Masyarakat yang menolak penggantian nama Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda, malah mengubahnya menjadi Jalan Soekarwo. (foto: hrs/ngopibareng)
Masyarakat yang menolak penggantian nama Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda, malah mengubahnya menjadi Jalan Soekarwo. (foto: hrs/ngopibareng)

Pegiat Sejarah Surabaya 'Ganti' Nama Jalan Dinoyo Jadi Soekarwo

Ngopibareng.id Surabaya 07 March 2018 16:48 WIB

Puluhan pegiat sejarah Kota Surabaya lakukan aksi di Jalan Dinoyo Surabaya. Aksi ini sebagai wujud penolakan mereka atas perubahan nama Jalan Dinoyo menjadi Jalan Pasundan yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

Dalam aksinya, mereka bahkan seolah berniat mengganti nama jalan tersebut menjadi Jalan Soekarwo,-- nama dari Gubernur Jawa Timur. Berubahnya nama jalan ini menurut Direktur Sjarikat Poesaka Soerabaia, Freddy Istanto sangat tidak relevan. Apalagi nama Jalan Dinoyo sudah terekam oleh sejarah dan itu tak pantas untuk diganti.

"Meski Soekarwo sebagai pemimpin di Jawa Timur ia tak berhak mengubah jalan tersebut sepihak. Karena nama Jalan Dinoyo ini sudah terkenal di seluruh Indonesia bahwa ini milik Surabaya. Jadi jangan diubah sembarangan," kata Freddy di sela aksi, Rabu 7 Maret 2018.

Dia pun menyampaikan jika nama jalan yang sudah begitu populer ini, seharusnya menjadi apresiasi tersendiri. Jangan sampai diubah sembarangan dengan nama yang tidak jelas.

"Pokoknya kalau sampai nama jalan ini benar-benar diganti, maka kami juga akan menggantinya dengan nama Soekarwo," tegasnya.

Tak hanya Freddy, Kuncarsono Prasetyo selaku praktisi sejarah juga menyampaikan hal yang sama. Jalan yang punya history ini seharusnya dipertahankan, karena ini nama jalan ini ada lebih lama ketimbang Soekarwo.

"Pemerintah harusnya tak berbuat seperti, karena jika Soekarwo tahu sejarah dari jalan ini maka dirinya tak akan berani mengubahnya," ucap Kuncarsono.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo mencanangkan pergantian nama Jalan Gunungsari menjadi Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda. Menurutnya pergantian ini merupakan bagian dari harmonisasi budaya Jawa dan Sunda. (hrs)

Penulis : Haris Dwi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

15 Jan 2021 23:50 WIB

Curhatan Cowok Gondrong Jadi Korban Begal Payudara

Human Interest

Pelaku begal mengira cowok gondrong adalah perempuan.

15 Jan 2021 23:40 WIB

PSSI: AFC Batalkan Piala Asia U-16 dan U-19 2020

Timnas

Pandemi Covid-19 membuat gelaran bola pun kacau.

15 Jan 2021 23:30 WIB

Cegah Kekerasan Seksual di Kampus, UB Terbitkan Peraturan Rektor

Pojok Unibraw

Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan akan didirikan.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...