Ustadz Shamsi Ali ketika menyampaikan pesan Islam di Amerika Serikat. (foto: ist)

Memahami Ismul A'dzam, Nama Teragung Allah SWT (2)

Khazanah 21 May 2018 16:44 WIB
“Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmahNya Allah. Sesungguhnya mengampuni semua dosa-dosa hambaNya”. Firman Allah dalam Al-Quran.

oleh: Imam Shamsi Ali,
Presiden Nusantara Foundation, Imam Masjid New York, Amerika Serikat.

Allah SWT itu adalah Tuhan yang mengedepankan sifat kasih sayangnya di atas segala sifatNya yang lain. “Wa rahmati wasi’at kulla syai’” (dan kasihKu melebih segala sesuatu). 

Menunjukkan bahwa marahNya Allah sekalipun itu ada dalam ruang lingkup kasihNya. Bagaikan marahnya orang tua kepada anaknya, tentu bukan karena sentimen emosi semata. Walaupun tentunya permisalan ini tidak bersifat mutlak. Tapi rahmah Allah sudah pasti meliputi segala keadaan dan ruang.

Salah satu bukti terbesar dari rahmah Allah itu adalah pintu-pintu kasih yang dibuka luas untuk mengampuni hamba-hambaNya.

“Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa hamba-hambaNya”, demikian Al-Quran.

“Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmahNya Allah. Sesingguhnya mengampuni semua dosa-dosa hambaNya”. Demikian firman Allah pada ayat lain. 

Dalam berbagai Hadist juga demikian Allah membuka pintu seluas-luasnya kepada mereka yang berbuat dosa di malam hari untuk diampuni di siang hari. Dan membuka pintu taubat di siang hari bagi pendosa siang hari. 

Bahkan Allah SWT masih membuka. Kesempatan bertaubat sebelum terdengar suara terakhir yang akan keluar dari tenggorokan seorang hamba yang sakratul maut. Suara ini dikenal dalam bahasa Arab dengan “ghirghaar”. 

Dalam Hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya sebelum tiba masa di mana matahari terbit dari barat”. 

Artinya pintu taubat selalu terbuka selama kematian atau Kiamat belum terjadi.

Baik ayat-ayat Al-Quran maupun Hadist-Hadist Rasulullah SAW semua menggambarkan bagaimana kasih dan sayang Allah dan RasulNya. 

Rasulullah SAW pernah sangat marah karena seorang wanita dari kalangan musuh terbunuh di medan perang. Atau ketika sebuah sarang semut dibakar tanpa alasan apapun.

Dari semua itu pesan moral terbesarnya adalah bahwa kasih sayang, apalagi di bulan Ramadhan ini menjadi sesuatu yang mutlak.

Melakukan kekerasan-kekerasan, terorisme dan pembunuhan kaum sipil jelas tidak saja terkutuk dalam agama. Tapi seeungguhnya merusak secara gamblang ajaran agama yang menjunjung tinggi kehidupan dan kedamaian.

Oleh karenanya pesan Ramadhan terpenting kali ini adalah membangun kasih sayang di antara sesama manusia. Sebab hanya dengan itu Allah akan memberikan rahmah dan kasihNya kepada kita. Hadist menegaskan: “man laa yarham laa yurham” (siapa yang tidak memiliki kasih sayang, tak akan dikasihi oleh Allah SWT”. 

“Irham man fil-ardh yarhamka man fis-samaa” (kasihi siapa yang ada di bumi, niscaya Dia yang dilangit mengasihimu”, sabda baginda Rasulullah SAW.

Dan mereka yang mati dengan kebencian dan perlakukan buruk kepada orang lain, sudah pasti tidak menerima rahmah sebagai prasyarat untuk masuk syurga. Sebaliknya justeru kebencian dan perlakuan mereka mendatangkan murka dan siksa Allah yang sangat pedih.

Semoga Allah menjaga kita, menjaga bangsa dan negara kita dari prilaku yang jauh dari nilai-nilai kasih sayang. Amin. (habis)

New York, 3 Ramadhan 1439 H.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

23 Jun 2020 13:26 WIB

Siapa Pacar Iqbaal Ramadhan?

Hiburan

Iqbaal Ramadhan buka-bukaan, pacarnya orang Indonesia.

21 Jun 2020 16:59 WIB

Siswi SMP Surabaya Olah Kulit Telur Jadi Pasta Gigi

Teknologi dan Inovasi

Olahan pasta gigi dari kulit telur dijual dengan harga terjangkau.

07 Jun 2020 12:19 WIB

Salurkan Dana Rp84,9 Miliar, Aksi LazisNU se-Jatim Masa Pandemi

Khazanah

Selama Ramadhan 1441 H menjadi prestasi penting

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...