Foto diambil dari www.codepink.org

Mengapa AS Sangat Rentan Covid-19?

Ikhwan Setiawan 06 April 2020 04:53 WIB

Nicolas J S Davies

Penulis buku Blood On Our Hands: the American Invansion and the Distinction of Iraq. Jurnalis lepas dan peneliti di CODEPINK

Amerika Serikat menjadi pusat baru pandemi global virus corona, dengan lebih dari 86.000 kasus, lebih banyak dari Cina atau Italia. Lebih dari seribu orang Amerika telah meninggal, tetapi itu tentunya hanyalah awal dari 'tabrakan maut' antara sistem layanan kesehatan publik AS yang tidak memadai dan pandemi yang sesungguhnya.

Di sisi lain, Cina dan Korea Selatan, yang memiliki sistem kesehatan publik menyeluruh yang memenuhi sebagian besar kebutuhan jaminan kesehatan rakyatnya, berhasil mengubah gelombang Covid-19 melalui karantina terarah, mobilisasi sumber daya layanan kesehatan publik dan program tes cepat serta secara efisien melakukan tes terhadap semua orang yang mungkin telah bersentuhan dengan virus.

China mengirim 40.000 dokter dan staf medis, termasuk 10.000 spesialis pernapasan, ke Provinsi Hubei dalam satu atau dua bulan pertama epidemi. Sudah 3 hari berturut-turut tanpa kasus baru, sehingga pembatasan sosial dicabut. Korea Selatan melakukan tes cepat terhadap lebih dari 300.000 orang, dan hanya 131 dari warganya yang meninggal.

Bruce Aylward dari WHO, ketika mengunjungi China pada akhir Februari, mengatakan, "Saya pikir pelajaran utama dari Tiongkok adalah kecepatan ... Semakin cepat Anda menemukan kasus, mengisolasi kasus, dan melacak kontak dekat mereka, semakin berhasil Anda... Di Cina, mereka mendirikan jaringan raksasa rumah sakit untuk demam. Di beberapa daerah, sebuah tim dapat mendatangi Anda dan mengusap Anda dan memiliki jawaban untuk Anda dalam empat hingga tujuh jam. Tetapi Anda harus diatur-- kecepatan adalah segalanya."

Para peneliti di Italia secara eksperimental mengkonfirmasi bahwa 3 dari 4 kasus Covid-19 tidak menunjukkan gejala, sehingga tidak bisa dideteksi hanya dengan menguji orang dengan gejala. Setelah serangkaian langkah salah yang mematikan, AS, yang memiliki kasus pertama pada 20 Januari, hari yang sama dengan Korea Selatan, lebih dari dua bulan kemudian baru saja memulai tes secara luas, ketika kita sudah memiliki banyak kasus dan jumlah kematian tertinggi ke-6 di dunia. Bahkan sekarang, AS membatasi tes hanya untuk orang dengan gejala, tidak melakukan tes yang ditargetkan terhadap kontak kasus baru yang sangat efektif di Tiongkok. Ini memastikan bahwa jika tidak sehat, pembawa virus tanpa gejala secara tidak sadar menyebarkanmya dan terus memicu pertumbuhan jumlah penderita.

Jadi, mengapa Amerika Serikat tidak mampu menghadapi pandemi ini seefisien atau seefektif Cina, Korea Selatan, Jerman atau negara lain? Kurangnya sistem kesehatan menyeluruh-yang didanai publik merupakan kekurangan yang cukup mengkhawatirkan. Namun, ketidakmampuan mendasar kita untuk mengaturnya sendiri adalah hasil dari aspek disfungsional lain dari masyarakat Amerika, termasuk korupsi sistem politik kita oleh kepentingan kelas dan komersial yang kuat serta "keistimewaan" Amerika yang membutakan kita terhadap apa yang dapat kita pelajari dari negara lain.

Juga, 'pendudukan militer' terhadap pikiran Amerika telah mencuci otak warga Amerika dengan konsep militer yang kuat, khususnya terkait "pertahanan" dan "keamanan." Dominasi tersebut juga memutarbalikkan prioritas pengeluaran federal untuk kepentingan perang dan militerisme dengan mengorbankan semua kebutuhan vital negara kita lainnya, termasuk kesehatan orang Amerika.

Mengapa kita tidak membom virus saja?

Tentu saja pertanyaan di atas konyol. Namun, begitulah para pemimpin AS menanggapi setiap bahaya yang kita hadapi, dengan pengalihan besar-besaran sumber daya nasional kita ke kompleks industri-militer yang membuat negara yang kaya ini kekurangan sumber daya untuk mengatasi masalah. Ironisnya, para pemimpin kita tidak bisa lagi berpura-pura menyelesaikannya dengan senjata dan perang. Bergantung pada apa yang dianggap sebagai pengeluaran "pertahanan", ia menyumbang hingga dua pertiga dari pengeluaran diskresioner federal. Bahkan sekarang, bailout untuk Boeing, pembuat senjata AS terbesar ke-2, lebih penting bagi Trump dan banyak orang di Kongres daripada membantu keluarga Amerika melewati krisis ini.

Pada akhir Perang Dingin pada tahun 1989, para pejabat senior mengatakan kepada Komite Anggaran Senat bahwa anggaran militer AS bisa dengan aman dipotong sebesar 50% selama sepuluh tahun ke depan. Ketua Komite, Jim Sasser, memuji momen itu sebagai "awal dari keutamaan ekonomi domestik." Tetapi pada tahun 2000, pengaruh kompleks industri-militer telah menyusutkan "dividen perdamaian" menjadi hanya 22% pengurangan dalam belanja militer dari tahun 1990 (setelah disesuaikan dengan inflasi).

Kemudian, pada tahun 2001, kompleks industri-militer menguasai kejahatan abad baru dengan 19 orang muda terutama Saudi yang hanya dipersenjatai dengan pemotong kotak untuk meluncurkan perang baru dan pembangunan militer AS yang paling mahal sejak Perang Dunia Kedua. Seperti yang dikatakan mantan jaksa kejahatan perang Nuremberg Benjamin Ferencz pada saat itu, ini bukan respons yang sah terhadap kejahatan 11 September. " Itu (perang di Timur Tengah) tidak pernah menjadi respons yang sah untuk menghukum orang yang tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan," kata Ferencz kepada NPR. "Jika Anda hanya membalas secara massal dengan membom Afghanistan, katakanlah, atau Taliban, Anda akan membunuh banyak orang yang tidak menyetujui apa yang telah terjadi."

Terlepas dari penghinaan, kegagalan berdarah dari apa yang disebut "Perang Global Melawan Teror", pembangunan-militer-oportunistik yang dilakukan untuk pembenaran masih memenangkan setiap pertempuran anggaran di Washington. Setelah disesuaikan dengan inflasi, anggaran militer AS tahun 2020 adalah 59% lebih tinggi dari tahun 2000, dan 23% lebih tinggi daripada tahun 1990.

Selama 20 tahun terakhir, AS telah mengalokasikan 4,7 triliun dollar lebih banyak untuk Pentagon daripada jika hanya mempertahankan anggarannya pada tingkat yang sama sejak 2000. Bahkan antara 1998 hingga 2010, seperti yang didokumentasikan oleh Carl Conetta dalam makalahnya, "An Undisciplined Defense: Understanding the $2 Trillion Surge in US Defense Spending" (Pertahanan yang Tidak Disiplin: Memahami Lonjakan 2 Triliun Dollar dalam Belanja Pertahanan AS), belanja perang yang sebenarnya digunakan untuk pengeluaran militer tambahan yang tidak terkait. Sebagian besar meningkatkan belanja pengadaan untuk mengembangkan dan membeli kapal perang baru yang sangat mahal buat Angkatan Laut, pesawat-pesawat perang yang menguras anggaran seperti Pesawat tempur F-35 untuk Angkatan Udara, dan daftar-beli senjata dan peralatan baru untuk setiap cabang militer.

Sejak 2010, pengalihan sumber daya nasional kita ke kompleks industri-militer yang belum pernah terjadi sebelumnya telah melampaui pengeluaran perang yang sebenarnya bahkan lebih besar. Obama menghabiskan lebih banyak untuk militer daripada Bush, dan sekarang Trump bahkan menghabiskan lebih banyak lagi. Selain pengeluaran tambahan Pentagon sebesar 4,7 triliun dollar, perang AS dan militerisme telah menelan biaya 1,3 triliun dollar lebih untuk Urusan Veteran sejak tahun 2000 (juga disesuaikan dengan inflasi). Warga Amerika yang pulang dari perang Amerika diperkirakan membutuhkan tingkat perawatan medis yang tidak seharusnya diberikan pemerintah AS kepada warganya.

Semua uang itu hilang sekarang. Seolah-olah menggunung di sebuah tempat di Afghanistan dan dibakar oleh beberapa dari 80.000 bom yang telah dijatuhkan AS ke negara miskin itu sejak tahun 2001. Jadi kita tidak perlu membelanjakannya untuk rumah sakit, ventilator, pelatihan medis, tes Covid-19 atau hal-hal yang sangat kita butuhkan dalam krisis non-militer yang sungguh nyata ini.

Enam triliun dollar kita benar-benar sia-sia-- atau, bahkan, lebih buruk. Perang melawan teror AS tidak mengalahkan atau mengakhiri terorisme. Perang itu hanya memicu spiral kekerasan dan kekacauan tanpa akhir di seluruh dunia. Mesin perang AS telah menghancurkan negari demi negari: Afghanistan, Irak, Somalia, Libya, Suriah, Yaman--tetapi tidak pernah membangun kembali atau membawa perdamaian bagi mereka. Sementara itu, Rusia dan Tiongkok telah membangun pertahanan abad ke-21 yang efektif menghadapi mesin perang Amerika yang usang.

Ketika negara-negara di seluruh dunia menghadapi bahaya Covid-19, mungkin respon paling sinis dari semua adalah keputusan pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi yang lebih brutal terhadap Iran, salah satu negara yang paling parah dilanda bencana, sudah kehabisan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa dan sumber daya lainnya dengan adanya sanksi AS.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyerukan gencatan senjata segera dalam setiap perang selama krisis ini. Khusus buat AS, diminta mencabut sanksi mematikannya terhadap semua tetangga kita di seluruh dunia. Pencabutan sanksi tersebut mencakup Iran, Korea Utara, Sudan, Suriah, Venezuela, Zimbabwe, dan, setidaknya, Kuba. Sebagaimana kita ketahui, Kuba memainkan peran berani dan aktif dalam memerangi pandemi seperti menyelamatkan para penumpang kapal pesiar Inggris yang terinfeksi yang ditolak masuk oleh AS dan negara-negara lain serta mengirimkan tim medis ke Italia dan negara-negara lain yang terinfeksi di seluruh dunia.

Ekonomi Komando Abad 21

"Ekonomi komando" (command economy) adalah istilah ejekan yang digunakan untuk mengkritik ekonomi terpusat di Eropa Timur selama Perang Dingin. Namun, ekonom Eric Schutz menggunakan ungkapan 21st Century Command Economy  sebagai subjudul untuk bukunya yang terbit tahun 2001, Market and Power, di mana ia menganalisis pengaruh kekuatan pasar dominan perusahaan multinasional monopolistik terhadap ekonomi AS.

Seperti yang dijelaskan Schutz, teori ekonomi neoliberal (atau neoklasik) mengabaikan faktor kritis dalam pasar "bebas". Faktor yang diabaikan ini adalah kekuasaan. Karena semakin banyak aspek kehidupan Amerika yang dipercayakan pada "tangan tak terlihat" pasar yang mistis, para pemain paling kuat di setiap pasar bebas menggunakan kekuasaan pasar mereka untuk memusatkan kekayaan dan kekuatan pasar yang lebih besar dalam kekuatan tangan mereka sendiri (tidak begitu tidak terlihat), mengusir pesaing yang lebih kecil keluar dari bisnis dan mengeksploitasi pemangku kepentingan lainnya: pelanggan; para karyawan; pemasok; pemerintah; dan komunitas lokal.

Sejak 1980, setiap sektor ekonomi AS secara bertahap telah diambil alih oleh sejumlah kecil perusahaan yang lebih besar. Diperkirakan dampaknya bisa melemahkan kehidupan Amerika: lebih sedikit peluang untuk bisnis kecil; berkurangnya investasi dalam infrastruktur dan layanan publik; upah menyusut atau stagnan; naiknya sewa; privatisasi pendidikan dan layanan kesehatan; penghancuran komunitas lokal; dan korupsi politik yang sistematis. Keputusan kritis yang memengaruhi seluruh kehidupan kita sekarang dibuat terutama atas penawaran dan untuk kepentingan bank besar, farmasi besar, teknologi besar, perusahaan besar, pengembang besar, kompleks industri militer dan 1% orang Amerika terkaya.

Jadi apakah kita akhirnya akan bangun dari impian Amerika kita, membuka mata kita dan mulai belajar dari tetangga kita di negara lain, termasuk yang memiliki sistem politik, ekonomi dan kesehatan yang berbeda dari kita?

Realitas rotasi posisi penting di mana para pejabat senior bisa berpindah di jajaran militer, perusahaan pelobi, dewan perusahaan, Kongres dan cabang eksekutif diduplikasi di setiap sektor ekonomi. Liz Fowler, yang menulis "the Affordable Care Act" (Undang-Undang Perawatan Terjangkau) sebagai staf Senat dan Gedung Putih, adalah seorang eksekutif senior di Wellpoint Health (sekarang Anthem), perusahaan induk Blue Cross-Blue Shield, yang sekarang menghasilkan miliaran dalam subsidi federal di bawah undang-undang yang dia tulis. Dia kemudian kembali ke "industri" sebagai eksekutif di Johnson & Johnson--sama seperti James "Mad Dog" Mattis kembali ke tempat duduknya di General Dynamics untuk memetik hasil dari "pelayanan publik" sebagai Menteri Pertahanan.

Apapun campuran kapitalisme dan sosialisme yang disukai setiap orang Amerika sebagai model bagi ekonomi AS, sangat sedikit orang Amerika yang memilih ekonomi komando abad ke-21 yang korup sebagai sistem yang mereka pilih untuk hidup di dalamnya. Berapa banyak politisi Amerika yang akan memenangkan pemilihan jika mereka dengan jujur ‚Äč‚Äčmengatakan kepada para pemilih bahwa ekonomi komando adalah sistem yang mereka percayai?

Kita hidup dalam masyarakat di mana semua orang tahu kesepakatan busuk itu, seperti lagu Leonard Cohen Every Body Knows, namun kita tetap tersesat di antara apa yang ilusi dan nyata. Kita menjadi korban dari strategi "memecah belah dan memerintah" di mana si kaya dan kuat mengendalikan politik dan media bersama-sama setiap sektor lain dari ekonomi komando abad ke-21 ini. Trump, Biden, dan Pimpinan Kongres hanyalah boneka terakhir mereka, yang saling menjelekkan dan berdebat satu sama lain ketika mereka dan para penggajinya tertawa sepanjang jalan menuju ke bank.

Ada ironi biadab dalam cara Partai Demokrat menutup barisan di sekitar Biden tepat ketika Covid-19 muncul. Sebulan yang lalu, tampaknya tahun 2020 mungkin menjadi tahun di mana orang Amerika akhirnya tidak akan menjumpai mobilisasi informasi yang didanai dengan baik untuk mengaburkan kepentingan sebenarnya terkait industri asuransi kesehatan AS yang mencari laba dan mendapatkan jaminan kesehatan menyeluruh yang didanai publik. Alih-alih, para pemimpin Demokrat tampaknya puas dengan kejahatan yang lebih kecil dari kekalahan memalukan lainnya dan empat tahun lebih Trump mengatasi (dalam pikiran mereka) bahaya yang lebih besar dari kepresidenan Sanders dan jaminan kesehatan menyeluruh.

Tetapi sekarang masyarakat disfungsional ini tertampar kekuatan alam yang sebenarnya, virus kecil yang dapat membunuh jutaan orang. Negara-negara lain tengah berjuang keras menapaki ujian yang menuntut jaminan kesehatan dan sistem sosial mereka yang lebih sukses daripada kita. Jadi apakah kita akhirnya akan bangun dari mimpi Amerika kita, membuka mata kita dan mulai belajar dari tetangga kita di negara lain, termasuk yang memiliki sistem politik, ekonomi dan kesehatan yang berbeda dari kita? Hidup kita tergantung kemauan untuk belajar itu.

Diterjemahkan oleh Ikwan Setiawan

Davies, Nicolas J S. "Why is the U.S so excepionally vulnerable to covid-19?", Codepink, March 27, 2020. Tersedia di: https://www.codepink.org/why_is_the_us_so_exceptionally_vulnerable_to_covid_19.

Penulis : Ikhwan Setiawan

Editor : Arif Afandi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

13 Aug 2020 19:23 WIB

Satgas Malang Kesulitan Tracing Keluarga Jenazah Suspek Covid-19

Jawa Timur

Hasil swab belum keluar dan pihak keluarga masih tertekan.

13 Aug 2020 19:07 WIB

Bupati Pasuruan Izinkan Masyarakat Gelar Agustusan, Ini Syaratnya

Ngopibareng Pasuruan

Warga diizinkan menggelar perayaan peringatan HUT RI.

13 Aug 2020 18:53 WIB

HUT RI, Nama Agus Dapat Tiket Hingga Makan Gratis di Banyuwangi

Jawa Timur

Fasilitas bagi pemilik nama agus antara lain makan di hotel mewah.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...