Lockdown Matahari. (Foto: NASA)

Matahari Alami Ledakan Besar, Apakah Lockdown Matahari Berakhir?

Warta Bumi 02 June 2020 09:14 WIB

Setelah mengalami masa lockdown selama 100 hari di tahun 2020, Matahari terekam mengalami ledakan besar. Ledakan ini diklaim NASA sebagai yang terbesar sejak tahun 2017.

Ledakan yang terekam Solar Dynamics Observatory milik NASA ini cukup mengejutkan setelah matahari sebelumnya mamsuki masa lockdown dengan tidak menampakkan bintik kuningnya.

Dengan ledakan kali ini, Matahari disebut bakal aktif kembali. "Setelah beberapa bulan aktivitas Matahari kecil, ilmuwan mengamati klaster baru untuk melihat apakah akan berkembang atau lenyap. Bintik Matahari mungkin saja akan menjadi pertanda dari Matahari meningkat dan lebih aktif," ujar NASA.

Namun untuk memastikan aktivitas Matahari apakah akan kembali normal seperti sebelumnya setidaknya membutuhkan penelitian hingga setengah tahun.

Ilmuwan harus mendapatkan data yang utuh apakah Solar Minimum Matahari sudah kembali normal ataukah masih redup.

Yang pasti ledakan Matahari yang cukup besar akan menggangu perangkat telekomunikasi satelit ataupun sistem kelistrikan planet bumi.

"Ini merupakan ledakan Matahari kelas M pertama sejak Oktober 2017 dan ilmuwan akan mengamati untuk menyaksikan apakah benar Matahari mulai terbangun," kata NASA.

Selama ini ilmuwan mengkategorikan solar flare Matahari menjadi tiga jenis yakni C, M dan X dimana C adalah yang terkuat, M menengah dan X terlemah.

Lockdown Matahari, Apa Itu Dolton Minimum?

Sebelumnya, Matahari dikabarkan mengalami Lockdown Matahari atau Dalton Minimum atau solar minimum yang ditandai dengan berkurangnya bintik Matahari. Menurut para ahli, berkurangnya bintik matahari akan mengancam perubahan iklim mulai dari cuaca beku yang berujung pada kelaparan serta terjadinya gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Terjadinya Danton Minimum atau solar minimum kali ini merupakan yang terparah dalam satu abad terakhir. Akibat penurunan ekstrem ini, medan magnet matahari menjadi lemah sehingga akan terjadi sinar kosmik ekstra ke tata surya kita.

"Kelebihan sinar kosmik menimbulkan bahaya kesehatan bagi para astronot dan perubahan udara kutub, memengaruhi elektro kimia atmosfer bumi dan dapat membantu memicu petir," ujarnya.

Para ilmuwan NASA sebelumnya mengkawatirkan lockdown Matahari akan parah seperti yang pernah terjadi pada tahun 1790 dan 1830.

Saat terjadi Dalton Minimum pada waktu itu, udara menjadi sangat dingin hingga anjlok 2 derajat celcius selama 20 tahun yang memicu bencana ekstrem dan kelaparan hebat.

Selain itu, saat itu juga muncul letusan besar gunung berapi, yang memperparah bencana kelaparan.

Di Indonesia saat itu muncul letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 yang membunuh 71 ribu orang. Pada tahun 1816 juga terjadi tahun tanpa musim panas.

Dari penelitian yang ada, sepanjang 2020 ini setidaknya sudah ada 100 hari di mana matahari menunjukkan nol bintiknya.

Apa itu bintik matahari? Bintik Matahari atau Sunspot adalah aktivitas medan magnet di permukaan matahari.

Bintik matahari memunculkan semburan matahari serta lontaran massa korona matahari.

Penulis : Rohman Taufik

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Sep 2020 23:15 WIB

Tol Manado-Bitung Diresmikan, Sulut Akan Berkembang Cepat

Nasional

Peresmian dilakukan secara virtual dengan tetap menerapkan protokol kesehata.

29 Sep 2020 22:58 WIB

Viral, Musala di Tangerang Dirusak Al Quran Dicoret

Reportase

Coretan berisi kallimat ujaran kebencian.

29 Sep 2020 22:30 WIB

Disambati Petani, Calon Bupati Kediri Janjikan BPJS

Pilkada

Cabup Kediri disambati harga sayur anjlok di masa pandemi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...