Mampukah Bersungguh Para Pemimpin Berpuasa?

08 May 2019 11:38 Erros Djarot

Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, keluarga besar kami selalu menyambutnya dengan perasaan suka cita. Satu hal sederhana yang saya syukuri, saat melewati puasa di hari pertama, seluruh keluarga berkumpul melakukan buka bersama. Atmosfer di dalam dan di luar rumah terasa damai dan mencerahkan kalbu. Puji syukur dan kepasrahan kepada sang Chalik, menajadi satu-satunya kegiatan nonfisik yang memenuhi ruang batin. Indah dan menyenangkan.

Tahun ini, datangnya bulan suci Ramadhan terasa sedikit berbeda. Di malam tarawih perdana, tak secercah sinar pun datang mengantar  keceriaan. Padahal biasanya, pada setiap Ramadhan hari pertama tiba, sinar terang yang membawa harapan dan kehangatan, terasa hadir memenuhi rongga dada. Kali ini justru perasaan gamang tanpa kepastian yang datang  membahana menggoda rasa dan pikiran. Di tengah kecamuk batin yang tak karuan ini; pertanyaan aneh muncul dalam hati; sejauh inikah Pemilu-Pilpres 2019 mengganggu ketenangan jiwa dan pikiranku sebagai anak bangsa?

Setelah sejenak merenung, jawaban saya dapatkan. Ternyata datangnya pertanyaan aneh ini tidak datang begitu saja tanpa sebab. Sepanjang siang hingga sore hari, ternyata saya telah terdorong untuk membuka sejumlah kiriman berita dari sekian WA grup di mana saya terdaftar. Sejumlah viral yang mengerikan sempat saya lihat dan cermati. Dari mulai perang meme yang sangat memprihatikan hingga kedua pendukung Paslon 01-02 yang masih saja ramai saling ejek dalam kebencian dan hawa permusuhan.

Pada tampilan lain lebih memprihatinkan lagi. Ada sejumlah anak muda yang dengan seragam siap perang, berjamaah meneriakan siap berjihad sampai titik darah penghabisan untuk membela dan memenangkan calon presiden dan wakil presiden paslon tertentu. Pada peristiwa di tempat berbeda pada hari yang sama, muncul tampilan sejumlah anak muda memperagakan ilmu kebal. Mereka di tebas dan di gorok lehernya dengan sebilah golok tajam, tapi mereka tak luka sedikitpun. Dengan penuh semangat  seraya bertakbir ...Allahu Akbar! Mereka pun berikrar siap berjihad.

Konyolnya di sisi lain, para pemimpin seakan memelihara keadaan ini. Pihak yang merasa berada di atas angin karena sangat yakin akan keluar sebagai pemenang, tak ambil pusing menyerahkan sepenuhnya masalah ketenangan dan keamanan pada pihak aparat keamanan. Seakan masalah ketenangan, keamanan, dan kewarasan warga bangsa ini, sepenuhnya menjadi tanggungjawab pihak aparat keamanan (Polisi-TNI). Sementara para pemimpin di jajaran institusi politik, tetap saja melakukan ‘business as usual’, kerja seperti biasa. Tetap bertahan pada posisi masing-masing seperti batu karang. Saling merasa paling benar dan paling berhak memimpin rakyat dan bangsa ini ke depan.

Para elite pendukung paslon tertentu yang merasa telah dalam posisi sebagai pemenang, tetap bersikap kurang bijak dan terkesan jumawa. Ejekan mereka tentang perilaku paslon lawan yang dianggap telah ‘keok bertempur’, tetap saja di-bully dengan ejekan yang cukup keras dan melukai perasaan. Bahkan seorang kolumnis spesialis sosial media yang pro paslon di atas angin kemenangan, menurunkan sejumlah tulisan yang sangat merendahkan martabat lawan. Juga perilaku seorang aktivis kondang yang ekstra memberi hormat kepad presiden dengan niat mengejek melecehkan capres yang lain. Hal mana sangat memancing emosi pendukung kubu lawan --yang sebenarnya bukan lawan melainkan kawan dan bahkan sesama anggota keluarga warga bangsa.

Mereka seperti tak peduli adanya hingar bingar teriakan siap jihad dari pendukung paslon lawan di tingkat akar rumput. Mungkin didasari pemikiran; kalau toh mereka berani bergerak, akan berhadapan dengan aparat keaman negara (Polisi-TNI). Dengan kata lain mereka akan ‘dibabat’ habis oleh pasukan keamanan negara yang telah siap menghadapi segala kemungkinan. Jika demikian yang ada dalam benak mereka, sungguh celaka pemikiran sesat ini. 

 

Yang sangat menggelisahkan dan membuat pikiran ini menjadi gamang, ketika terlontar pertanyaan dalam hati; ke mana dan di mana gerangan para pemimpin bangsa ini. Sampai detik ini seperti tidak ada upaya nyata untuk melakukan pendinginan suasana. Yang ada malah dagelan tokoh politik yang atas nama pribadi mengeluarkan pernyataan  mengharamkan sesuatu yang dulu justru lantang diserukan dalam kampanyenya. Ada lagi kegiatan silaturahmi politik di tingkat elite yang aroma ‘meminta bagian kue kekuasaan’ begitu kuat tercium dan terbaca. Dengan kata lain, para elite hanya sibuk seputar urusan kursi dan kekuasaan. Sementara rakyatnya siap berperang antar sesama saudara sebangsa.

 

Menyedihkan, sekaligus mengerikan.

 

Pertanyaan paling utama; akankah bulan suci Ramadhan tetap diisi oleh berbagai narasi, ceramah, dakwah, dan sejumlah perilaku elite-pemimpin yang tetap asyik menebar ujaran kebencian dan permusuhan, menyoal kursi dan kekuasaan? Tidak kah kewajiban utama para pemimpin memasuki bulan suci Ramadhan ini adalah memberi suri tauladan tetang berbuat keabaikan dalam bingkai cinta antar sesama?  Bukankah menegakan keadilan, kejujuran, kepedulian kepada  rakyat… utamanya rakyat miskin=kaum duafa=kaum marhaen dan rakyat jelata, justru yang harus menjadi tugas paling utama bagi para pemimpin? Terkhusus di bulan Ramadhan ini!

 

Sangat celaka negeri ini bila para pemimpinnya memaknai berpuasa di bulan suci Ramadhan hanya sebatas puasa menahan lapar, makan dan minum. Karena puasa yang sangat diharapkan oleh rakyat adalah berpuasa untuk  tidak membiarkan nafsu kekuasaan menguasai diri mereka di sepanjang bulan suci Ramadhan kali ini. Tidak tetap berada dalam semangat menghalalkan segala cara untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan. Termasuk menghalalkan hari-hari suci di bulan Ramadhan ini untuk menjadikan kegiatan keagamaan sebagai panggung kampanye politik perebuatan kekuasaan. Apalagi dengan menebar amarah dan kebencian. 

 

Semoga para pemimpin bangsa ini, mampu bersungguh dalam berpuasa di bulan suci Ramadhan kali ini. Tentunya berpuasa dalam artian yang luas dan mendalam. Agar para malaikat merasa perlu dan sudi mampir menjenguk negeri ini. Semata karena aura kedamaian yang penuh cinta kasih dalam kehidupan rakyat Indonesia di bulan suci Ramadhan ini, aromanya tercium hingga hamparan awan di langit ketujuh. 

 

Semoga…amin!  

 

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

*)Eros Djarot-dikutip dari laman watyutink.com

Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini