Mari Berbangsa Cebong dan Kampret

09 Oct 2018 18:38 Arif Afandi

ENTAH sejak kapan narasi politik dengan menggunakan nama binatang bermula?. Tapi itulah yang terjadi sekarang.

Sejak pertarungan calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berlangsung, narasi "hewan" itu makin mengemuka. Makin mewarnai berbagai lini masa.

Para pendukung Jokowi menjuluki pendukung Prabowo dengan para kampret. Sebaliknya, pendukung Prabowo menyebut pendukung Jokowi para cebong.

Terkadang mereka menyebutnya dengan oplosan Indonesia-Inggris. Cebong-er untuk pendukung Jokowi, dan Kampreter untuk pendukung Prabowo.

Tampaknya sederhana. Tapi ini sama halnya meredukai urusan besar menjadi masalah kecil. Urusan negara menjadi urusan binatang.

Bukankan memilih presiden itu adalah urusan besar? Menyangkut hajat hidup 250 juta lebih nyawa rakyat Indonesia. Juga menjaga bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa raga.

Pasti para pendiri bangsa menangis di langit sana. Mereka yang telah berjuang mati-matian, kini bangsa itu menjadi hanya dibagi menjadi dua golongan hewan: Cebong dan Kampret.

Cebong adalah anak katak yang hidup di jagat air dan darat. Kampret juga hewan yang hidup di dua dunia: udara dan tempat gelap seperti goa dan semacamnya.

Sebelum era pertarungan berulang Jokowi dan Prabowo berlangsung, sempat muncul idiom hewan untuk menyebut tokoh politik. Presiden SBY sempat dijuluki dengan kebo alias kerbau.

Secara komunal, para penganut PKS sempat disebut dengan sebutan kaum sapi karena skandal korupsi daging sapi. Kaum yang suka berpakaian ke-arab-arab-an dijuluki dengan kaum onta.

Identifikasi kelompok dalam percaturan politik sebetulnya hal biasa. Sebab politik itu sendiri adalah perebutan kekuasaan antar kelompok kepentingan.

Karena itu, menyamakan kelompok politik dengan identitas simbolik menjadi hal biasa. Biasanya yang dimunculkan spirit perjuangan dari kelompok tersebut.

Karena itulah parpol memerlukan membuat simbol-simbol khusus sesuai dengan identitas kelompoknya. Seperti kepala banteng, pohon beringin, Kakbah dan sebagainya.

Di awal kemerdekaan sempat ada julukan kelompok kepentingan yang dipakai untuk mengejek lawan. Misalnya PKI menyebut kelompok NU dengan kaum sarungan.

Meski itu ditujukan sebagai sebutan ejekan, tapi masih masuk akal karena warga NU suka bersarung. KH Agus Salim pernah disindir dengan teriakan "mbeeek" saat sidang parlemen karena jenggotnya yang menyerupai jenggot kambing.

Jadi semua sebutan untuk kelompoknya maupun lawan politik itu masih berkaitan dengan ciri khas masing-masing. Kalau tidak menunjukkan kepentingan politik yang diperjuangkan, ya ciri fisik tokoh politik yang dijulukinya. 

Secara akademik, Indonesianis Cliffort Geertz mengidentifikasi kelompok masyarakat menjadi Abangan, Santri dan Priyayi. Masing-masing menunjukkan orientasi sosial politik mereka.

Abangan menunjuk kaum sekuler, santri untuk kelompok muslim dan priyayi untuk mereka para birokrat dan kelas menengah atas. Kategorisasi itu beririsan dengan pengelompokan politik saat itu.

Adakah masukknya nama binatang menjadi narasi julukan politik menunjukkan merosotnya kualitas peradaban politik kita? Saya ndak berani merumuskannya.

Yang bisa dilacak hanyalah sebutan cebong bagi pendukung Jokowi karena presiden asal Solo ini gemar memelihara Kodok. Lantas apa Prabowo juga suka memelihara Kampret alias kelelawar?

Yang pasti pertarungan wacana politik kini menjadi tereduksi menjadi sesuatu yang kurang bermakna. Menjadi pertarungan simbol binatang. Bukan lagi sesuatu yang berkelas dan membanggakan.

Idealnya wacana politik adalah soal pertarungan gagasan. Pertarungan ide untuk membawa bangsa ini menuju peradaban baru yang lebih maju dari sebelumnya. Tentu peradaban yang berperikemanusiaan, bukan berperikebinatangan.

Atau memang kita sebenarnya sedang dalam peradaban yang baru suka menjadi dan meniru sifat binatang, khususnya cebong dan kampret? Kalau ya, mari bersama kita menjadi bangsa Cebong dan Kampret!

*) Arif Afandi adalah founder ngopibareng.id

Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini