Megawati Soekarnoputri, KH Said Aqil Siradj, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Puti Guntur Soekarno, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, berfoto bersama usai acara Haul Bung Karno, di Blitar, Rabu, 20 Juni 2018.

Megawati Menangis di Acara Haul Bung Karno

20 Jun 2018 20:33

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tak mampu menahan tangisnya saat memberi sambutan di Haul Bung Karno. Itu terjadi di kompleks makam Bung Karno, Blitar.

Beberapa kali ia terhenti berpidato karena terisak. "Saya ingat betul Bung Karno dimakamkan di sini atas perintah Soeharto. Padahal, keluarga menginginkan dimakamkan di Batu Tulis," katanya, Rabu, 20 Juni 2018.

Haul alis peringatan ulng tahun kematian Bung Karno kali ini sangat istimewa. Sejumlah menteri dari PDI Perjuangan hadir. Juga Ketua Umum PKB A. Muhaimin Iskandar yang juga didampingi para menteri dari PKB.

Haul yang berlangsung seminggu sebelum Pemilihan Gubernur Jawa Timur, 27 Juni 2018 ini. Haul yang juga dihadiri Cagub Saifullah Yusuf dan Cawagub Puti Guntur Soekarno seakan menjadi ajang konsolidasi antara kaum santri dan nasionalis.

Para tokoh yang hadir juga mencerminkan solidnya keluarga NU dan keluarga Bung Karno. Sejumlah kiai sepuh NU seperti KH Zaenudin Jazuli, KH Nurul Huda Jazuli, KH Miftahul Ahyar, dan para kiai sepuh lainya.

KH Said Aqil Siradj, Muhaimin Iskandar, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Mahfud MD, usai berziarah di makam Bung Karno, Blitar, Rabu, 20 Juni 2018.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj memberikan tausiah. Yampak hadir mantan Ketua Mahkah Konstitusi Mahfudz MD. Sedangkan dari PDIP tampak Menhumkam Yasona Laoly, Sekjen Harto Kristianto dan Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah.

Tidak seperti biasanya, saat memberikan sambutan, Megawati beberapa kali terhenti karena menahan tangis. Apalagi saat menceritakan tentang ayahnya, Bung Karno. Termasuk saat menceritakan hubungan Bung Karno dengan para kiai NU.

"Saya ingat betul bagaimana para kiai NU sampai memberikan gelar waliyu al-amri al-dlaruri bi al-syaukah, pemimpin yang sah secara darurat," katanya sambil tersekat.

Ia juga menceritakan bagaimana waktu masih kecil dikenalkan dengan kiai. Itu terjadi setelah ada tamu para tokoh agama yang memakai baju putih berpeci dan bersandal jepit. "Saat itu saya baru tahu yang namany kiai," tuturnya.

Mbak Mega --demikian ia biasa dipanggil-- menegaskan eratnya hubungan tokoh-tokoh nasional dan para kiai dalam perjuangan bangsa Indonesia. Karena itu, ia berharap agar hubungan ini terus terjalin dengan baik sebagai pilat bangsa," tegasnya. (azh)