Tim Maos App saat acara International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention (Foto: dok. istimewa)
Tim Maos App saat acara International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention (Foto: dok. istimewa)

Mahasiswa UB Rancang Alat Deteksi Dini Penyakit Skizofrenia

Ngopibareng.id Pojok Unibraw 15 November 2019 12:48 WIB

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, merancang alat pendeteksi dini penyakit skizofrenia yang diberi nama Maos App.

Ada pun kepanjangan dari 'Maos App yaitu Mathematic Fractal Analysis for Schizophrenia Early Detection on Fingerprint Pattern', merupakan aplikasi terintegrasi dengan alat pendeteksi sidik jari yang mengusung matematika fraktal.

Alat itu dirancang oleh tiga mahasiswa UB, yaitu Rizka Fajriana Putri Ramadhani (Biologi/2019), Nadia Riqqah Nurlayla (Biologi/2019), dan Rahmah Nur Diana (Teknik Informatika/2019).

Dalam kajian aplikasi ini, salah satu anggota tim Maos App, Rizka Fajriana Putri Ramadhani mengatakan, ia bersama rekan-rekannya bekerjasama dengan salah satu rumah sakit di Malang untuk mengambil sampel sidik jari 1.000 orang secara acak. Pengambilan sampel ini tujuannya untuk mengidentifikasi adanya keterkaitan antara sidik jari dengan penyakit skizofrenia.

Dari hasil penelitian atas sampel tersebut didapatkan hasil bahwa sidik jari antara penderita skizofrenia dan yang bukan terdapat perbedaan yang sangat signifikan, hingga mencapai 95 sampai 99 persen.

"Kami menggunakan matematika fraktal dalam mendeteksi sidik jari penderita skizofrenia. Karena fraktal sendiri dapat mendeteksi ketidaksamaan pola sidik jari melalui rumus box-counting," ujarnya pada Jumat 15 November 2019 dalam rilis resmi yang diterima Ngopibareng.id.

 

Prinsip dari rumus fraktal box-counting adalah menghitung jumlah box yang menutupi objek sidik jari. Kemudian dilakukan serangkaian iterasi menggunakan rumus yang sama dengan memberi ukuran box yang berbeda-beda. Sehingga dari serangkaian deteksi sidik jari itu mereka mendapatkan nilai akurasi di atas 80 persen.

Proses pendeteksiannya pun terbilang mudah. Setelah mendeteksi sidik jari, algoritma yang muncul akan diaplikasikan ke dalam bentuk aplikasi mobile yang telah dihubungkan. Sebelumnya, alat deteksi sidik jari itu telah disambungkan dengan gadget.

"Melalui aplikasi ini, pengguna aplikasi dapat mengetahui apakah pengguna memiliki gejala skizofrenia atau normal. Aplikasi ini juga memiliki fitur untuk memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi mengalami skizofrenia," ujar mahasiswi baru itu.

Penemuan ini pun membawa mereka pada prestasi tingkat internasional. Kali ini prestasi datang dari ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention and Innovation pada 23-27 Oktober.

Adapun empat penghargaan yang berhasil mereka raih meliputi silver medal, special award dari China, special award dari Phillipines dan special award dari Macau.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Rizal A

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

21 Oct 2020 10:52 WIB

70 Persen Wali Murid di Kota Malang Ingin Belajar Tatap Muka

Pendidikan

Hasil jajak pendapat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Malang.

21 Oct 2020 06:00 WIB

Patuh 3M, Walikota Malang Optimis Penyebaran Covid Rendah

Rek, Ojok Angel Tuturane

Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Malang tinggi.

20 Oct 2020 22:30 WIB

Sebulan, Pemkot Malang Jaring 469 Pelanggar Protokol Covid

Jawa Timur

Kumpulkan denda sebesar Rp5 juta.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...