Tiara Bening Salsabila, salah satu anggota tim saat menunjukan aplikasi My Tanaman buatan kelompoknya. (Foto: Istimewa)
Tiara Bening Salsabila, salah satu anggota tim saat menunjukan aplikasi My Tanaman buatan kelompoknya. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa ITS Bikin Aplikasi Bercocok Tanam Lahan Sempit

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 19 September 2020 11:37 WIB

Bercocok taman saat ini banyak dipilih masyarakat saat pandemi karena ada imbauan di rumah saja. Melihat hal tersebut mahasiwa ITS angkatan 2018 membuat inovasi yang bernama My Tanaman sebagai solusi pengolahan lahan di masyarakat.

Mereka adalah Awang Ivananto Adi, Muhammad Luthfi, dan Tiara Bening Salsabila. Ide ini berawal dari masalah lahan di perkotaan yang sempit untuk bercocok tanam. Sedangkan satu sisi, minat masyarakat tinggi untuk bercocok tanam.

Awang selaku ketua tim menjelaskan, My Tanaman merupakan aplikasi yang berbasis Wireless Sensor Network. Nantinya aplikasi tersebut dapat berhubungan langsung dengan database dan modul perangkat yang tertanam pada box ruang tanam.

“My Tanaman adalah sebuah box yang berfungsi sebagai ruang tanam yang didesain untuk dapat mengontrol kondisinya agar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman,” ujarnya.

Tangkapan layar aplikasi My Tanaman Foto IstimewaTangkapan layar aplikasi My Tanaman. (Foto: Istimewa)

Sementra, Tiara Bening Salsabila, salah satu anggota tim menambahkan bahwa timnya lebih dahulu meninjau kondisi alam.

“Kondisi ruang tanam dimanipulasi sehingga cocok digunakan untuk membudidayakan sayur-sayuran di luar habitat asli dari tumbuhan tersebut,” terang mahasiswi yang kerap disapa Bening ini.

My Tanaman menawarkan teknologi dan aplikasi yang terintegrasi dalam satu sistem. Selain menciptakan ruang tanam dengan teknik indoor planting, My Tanaman didesain menggunakan material yang aman bagi tumbuhan.

Lanjutnya, My Tanaman juga didesain sedemikian sebaik mungkin untuk mengontrol kondisi di ruang tanam hanya dengan menggunakan smartphone.

Aplikasi ini memiliki fitur-fitur berupa data sensor yang dibaca secara real time dengan delay tertentu. Indikator yang digunakan meliputi suhu, kelembapan, pencahayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan monitor kondisi ruang tanam.

Tak hanya itu, Bening juga menjelaskan keunikan dari aplikasi ini. Yaitu, dalam satu aplikasi tidak hanya bisa memonitor dan mengontrol satu kotak saja, melainkan hingga empat kotak ruang tanam. Juga setiap kotak tidak harus menggunakan user yang sama, melainkan dapat diakses oleh pengguna lain, sehingga mempermudah pekerjaan.

“Analogikan seperti dalam satu perumahan terdapat 12 box dengan tiga pengguna aplikasi, mereka bisa saling koordinasi dengan berganti shift untuk memonitor dan mengontrol kondisi dalam ruang tanam agar tetap stabil sehingga dapat menghasilkan sayuran seperti yang diharapkan,” paparnya.

Ia berharap agar ke depannya aplikasi ini bisa dikembangkan dan diperbaiki sedemikian rupa. Sehingga My Tanaman bisa digunakan dengan nyaman dan bermanfaat bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Diketahui, inovasi My Tanaman ini mendapatkan emas pada ajang the 6th Southeast Asian Agricultural Engineering Student 2020 yang digelar oleh Universitas Brawijaya bersama dengan Malaysian Society of Agricultural and Food Engineers (MSAE).

Penulis : Pita Sari

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Oct 2020 15:20 WIB

Polisi Minta Aksi Unjuk Rasa Terapkan 3M dan Tidak Anarki

Rek, Ojok Angel Tuturane

Polisi meminta pengunjuk rasa taati prokes.

24 Oct 2020 15:00 WIB

Direktur Baru, RSMU Rencana Kembangkan Sayap di Kota Lain

RS Mata Undaan

Harapan Baru RSMU dengan kepimpinana Direktur Baru

24 Oct 2020 14:40 WIB

Keluarga Menduga Penangkapan Gus Nur Ada Muatan Politis

Jawa Timur

Keluarga tidak terkejut dengan penangkapan Gus Nur.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...