Masjid Pintu Seribu, Bagaimana sih Ceritanya?

22 May 2018 16:37 Gerak Wisata

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi Pesona Ramadan Ramadan 2018. Salah satunya dengan berwisata religi. Misalnya ke Masjid Agung Nurul Yaqin. Masjid ini arsiteksturnya sangat unik. Yang pasti, berbeda dengan masjid-masjid besar pada umumnya.

Masjid Agung Nurul Yaqin sering disebut sebagai Masjid Pintu Seribu. Maklum, masjid ini memang memiliki pintu yang sangat banyak. Layaknya Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah.

Lokasi masjid ini tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tepatnya di Jalan Kampung Bayur, Priuk Jaya, Tangerang, Banten. Atau, berada di sekitar perbatasan kota dan kabupaten Tangerang. Di Jalan Bayur Raya.

Pengurus Masjid Agung Nurul Yaqin Mahpudin menjelaskan, masjid pintu seribu didirikan oleh almarhum Syekh Al Bakhir Mahdi. Tepatnya tahun 1978. Selain memiliki bangunan yang luas dan panjang, masjid ini juga unik karena tidak memiliki kubah besar dan megah seperti masjid pada umumnya.

Arsitektur yang unik mengundang decak fotokasarunxistimewa
Arsitektur yang unik, mengundang decak. foto:kasarunx/istimewa

Di setiap lorong, terdapat angka 999. Dan angka ini memiliki makna tertentu. "Angka 999 yang ada di setiap lorong dan juga pagar merupakan pengabungan dari 99 nama-nama allah dalam asmaul husna dan jumlah dari 9 wali songo," jelas Mahpudin, Selasa (22/5).

Di dalamnya juga terdapat tiga makam. Letaknya tidak seberapa jauh dari tempat shalat. Satu dari tiga makam adalah milik ulama besar Sayyidi Syekh Abdull Qodir Al Jaelani.

Buat kalian yang ingin datang ke masjid ini, disarankan membawa lampu senter. Apalagi jika ingin menelusuri bagian dalam masjid. Karena, kita harus melewati lorong demi lorong yang sangat sempit dan pendek. Jalanan yang berliku dan gelap persis seperti sedang melewati sebuah labirin.

"Dulu tantangan pembangunan masjid tidak hanya karena wilayah dan dana. Tantangan menyebarkan syiar Islam tambah sulit ketika masjid dituduh tempat menyebarkan aliran sesat. Karena bentuk masjidnya yang nggak biasa, beda dari masjid pada umumnya," jelas Mahpudin.

Mahpudin pun menerangkan, suasana kegelapan ini sengaja diciptakan. Kemudian dia memulai ceritanya tentang kehidupan setelah di dunia nanti. Bagaimana rasanya ketika berada di dalam kubur, tidak ada cahaya, hidup dalam kegelapan, pengap, sunyi, tak ada satupun yang dapat menolong kecuali amalan selama hidup.

"Kami selalu mengajak pengunjung untuk sejenak merenung tentang kehidupan di akhirat kelak. Kemudian ayat-ayat Alquran kami lantunkan. Di saat itu juga biasanya batin pengunjung tercabik, menangis tanpa sebab. Muncul rasa takut kepada sang pencipta," tutur Mahpudin.

Tidak hanya sensasi kegelapan saja yang akan dirasakan, pengunjung akan merasakan sensasi indahnya cahaya saat keluar dari ruangan.

"Secara tidak langsung, ini bisa menjadi perjalanan spiritual yang luar biasa. Agar pengunjung bisa mengerti makna kehidupan ini yang terlalu indah untuk disia-siakan," kata Mahpudin.

Tertutupi pepohonan dan rumah warga
Tertutupi pepohonan dan rumah warga.

Di pintu masjid nantinya kita akan menemui peraturan-peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhi oleh pengunjung.

Oh iya, jika kalian berminat menjadikan masjid ini sebagai objek untuk mengikuti lomba foto dan video GenPI di media sosial, jangan asal jepret-jepret ya. Harus minta izin dulu sama penjaga masjidnya. Kalo sudah dapat izin, baru kalian posting foto dan video di platform media sosial seperti Instagram, Facebook, Youtube, dan Blog.

Masjid ini sangat tepat dijadikan spot foto dan mengambil video. Karena jika kita lihat masjid ini dari jauh, bangunan komplek masjid terlihat seperti kapal besar. Unik banget.

Dengan banyaknya masjid yang unik di Indonesia, Menteri Pariwisata Arief Yahya pun menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI). Tujuannya untuk mengembangkan destinasi wisata religi berbasis masjid.

Dia mengatakan, masjid sebagai tempat ibadah memiliki nilai-nilai spiritual. Namun, masjid sebagai destinasi wisata juga punya nilai ekonomi.

"Harus sepakat jika masjid merupakan Destinasi Wisata Religi yang mengandung spiritual value dan economic value. Harus dikelola secara modern, dengan ekosistem pariwisata halal," sebut Menpar Arief Yahya

Yang tidak kalah pentingnya, juga komitmen Pemerintah Daerahnya dalam mengembangkan Destinasi Wisata Religi tersebut.

"Atraksi bisa dikembangkan karena bernilai sejarah, keunikan serta aktivitas yang ada pada masjid atau destinasi yang dipilih," pungkasnya. (*)

Penulis : Pesona Indonesia


Bagikan artikel ini