Salah satu sepeda hasil karya Nurmi Pandit. Foto: Istiewa)

Magic Hand Nurmi Pandit Membuat Sepeda 'Bercerita'

04 Aug 2020 16:10

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Hidup itu penuh cerita. Cerita baik atau cerita buruk. Sedih atau gembira. Sepeda-pun harus bisa “cerita”. Cerita indah tentang pemiliknya. Itu yang jadi pedoman Nurmi Pandit dalam berkarya.

“Saya tidak mau mengecat frame sepeda asal cat saja. Itu urusan bengkel cat. Saya ingin menerjemahkan apa yang ada dalam benak atau perasaan pemilik sepeda ke dalam warna dan gambar di atas frame,” cerita Pandit, panggilan akrabnya soal prinsip kerja.

Nurmi Pandit memberikan penjelasan kepada salah satu kliennya. (Foto: Istimewa)

Berawal dua tahun lalu, Pandit yang kejebur lagi ke dunia sepeda ini menemukan passion-nya. Ajakan teman-teman untuk gowes bareng disambut bersama sepeda titanium langka dari Illinois, Amerika Serikat, Stein & Fenton.

Buat ayah dua anak ini, sepeda titanium itu everlasting. “Seperti Mercedes Maybach atau S-Class jika diartikan mobil. Abadi dan berkelas,” bangganya.

Tangan dan otak kreatif berpadu dengan jiwa suka eksplorasi membuat Nurmi mengecat sepedanya sendiri. Tak disangka banyak cyclist Jakarta lain menyukainya.

Lantas datanglah Kemal Mawira menyodorkan frame sepeda Wdnsdy AJ1 untuk dicat custom bertemakan pop-art Andy Warhol. Boom!... karya Pandit itu viral dan membuat banyak orang kagum.

Salah satu sepeda hasil karya Nurmi Pandit. (Foto: Istimewa)

Mulailah datang berbagai macam permintaan untuk pengecatan. “Saya harus ngobrol dengan owner tentang apa yang dia ingin gambarkan di frame,” tuturnya.

Paling sulit, Pandit menambahkan, adalah ketika sang owner ingin sepeda custom repaint tapi dia sendiri tidak tahu temanya. Jadi Pandit harus banyak ngobrol dengan owner di waktu santai.

“Dengan ngobrol santai sambil ngopi, saya bisa eksplorasi perasaan dan membaca apa yang ada dalam benak dia. Jadi ide saya bisa muncul lalu saya terjemahkan dalam bentuk gambar di komputer dan saya sodorkan ke dia untuk approval,” ceritanya lantas tertawa.

Pernah suami Liza Prisilia ini mendapatkan order mengecat frame Wilier Cento10Air. “Jujur ini sepeda paling susah buat didesain. Sepeda merek Italia jadi artwork harus bagus sedangkan seni di Italia sudah ratusan tahun, saya harus bisa mengimbanginya,” tekad pria yang mengagumi Manuel Bottazo, Head Designer Pinarello ini.

Dipilihlah warna putih secara base color agar lekuk indah frame muncul. Paduannya, Nurmi memilih gold, silver, dan abu-abu. Semi monochrome tapi tetap ada sentuhan art ala Pandit.

“Gold menggambarkan kemewahan. Silver dan abu-abu untuk mengimbangi agar nge-blend dengan putih. Gambarnya saya beri gunung-gunung. Julukan Wilier ini adalah Mountain is Calling,” cerita pria kelahiran 1976.

Begitulah Pandit, setiap cat custom pasti ada cerita dan perjuangan. Lucunya, ada cyclist datang ke Paintkiller Studio yang ada di kawasan Cirendeu, Jakarta Selatan membawa frame Specialized Venge.

“Datang-datang cuman bilang tolong custom paint tema Game of Thrones. Saya yang bingung karena saya buta sama sekali dengan serial itu Giliran saya yang harus belajar dan wawancara para penggemar film serial itu serta eksplorasi diri sendiri, nih!” ceritanya lantas tertawa.

Yang paling membanggakan bagi lulusan Swinburne National School of Design Melbourne adalah saat mendapatkan order mengecat sepeda titanium Fenton & Stein.

Paduan cat marble dengan lapisan gold leaf 22K dan 3D printing membuat sepeda prototipe Fenton & Stein ini tampil mewah dan istimewa. Pandit sempat frustasi setelah beberapa kali gagal mengecat permukaan titanium.

Sentuhan seni dari ayah Banyu Pramudito dan Bintang Adiguna ini tak hanya di frame, tapi total hingga ke wheelset Enve dan komponen lainnya.

Setelah selesai, dikirimlah balik frame itu ke Fenton & Stein di Illinois, Amerika Serikat dan dirakit jadi full bike. Rencananya akan dilaunching di even sepeda custom terbesar di dunia, North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2020.

“Tapi gara-gara pandemi Covid19, acara akbar itu batal. Akhirnya diputuskan launching online via platform Instagram Fenton & Stein, Sram, Enve, dan paintkillerstudio,” bangga anggota Libris Cycling Club.

Saat ini, daftar antrean untuk mengecat frame mencapai tiga bulan bahkan lebih. “Maklum semua saya kerjakan sendiri bersama tim. Dan ini pekerjaan seni jadi agak susah untuk mengatakan deadline,” bilang pengagum pelukis Salvador Dali.

Apalagi sekarang Pandit sedang konsentrasi melakukan kolaborasi desain dengan brand fashion yang beken era 90-an, Grifone. “Saya mendesain beberapa t-shirt Grifone. Sebentar lagi produksi dan siap dijual. Cocok untuk dipakai saat coffee ride dan ini limited edition,” tutupnya bangga.