Malam Lailatul Qodar, Omset Pedagang Ampel Naik

28 May 2019 19:44 Serba-serbi

Malam ganjil di bulan Ramadhan tidak hanya memberi berkah kepada pengunjung kawasan wisata Sunan Ampel yang beribadah. Berkah Ramadhan juga dirasakan para pedagang, yang menjajakan dagangannya di sekitaran Masjid Ampel, pada Senin malam kemarin.

Pantauan ngopibareng.id di lapangan, nampak jalanan menuju Masjid Ampel tersendat karena banyaknya pengunjung yang berhenti untuk membeli atau sekedar melihat-lihat.

Rohmat salah satu pedagang yang menjual kurma mengatakan, sejak malam 21 dagangannya laku keras. Dia yang menjual kurma Ajwa atau dikenal sebagai kurma Nabi, bisa meraup omset sebesar Rp5 juta dalam sehari. Dia menyebut omsetnya naik 5 kali lipat dari hari hari biasa.

“Iya ramai sekali dari malam 21 kemarin, ya lumayan kemarin malam 21 bawa uang Rp5 juta hasil dagangan sehari. Biasanya kalau tidak ramai ya cuma dapat satu juta itu udah bagus,” ucapnya.

Dirinya menjual beberapa jenis kurma dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp30 Ribu/Kg hingga 90 Ribu/Kg. Menurutnya, kurma yang lebih mahal relatif ukurannya lebih besar dan manisnya berbeda dari yang murah.

Salah satu pembeli bernama Dhohir menilai kurma yang dijual di sekitaran Masjid Ampel rasanya berbeda dengan yang dijual di supermarket.

“Rasanya enak disini, mungkin kurmanya di berkahi oleh Gusti Allah karena dekat dengan makam sunan,” ujarnya sambil tertawa.

Transaksi jual beli kurma di Kawasan Sunan Ampel Foto Faiqngopibareng
Transaksi jual beli kurma di Kawasan Sunan Ampel. (Foto: Faiq/ngopibareng)

Sementara Imron yang menjual tasbih secara keliling mengatakan, dagangannya laris karena banyaknya peziarah yang datang.

“Iya banyak peziarah yang datang ramai sekali, enaknya mereka rata-rata lupa membawa tasbih jadi otomatis mereka pasti beli karena kalau wirid’an tidak memakai tasbih ya nggak afdol,” beber Imron. Ia menjual satu tasbih seharga Rp10 ribu.

Pemandangan unik justru terjadi di sekitar area tempat masuk makam. Banyak anak kecil yang menawarkan plastik sebagai tempat untuk sandal atau sepatu peziarah agar tidak hilang atau tertukar saat ziarah.

Salah satu pembeli bernama Suci mengatakan jika dirinya membeli plastik karena tidak tega melihat anak-anak kecil tersebut. “Saya beli karena ya gak tega melihatnya. Saya dari dulu sebenarnya ziarah tidak pernah kehilangan atau tertukar sandal saya,” tuturnya. (faq)

Penulis : Faiq Azmi
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini