Syamsiah, Bukan Aisyah! Mencanting Sekar Tandjung, Manuk Titing, dan Religi Kain Sarung

25 Sep 2018 08:12 Feature

“Nomor saya 081.803.000.405. Nomor XL ya mas. Harus pakai ini, kalau tidak sinyalnya byar pet. Kadang muncul kadang tidak ada blas. Kasihan yang menelpon. Nama saya Syamsiah ya, bukan Aisyah seperti yang di tulis di Buku Batik Jawa Timur. Itu salah! Dapat dari mana nama itu. Kalau salah tulis itu mestinya ya diganti, dibetulkan, masak ya jalan terus. Bukunya dibagi pula.”

__________________

Kenes. Sedikit protes. Nggerundel juga. Betapa tidak, nama bagi orang Madura itu seperti hayat di kandung badan. Maka, nulisnya harus benar. Tidak boleh salah. Sebab, orang tua itu mencarikan nama buat anaknya pasti tak main-main. Mengandun maksud. Mengandung Makna. Bahkan doa. Karena itu Syamsiah tak bisa ditulis begitu saja menjadi Aisyah.  

Wajah kurang puas itu begitu menggema. Entah sudah berapa jurnalis memwancari perempuan perkasa ini, dan kalimat pembukanya pasti demikian. Dia, Syamsiah, adalah pemilik rumah batik Batik Sekar Tandjung, Sampang, Madura.

Syamsiah kini  68 tahun. Masih begitu cetar membahana dan menyala dengan batik. Perempuan pensiunan bidan ini termasuk voluntir keberadaan batik Sampang. Setelah pensiun, baginya ada banyak waktu untuk fokus ke dunia batik.  Batik bagi dia adalah salah satu aktivitas yang membawa semangat luar biasa.

Sisi lain Ibu Syam, dengan pangkat kepensiunannya, sebagai mantan bidan senior, di sela kesibukannya mencipta dan bekerja keras mengerek nama batik Sekar Tandjung, dia tidak tega menolak kunjungan pasien-pasien lamanya yang terus beranak pinak. 

Padahal pasien lama itu juga membawa membawa pasien baru. Anak, cucu, menantu, tak ada habisnya. Mereka meminta pertolongan saat kehamilan dan kelahiran datang. Jadi, kerab terlihat, orang-orang hamil dan siap melahirkan berbaur dengan orang-orang yang sedang mencanting batik.

Syamsiah sadar betul, bertukar nomor telpon adalah omset. Semakin banyak nomor telponnya beredar, makin sering pula batiknya mendapatkan pelanggan baru. Apalagi kalau bertukar nomor telpon dengan penulis berita. Ibaratnya seperti bertukar nomor telpon dengan seribu orang. Kalau sudah begini dia bisa berhemat dengan cetakan kartu nama.

Bicara batik, sebagai voluntir batik di Kabupaten Sampang, nama batik Sekar Tandjung tentu sudah cukup menjulang. Ini bisa dilihat dari riil penjualan. Dalam sebulan, dihitung secara sederhana, omset Syamsiah mampu mencapai di atas seratus juta rupiah. Kalau sedang sepi, kisaran omsetnya masih mampu di angka tujuh puluh lima juta rupiah.

Omset sebesar itu biasa dikerjakan dengan 15 orang karyawan. Jika dia bersinergi dengan kawan-kawannya pembatik pewarna alam, maka omset akan membengkak mencapai 200 juta rupiah dalam sebulan. Jumlah pembatik pun juga akan lebih banyak dari biasanya, dan itu bisa mengimpor tenaga pembatik tetangga. Kabupaten Pamekasan.

“Batik sekarang ada dimana-mana. Maju sangat pesat. Kawan-kawan pembatik Madura, di Sampang khususnya, makin kreatif  dan kaya dengan motif. Motif yang paling banyak dicipta adalah yang kontemporer. Saya juga membuatnya, tapi tidak banyak. Justru batik Sekar Tandjung lebih banyak fokus ke motif-motif tradisional. Motif-motif yang sangat Madura. Dipadu dengan ikon-ikon Sampang. Plus muatan lokal sebagai isen-isen,” kata Syamsiah.

Kabupaten Sampang memiliki beberapa sentra batik Masingmasing aktif dengan muatan lokalitas untuk penetrasi pasar fotoidingopibarengid
Kabupaten Sampang memiliki beberapa sentra batik. Masing-masing aktif dengan muatan lokalitas untuk penetrasi pasar. foto:idi/ngopibareng.id

Isen-isen yang dimaksud Syamsiah adalah background. Isen-isen tradisional itu justru sangat disukai di Madura sendiri. Ini untuk mengembangkan pasar lokal. Isen-isen yang sangat membumi di Sampang, misalkan Burung Buraq, Bangau, Manuk Titing. Untuk dasarannya tetap menggunakan motif Sekar Tandjung. Mungkin di luar Sampang, kata dia, isen-isen seperti itu ada juga namun bentuknya beda. Sampang punya ciri khas tersendiri untuk bentuk.

Selain isen-isen itu, menurut Syamsiah, Sampang juga memiliki ikon jambu air, mente, juga ketela pohon. Ini pencanangan Bupati yang harus didukung dan dikembangkan. Jadi, di dalam Sekar Tandjung, ikon-ikon itu juga dimaksukkan dalan desain batiknya.

“Ketela pohon memang sudah menjadi ikon kabupaten lain. Sebab itu Sampang hanya mengambil  akar buahnya saja. Sebenarnya, tidak hanya ikon tambahan itu saja yang dikembangkan. Saya malah sedang giat menyosialisasikan motif baru Sekar Tandjung yang mungkin akan lebih mendekatkan dengan pecinta batik. Yaitu motif penjual sate Madura. Soto Madura. Sapi kerab. Juga nelayan-nelayan tangguh dari Madura. Ke depan juga akan memasukkan situs ratu ebu yang hanya dimiliki Sampang.”

Seiring dengan muatan tradisi yang makin dilekatkan di Batik Sekar Tandjung, Syamsiah juga makin getol menggarap pasar lokal. Bagi dia saat ini adalah pasar bebas dunia batik. Jadi pasar batik akan merambah kemana-mana. Kalau pasar lokal tidak dikuati, lucu jadinya kalau di wilayah sendiri kedodoran menggarap pasar. Atau hanya jadi pemain cadangan dalam permainan pasar batik bebas itu.

Manuk Titing yang kakinya diangkat sebelah, Burung Buraq, itulah salah satu muatan lokal andalan untuk manggarap pasar lokal. Bentuknya tidak lagi sekadar kain batik, tetapi menjelma menjadi sarung. Seiring dengan kesalehan masyarakat Madura, sarung adalah kebutuhan utama untuk menjalankan ibadah.

Sekar Tandjung juga mencipta Batik Gilih. Dipasarkan luas di Pulau Mandangin. Pulau yang masuk di wilayah Sampang. “Minat mereka besar, karena ada sarung dengan gambar Buroq dan manuk Titing yang amat dekat religiusitas mereka,” pungkas Syamsiah. widikamidi

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini