Menakar Konflik Emil Dardak Vs Mas Ipin

22 Jan 2019 14:41 Politik

Lembaga Riset Politik Surabaya Consulting Group (SCG) menilai publik berhak tahu ada apa di balik polemik yang melibatkan Bupati Trenggalek Emil Dardak dan wakilnya Muhammad Nur Arifin (Mas Ipin) di media massa.

Direktur Komunikasi Politik SCG Aprizaldi beranggapan bahwa polemik tersebut, adalah upaya menyudutkan soerang saja, yakni Ipin. Seperti diketahui belakangan Mas Ipin memang tak tampil di publik dan tak menjalankan tugasnya sebagai wakil bupati.

“Polemik Mas Emil dan Mas Ipin hanyalah soal menyudutkan Mas Ipin yang tidak muncul ke publik beberapa hari ini. Sepertinya itu plot yang ingin dibangun Mas Emil karena beliau sendiri yang memulai narasinya dengan berbicara di media,” ujar Aprizaldi saat dimintai pendapat, Selasa 22 Januari 2019.

Sementara menurutnya ada pula cerita di balik itu semua, yang sampai saat ini masih samar-samar. Hal itu lah yang menurutnya menarik diungkap dan ditelaah. Terutama soal manuver dan problem politik apa di antara dua pemimpin muda itu.

Dia memaparkan, menarik kemudian untuk mencermati mengapa Ipin cenderung diam menyikapi polemik tersebut. Diamnya Ipin bisa dimaknai dalam dua tafsir politik. Pertama, sebagai bentuk kesantunan berpolitik karena Ipin memang bawahan Emil.

“Mas Ipin dikenal sebagai santri, aktif di Ansor Jatim. Tradisi santri selalu taat kepada seniornya. Sikap diamnya bisa dimaknai bahwa dia menghormati Mas Emil sebagai senior dan atasan, sehingga tak mau berpolemik terbuka,” ujarnya.

Tafsir kedua, sambung Aprizaldi, adalah ada unsur politik di balik sikap diam dan menepinya Arifin dari hiruk-pikuk polemik tersebut.

”Kalau melihat rekam jejak Mas Ipin, dia bukan orang yang lari dari tugas. Hampir tiap hari dia bikin program Lapor Rakyat untuk mengabarkan kerjanya. Publik juga mengenal dia sebagai sosok muda tangguh yang memulai perjuangan politiknya dari bawah, dari nol, tanpa membawa orang tua atau patron tertentu. Jadi menarik untuk tahu ada apa di balik sikap Mas Ipin,” jelas Aprizaldi.

Besar kemungkinan, papar Aprizaldi, ada tekanan-tekanan politik terkait penunjukan wabup baru setelah Arifin naik jabatan menjadi bupati seiring dilantiknya Emil Dardak sebagai wagub Jatim.

”Ada rumor politik bahwa Ipin ditekan pihak tertentu untuk menerima sosok wabup baru. Kabarnya sosok itu adalah kepala dinas. Padahal, sebagai bupati nanti, Mas Ipin perlu orang sehati untuk membangun Trenggalek. Sehingga perlu berbicara dari hati ke hati. Bukan hasil tekanan dan titipan. Nah, ketika ada tekanan, Ipin rupanya memilih menepi karena dia tak mau berpolemik terbuka, apalagi dengan pihak yang dianggap senior,” ujarnya.

Sebelumnya Ipin membuat heboh lantaran tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas. Hal ini tentu menjadi polemik bagi publik, terutama mengenai sanksi yang akan didapat pejabat publik yang mangkir dari tugas negara ini.

Bahkan Bupatinya Emil Dardak mengaku tak tahu menahu kemana kepergian Ipin. Ia menyebut tak ada izin atau pengajuan cuti apapun. (frd)

Penulis : Farid Rahman
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini