Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto di kasus el-KTP. (Foto: Dok. Pribadi)
Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto di kasus el-KTP. (Foto: Dok. Pribadi)

Masih Dipenjara, Setya Novanto Digugat Rp2,2 Triliun

Ngopibareng.id Hukum 07 November 2020 15:58 WIB

Masih ingat dengan Fredrich Yunadi? Ia adalah mantan pengacara Setya Novanto. Dulu, saat mantan Ketua DPR RI itu ditetapkan tersangka terkait kasus e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2017, Fredrich Yunadi yang mati-matian membelanya. Ia bahkan turut dijebloskan ke penjara karena merekayasa Setya Novanto dirawat di rumah sakit.

Kini, situasinya terbalik. Fredrich Yunadi menggugat mantan kliennya karena telah melakukan wanprestasi tidak melunasi jasanya selama melakukan pendampingan hukum.

"Menyatakan perbuatan tergugat I dan tergugat II yang tidak membayar seluruh biaya jasa kuasa hukum kepada penggugat merupakan perbuatan wanprestasi," bunyi petitum Fredrich dikutip dari situs resmi Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (SIPP PN Jaksel), Jumat 6 November 2020.

Gugatan Fredrich dicatat dengan Nomor Perkara 264/Pdt.G/2020/PN JKT.SEL dengan 20 Maret 2020 sebagai tanggal administrasinya. Pada gugatan tersebut, ada dua pihak tergugat.

Tergugat pertama yakni Setya Novanto dan tergugat kedua adalah Deisti Astriani atau istri dari Setya Novanto.

Materiil dan Immateriil

Kerugian materiil:

A. 14 legal action (upaya hukum) X Rp 2.000.000.000 per-legal action (tiap upaya hukum) = Rp 28.000.000.000

Rp 1.000.000.000 yang sudah dibayar, kekurangan = Rp 27.000.000.000 (Rp 27 miliar).

B. 2% x Rp 27.000.000.000 (Rp 27 miliar) per bulan bilamana dihitung dengan nilai investasi suku bunga bank, terhitung sejak somasi disampaikan dan diterima Tergugat I pada Oktober 2019 hingga putusan perkara ini berkekuatan hukum tetap.

Kerugian immateriil:

Total Rp. 2.256.125.000.000 dari perincian:

A. 1 bulan pidana kurungan = Rp 62.500.000 X 90 (sembilan puluh) bulan (total masa pidana kurungan PENGGUGAT) = Rp 5.625.000.000

B. Uang tunai pembayaran denda sebesar Rp 500.000.000

C. Kehilangan pemasukan nafkah sebesar Rp 25.000.000.000 per bulannya X 90 = Rp 2.250.000.000.000

Pengacara dan Mantan Klien Sama-sama Dipenjara

Fredrich Yunadi dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat. Dia juga diwajibkan membayar denda Rp500 juta subsider lima bulan kurungan.

Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) memperberat hukuman menjadi 7,5 tahun penjara serta denda Rp500 juta subsider 8 bulan kurungan. Fredrich Yunadi terbukti melanggar Pasal 21 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Fredrich Yunadi merintangi proses penyidikan kasus korupsi el-KTP terhadap tersangka Setya Novanto. Pengacara tersebut telah merekayasa agar Setya Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Ia bekerja sama dengan dokter Bimanesh Sutarjo 'menyulap' rekam medis milik Setya Novanto.

Senasib dengan mantan pengacaranya, Setya Novanto hingga detik ini masih mendekam dipenjara. Mantan Ketua Umum Golkar itu dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, denda Rp 500 juta, dan dicabut hak politiknya selama lima tahun oleh hakim Pengadilan Tipikor. Hukuman penjara yang dijatuhkan, sedikit lebih ringan dibandingkan tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum, yaitu penjara 16 tahun.

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

18 Jan 2021 11:55 WIB

Presiden Jokowi akan Meninjau Bencana Banjir di Kalsel

Nasional

Presiden akan didampingi Mensos dan Menteri PUPR.

18 Jan 2021 11:43 WIB

Michelle Ulang Tahun, Barrack Obama Cuitkan Kata Mesra 

Internasional

Wapres terpilih Kamala Harris juga ucapkan terima kasih.

18 Jan 2021 11:23 WIB

11 Pegawai Covid-19, Pengadilan Negeri Surabaya Lockdown 5 Hari

Surabaya

Ada 11 orang Pegawai Pengadilan Negeri (PN) Surabaya positif Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...