Mbah Slamet dan kawasan konservasi mata air Sumber Suyo. (Foto: Fendi/Ngopibareng.id)
Mbah Slamet dan kawasan konservasi mata air Sumber Suyo. (Foto: Fendi/Ngopibareng.id)

Mata Air Sumber Suyo, Wisata dan Tempat Terapi ODGJ di Kediri

Ngopibareng.id Feature 16 January 2021 18:35 WIB

Sejak 3 tahun terakhir, Mbah Slamet memutuskan untuk tinggal menyepi di konservasi mata air Sumber Suyo di lingkungan Centong Kelurahan Bawang Kecamatan Pesantren Kota Kediri.

Kakek berusia 90 tahun ini menetap di mushola Sumber Suyo. Ia adalah juru kunci yang menjaga dan merawat sumber mata air itu. Ngopibareng.id berusaha menggali informasi terkait rahasia mata air Sumber Suyo yang konon diyakini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit jiwa.

"Diberi nama Sumber Suyo itu karena dulu masyarakat sini waktu kerja bakti, secara tidak sengaja menemukan sumber mata air. Kerja bakti itu kalau dalam bahasa orang sini namanya suyo. Lalu diberi nama Sumber Suyo," katanya.

Pada musim kemarau, mata air Sumber Suyo tidak pernah surut. Bahkan airnya sangat jernih. Sumber Suyo ini memiliki kedalaman kurang lebih satu meter.

Pada Sumber Suyo ini ada 5 sumber mata air yang debitnya cukup deras. Di sekitarnya dikelilingi pohon jenis pule dan pohon pisang, sehingga terlihat rindang dan sejuk. Cocok untuk tempat berteduh mencari ketenangan, usai rutinitas kerja.

Air di Sumber Suyo tampak tenang mengalir. Keberadaan ratusan ikan terlihat dari atas permukaan. "Air ini biasa saya digunakan untuk memandikan orang yang kelainan jiwa. Tentunya selain dimandikan harus didoakan, meminta kepada Tuhan agar pasien bisa sembuh," kata Mbah Slamet.

Kata Mbah Slamet, ada dua penyebab yang membuat orang menderita gangguan kelainan jiwa. Antara lain karena gangguan makhluk tak kasat mata serta depresi dari dalam jiwa orang itu sendiri.

Mbah Slamet baju putih penunggu sekaligus dukun penyembuh ODGJ di Sumber Suyo  Mbah Slamet (baju putih), penunggu sekaligus dukun penyembuh ODGJ di Sumber Suyo.

"Orang yang menderita gangguan jiwa ini sulit disembuhkan. Bisa sembuh bila orang yang menanganinya harus menguasai ilmu kebatinan. Kalau ditangani di sini Insya Allah sembuh," katanya.

Mbah Slamet mengaku, selama tinggal pernah diberi pusaka berupa batu yang tampak sepintas memiliki bulu. Batu berbulu itu jatuh dari atas pohon sekitar pukul 12.00 WIB.

Katanya, di Sumber Suyo ini terdapat banyak makhluk astral yang bersemayam. Namun mereka sekali tidak pernah mengganggu masyarakat yang datang berkunjung.

Terkadang ada juga orang yang iseng memanfaatkan kesakralan tempat ini untuk melakukan ritual bakar dupa meminta nomor togel. Karena memiliki niatan yang tidak baik, perbuatan orang tersebut akhirnya diketahui oleh Mbah Slamet, lalu diusir dari lokasi.

"Kapan hari saya didatangi empat gendruwo (makhluk halus). Tetapi mereka tidak menganggu. Hanya sebatas mengajak saya ngobrol. Andai kata tempat ini dijadikan destinasi wisata mata air, saya yakinkan makhluk-makhluk itu tidak akan menganggu," kata Mbah Slamet.

Mbah Slamet mengklaim telah menyembuhkan penderita gangguan jiwa lebih dari 10 kali. Kebanyakan pasien berasal dari luar daerah. Setelah menjalani dan dinyatakan sembuh, Mbah Slamet meminta keluarga pasien untuk segera meninggalkan mata air ini.

Salah satu pasien ODGJ yang menjalani terapi di Sumber SuyoSalah satu pasien ODGJ yang menjalani terapi di Sumber Suyo.

Mbah Slamet menyembuhkan pasien dengan melakukan ritual doa menggunakan bahasa Jawa. Menurutnya, jika iktihar yang dilakukam mendapat ridho dari Allah, maka penderita gangguan jiwa bisa disembuhkan dalam rentang tujuh sampai sepuluh hari.

Ia mengaku ilmu kebatinan yang dimiliki ini merupakan warisan turun-temurun dari mendiang ayahnya. Meskipun banyak orang yang datang membutuhkan jasanya, namun kakek berusia hampir 100 tahun ini tidak pernah pasang tarif. Jika ada keluarga yang memberikan tanda talih asih, ia terima. Tetapi bila tidak diberi pun ia iklas.

Sesaat wawancara terhenti. Perhatian tertuju pada sosok pemuda dalam kondisi bertelanjang dada sedang duduk di sebuah bangunan di atas sumber mata air. 

"Dia sudah beberapa bulan ke sini, saya mencoba mengobatinya. Dia itu kalau ngamuk merusak apa saja," kata Mbah Slamet.

Kata Mbah Slamet, waktu menjalani pengobatan, pria itu diantar oleh petugas Kepolisian. Untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari pemuda ini dibantu salah satu kerabatnya dari Nganjuk yang berstatus ASN.

Mbah Slamet mengaku, proses penyembuhan pasien ini butuh waktu lama, karena pemuda dengan tinggi badan sekitar 168 centimeter ini sangat sulit untuk diajak berkomunikasi. Meski demikian, Mbah Slamet mengaku optimis bisa menyembuhkan lelaki tersebut dengan kemampuan spiritualnya.

Penulis : Fendhy Plesmana

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 13:39 WIB

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di RSLI Lebih Dari 90 Persen, Menkes

Surabaya

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di RSLI Lebih Dari 90 Persen, Menkes Apresiasi

28 Feb 2021 13:28 WIB

Akhir Pekan, 72 Penumpang KA di Stasiun Malang Pakai Test GeNose

Perhubungan

Test Genose mulai ada di Stasiun Malang Kota Baru.

28 Feb 2021 13:14 WIB

Masuk Zona Kuning, Anggota DPRD Provinsi Jatim Puji Satgas Covid

Jawa Timur

Jatim masuk zona kuning, anggota DPRD Provinsi Jatim puji kinerja Satgas.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...