang mulai pudar tulisannya.

Makam bupati pertama di Surabaya Foto Pita SariNgopibarengidMakam bupati pertama di Surabaya. (Foto: Pita Sari/Ngopibareng.id)

Makam Kandjeng Adipati Kromodjojodirono berada di sebelah makam istri dan anaknya. Selain Makam Kandjeng Adipati Kromodjojodirono ada pula makam Raden Adipati Ario Kromo Djojo Adi Negoro Bupati Mojokerto yang wafat pada 14 Juni 1916.

Meskipun dimakamkan di Surabaya, tepatnya di kecamatan Pabean Cantikan, ahli warisnya berada di Mojokerto.

Mujiono, pengurus pesarean mengatakan, ahli warisnya masih sering berziarah setiap menjelang puasa.

"Biasanya puasa kurang lima hari ke sini (pesarean) bersama keluarga. Bisa sampai penuh di sini," ujar Mujiono.

Mujiono juga mengatakan, pesarean ini banyak dikunjungi masyarakat. Pesarean ini dibuka setelah Dhuzur dan ditutup setelah Isya'.

Bagi warga yang ingin datang berziarah ke makam tidak akan dipungut biaya. Sayangnya meskipun berada di tengah kota, papan petunjuk sangat minim dan kurang tampak.

Bahkan papan nama masjid pun tidak ada. Sehingga, orang baru saat melintas di daerah tersebut tak akan sadar bila ada pesarean orang penting di Surabaya.

Tak ada salahnya datang untuk berziarah dan mempelajari sejarah Kota Surabaya. Sebab di pesarean ini juga terdapat buku sejarah yang bisa dibaca.

Penulis : Pita Sari

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Feb 2021 05:59 WIB

Basarnas Palu Evakuasi Korban Longsor di Parigi Moutong

Warta Bumi

Puluhan penambang emas ilegal di Parigi Moutong tertimbun longsor.

25 Feb 2021 05:42 WIB

Penambang Emas Ilegal di Parigi Moutong Tertimbun Longsor

Warta Bumi

Puluhan penambang emas ilegal tertimbun longsor.

25 Feb 2021 04:42 WIB

Utang Revaluasi

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan tertarik polemik revaluasi aset dan utang negara.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...