Ma’ruf Amin Sambang Krapyak, Mampir ke Sultan dan Cak Nun

15 Oct 2018 20:22 Khazanah

KH Ma’ruf Amin semakin aktif berkeliling ke pondok pesantren. Untuk menyapa para santri, khususnya bersilaturahim dengan para pengasuh lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia itu. Selama dua hari, Minggu dan Senin, 14-15 Oktober, Mustasyar PBNU ini ke Yogyakarta, termasuk ke Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dan pertemuan internal PWNU Yogyakarta.

Namun, Kiai Ma’ruf Amin tak menyia-nyiakan waktunya untuk bersilaturahmi ke sejumlah tokoh. Seperti dilakukan ke Sultan Hamengku Buwono XI di lingkungan Keraton Yogyakarta, Senin, 15 Oktober. Setelah dari Keraton, Kiai Ma'ruf pun masih memiliki sejumlah acara seperti bertandang ke kediaman Buya Syafii Maarif.

"Saya berkeliling ke mana-mana," lanjut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Semua itu dilakukan untuk menyamakan persepsi dan pandangan kenegaraan. Dengan diskusi itu, mampu diketahui persoalan-persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat.

SAMBANG KH Maruf Amin ketika bersama Sultan Hamengku Buwono XI di lingkungan Keraton Yogyakarta foto ma for ngopibarengid
SAMBANG: KH Ma'ruf Amin ketika bersama Sultan Hamengku Buwono XI di lingkungan Keraton Yogyakarta. (foto: ma for ngopibareng.id)
CAK NUN Kiai Maruf Amin berkesempatan mengunjungi Emha Ainun Nadjib penyair yang lebih dikenal sebagai Kiai Mbeling itu foto yusron for ngopibarengid
CAK NUN: Kiai Ma’ruf Amin berkesempatan mengunjungi Emha Ainun Nadjib, penyair yang lebih dikenal sebagai Kiai Mbeling itu. (foto: yusron for ngopibareng.id)

Sehari sebelumnya, pada Minggu 14 Oktober, Kiai Ma’ruf Amin berkesempatan mengunjungi Emha Ainun Nadjib, penyair yang lebih dikenal sebagai Kiai Mbeling itu.

“Saya bersyukur, bisa diterima oleh Emha Ainun Nadjid, tokoh budayawan kita yang terkenal," ucap Kiai Ma'ruf di Rumah Maiyah, Yogyakarta.

Kiai Maruf Amin mengungkapkan, pertama kali bertemu dengan Cak Nun menjelang turunnya Presiden Ke-2 RI Soeharto di Istana Negara.

"Mengantar Pak Harto turun. Kemudian ketemu di Mekkah sekali lagi," ungkap Kiai Ma'ruf.

Dia pun meminta doa dan restu Cak Nun untuk maju sebagai Cawapres dalam Pilpres 2019. Selain itu, dirinya juga meminta masukan dan saran.

"Cak Nun sebagai orang kebudayaan, saya ingin memperoleh masukan-masukan, saran-saran, bagaimana kita membangun negara ini. Supaya lebih baik, lebih rukun, lebih sejahtera, dan lebih maju," jelas Kiai Ma'ruf.

Menanggapi pernyataan Kiai Ma'ruf, Cak Nun justru merendah diri. Menurutnya, tak pantas dimintai penilaian terkait hal tersebut.

"Sebenarnya saya yang bersyukur kepada Allah, karena saya tidak merasa pada levelnya, pada tempatnya untuk panjenengan rawuh kesini. Karena saya, ibarat sepakbola tidak ada di klub atau kesebelasan, wasitnya bukan, hakim garisnya enggak, official PSSI dan klub enggak," pungkasnya.

Sementara itu, pada bagian lain Kiai Maruf Amin menjelaskan terkait foto yang tersebar itu, pada momen dirinya sedang sakit. Kiai Ma'ruf sebenarnya tak menampik bahwa memang benar foto tersebut dirinya. Namun, lanjut Ma'ruf, foto itu diambil tahun 2016 lalu. Jadi, foto itu ketika beredar sekarang berarti hoaks, tidak benar adanya.


Di Rumah Maiyah

Bagian dari perjalanan Cak Nun ke mana-mana buat menebarkan Sinau Bareng dan benih-benih lain yang baik ke tengah masyarakat adalah justru menyempatkan berhenti sejenak di Rumah Maiyah Kadipiro itu sendiri untuk menemui orang-orang yang meminta sowan dan silaturahmi.

Di antara mereka adalah orang-orang yang kedatangannya menjadikan pertemuan itu sebenarnya berbobot relasi politik. Tapi itu juga tergantung bagaimana politik dipahami, toh kata itu mengalami perkembangan pemaknaan. Pada titik itu, kita melihat Cak Nun memilih memosisikan semua tamu-tamu itu pada perspektif inklusivitas, memberi ruang, menemani, bahkan kerap menjadi orang tua bagi mereka.

Sebagai tamu, mereka pun mendapatkan penghormatan yang sebaik-baiknya dari Cak Nun.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْأٰخِرِفَلْيـكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barang siapa percaya kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini