Madu Untuk Hendropriyono

24 May 2019 10:00 Ajar Edi

Sisa demonstrasi di depan Gedung Bawaslu Jakarta dan Jalan Petamburan pada 21-22 Mei lalu meninggalkan duka. Setidaknya, tercatat 737 orang korban mendapatkan perawatan kesehatan.

“Sampai pukul 11.00 siang, korban meninggal delapan orang," ungkap Gubernur DKI Anies Baswedan kepada wartawan saat meninjau kawasan Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.

Kenapa itu terjadi? Besar kemungkinan, karena pendukung kedua belah pihak terbekap amarah. Semua berawal dari hasil hitung cepat Pemilu 2019, yang mengabarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menang coblosan.

Para pendukung Pak Prabowo tak terima. Lantas mengaku ingin menggunakan hak konstitusi, berdemo pada pengumuman resmi KPU di 22 Mei. Istilah kerennya, people power alias kedaulatan rakyat. 

Pak Amien Rais, Pak Eggi Sujana, dan Pak Yusuf Muhammad Martak, Ketua GNPF Ulama, berada di barisan terdepan. Mereka melihat coblosan ini banyak kecurangan. Dan awalnya ogah ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Ada yang sudah ditangkapi Polisi karena dianggap makar. Gesekan terasa kencang sekali. Pernyataan people power itu juga disambar Jenderal (Purn.) Abdullah Mahmud Hendropriyono, salah satu penyokong utama Pak Jokowi.

Mantan Kepala BIN itu mengingatkan sejumlah WNI keturunan Arab tidak menjadi provokator. Dia tak mau seruan makar itu meluas. “Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusikan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu," tegasnya kepada wartawan, Selasa, 7 Mei 2019. 

Tentu saja, pernyataan itu membuat merah telingga sebagian para keturunan Arab. Karena, dulu, banyak dari mereka juga berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Belum selesai polemik itu reda, Pak Hendropriyono bikin pernyataan baru.

Dia mengaku memiliki 150 anjing terlatih dengan IQ tinggi dan cerdas. Siap dikerahkan untuk pengamanan Jakarta, saat para pendukung Pak Prabowo berdemo. “Sekarang pas waktunya untuk dipekerjakan,” tuturnya kepada wartawan saat mendemokan keahlian anjingnya, di kompleks kediamaannya di Senayan Residence, Sabtu, 18 Mei lalu.

Alumnus Akademi Militer tahun 1967 ini menyebutkan, mereka bisa mencium bau mesiu dan bau bom pada jarak tertentu . “Kalau dia sudah menggigit bakal susah melepasnya. Harus ada teriakan kode-kode tertentu dan juga ada kompensasi seperti tadi, dikasih bola,” jelas doktor filsafat UGM ini.

Tapi, rencana itu juga bikin masalah baru. Sensitif bagi pendukung Pak Prabowo. Tak heran, Sandiaga Uno pun saat itu turut berkomentar. Menurutnya, penggunaan anjing untuk mengawal demo tidak tepat. 

Terlebih, akan diturunkan di saat bulan suci Ramadan. “Mereka tentunya, bagi umat Muslimkan kita najis kena anjing. Jadi kalau mau buka puasa, ya enggak tepat ya. Penggunaan tersebut," terang Sandi di Rumah Siap Kerja, Jakarta Selatan, Minggu, 19 Mei lalu. 

Tapi, rencana itu juga bikin masalah baru. Sensitif bagi pendukung Pak Prabowo. Tak heran, Sandiaga Uno pun saat itu turut berkomentar. Menurutnya, penggunaan anjing untuk mengawal demo tidak tepat.

Kalau untuk mencium bom, melindungi dari kegiatan teroris, menurutnya mungkin tepat. Entahlah, apakah anjing-anjing itu jadi digunakan untuk pengamanan demo lalu.

Di sisi lain, KPU mengumumkan hasil rekapitulasi di tanggal 21 Mei dini hari. Hasil jauh panggang dari api. Rencana demo 22 Mei akhirnya gembos, karena hilang momentum yang ditunggu. Ini makin melengkapi kekecewaan kubu Pak Prabowo. 

Percikan titik-titik kecil ini, tentu tidak bisa dijadikan landasan. Tapi bisa dibayangkan, kemarahan dari ke dua belah pihak sudah tak tertahankan. Tinggal ada yang bermain, api cepat terbakar dan membesar.

Di malam itu, kabar dari pendukung Pak Prabowo, seusai tarawih di depan Gedung Bawaslu di Jalan MH Thamrin, mereka hendak bubar. Pulang ke rumah masing-masing. Namun, konon, ada masa baru yang masuk. 

Tak jelas dari mana. Memanaskan suasana, jadi provokator. Mengubah malam Ramadan yang penuh kedamaian menjadi malam laknat. Suasananya bak matahari memaksa terbit, meski rembulan masih mengantung dan bersinar di langit timur.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo muncul di publik. Memastikan semua harus melewati koridor hukum. Bos Partai Gerindra itu berusaha menenangkan masa. Akhirnya, dia memilih perjuangan melalui jalur sidang di MK.

Percikan titik-titik kecil ini, tentu tidak bisa dijadikan landasan. Tapi bisa dibayangkan, kemarahan dari ke dua belah pihak sudah tak tertahankan. Tinggal ada yang bermain, api cepat terbakar dan membesar.

Tentu, Polisi yang kini makin sibuk. Sudah menangkapi ratusan orang yang dianggap provokator. Pekerjaan rumah mereka banyak. Menemukan dalang kerusuhan, juga menginvestigasi penyebab meninggalnya delapan orang korban.

Kembali ke Pak Hendropriyono. Dia adalah sosok yang sangat penting sekarang ini. Saat ulang tahun pada 8 Mei lalu, Ibu Megawati dan Pak KH Ma’ruf Amin hadir. Menteri yang datang serta mengucap selamat juga banyak.

Partainya, PKPI adalah penyokong Pak Jokowi. Walau sayangnya, kini, tak lolos ke Gedung DPR. Menantunya, Jenderal Andika Perkasa, kini, Kepala Staff Angkatan Darat, calon kuat Panglima TNI. 

Kemana-mana, dia naik sedan mewah, Lexus warna hitam. Dengan Polisi bermotor sebagai pengawalan. Dulu sekali, ada cerita unik antara dia dan Polisi. Cerita ini, dari pensiunan Polisi, mantan petinggi PJR di Polda Metro Jaya. 

Syahdan, di suatu malam, patroli PJR menemukan mobil yang mogok di dalam Tol Dalam Kota. Dekat dengan Patung Pancoran. Bintara Polisi yang tengah bertugas pun merapat. Hendak membantu. 

Saat melihat sang penumpang mobil, sontak dia langsung berdiri tegak. Sikap sempurna dan memberi hormat. Maklum, penumpang mobil itu jenderal terkenal. “Bantu antar saya Dik,” perintah Pak Hendropriyono. 

Dia adalah sosok yang sangat penting sekarang ini. Saat ulang tahun pada 8 Mei lalu, Ibu Megawati dan Pak KH Ma’ruf Amin hadir. Menteri yang datang serta mengucap selamat juga banyak.

Sampai di rumah, Pak Hendropriyono pun mengucap terima kasih. Namun, sebelum turun dari mobil, dia melepaskan jam tanggannya. Lantas mengansurkannya ke bintara tersebut. “Siap Jenderal, terima kasih,” jawab bintara, tak kuasa menolak.

Kembali ke urusan polemiknya dengan keturunan Arab. Memang, dia sempat mengklarifikasi hal itu ke media. Menurutnya, dia tak bermaksud rasis. Para WNI keturunan Arab juga kerap dihormati masyarakat Indonesia. 

“Tolonglah, kalau berada di posisi yang terhormat betul-betul bisa membawa rakyat dan masyarakat bangsa kita ini ke arah ketenangan, rasa terayomi, supaya enak beribadah, enak bekerja, enak nuntut ilmu, enak mencari makan," ungkapnya seusai acara buka puasa di rumah dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo, Senin, 13 Mei 2019.

Sebetulnya, kalau mau dilacak ke belakang, satu-satunya profesor bidang intelijen di dunia ini, sudah berurusan dengan keturunan Arab. Itu dimulai dari kematian pejuang HAM, Munir Said Thalib. Cak Munir meninggal di dalam pesawat Garuda menuju Amsterdam. Di ketinggian 40.000 kaki langit di Rumania, 7 September 2004.

Aktivis HAM, Pak Haris Azhar berulang kali di media, menyatakan Polri seharusnya memeriksa Pak Hendropriyono. Karena namanya muncul dalam laporan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir. Tapi, harapan itu bertepuk sebelah tangan.

Pasalnya, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dalam konferensi pers yang diadakan di Cikeas, Jawa Barat, pada hari Selasa, 25 Oktober 2016, menutup tuduhan itu. “Dari hasil penyelidikan dan penyidikan terhadap para saksi dan para terdakwa yang telah dijatuhi hukuman, serta barang bukti, waktu itu tidak ditemukan keterkaitan dengan Hendropriyono," ungkapnya.

Kini perseteruan Pak Hendropriyono masih meruncing dengan Habib Rizieq dan Pak Yusuf Martak. Seandainya Pak Yusuf sudi melihat sejarah, dia seharusnya paham, cara penyelesaiannya. Karena dia tinggal mencontoh cara pamannya, Pak Faraj Martak.

Oh ya, pada 22 September 2016, Pak Jokowi berjanji membongkar kasus pelanggaran HAM. “PR kita adalah pelanggaran HAM masa lalu, termasuk kasus Munir. Ini juga perlu diselesaikan," tegas Pak Jokowi, di Istana Merdeka. Semoga, di periode ke dua nanti, janji ini bisa ditepati, termasuk menemukan titik terang penyair Wiji Thukul.

Kini perseteruan Pak Hendropriyono masih meruncing dengan Habib Rizieq dan Pak Yusuf Martak. Seandainya Pak Yusuf sudi melihat sejarah, dia seharusnya paham, cara penyelesaiannya. Karena dia tinggal mencontoh cara pamannya, Pak Faraj Martak. 

Pak Faraj Martak ini pemilik rumah di Pegangsaan Timur No 56. Rumah yang akhirnya dihibahkannya kepada Bung Karno. Di situlah, upacara kemerdekaan dan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali dibacakan. 

Dini hari, pada 17 Agustus 1945, sepulangnya dari Rengasdengklok dan rumah Laksamana Maeda, badan Bung Karno demam, mengigil. Kabarnya, penyakit malaria membekapnya.

Ternyata, saat itu obatnya hanya satu. Bung Karno hanya meminum madu sidr bahiyah, pemberian Pak Faraj Martak. Itulah madu terbaik dari Wadi Do’an Hadramaut, yang hanya dipanen sekali dalam setahun. 

Esok paginya, sebelum pembacaan naskah proklamasi, Bung Karno pun meminumnya lagi. Membuat badannya kembali segar. Ternyata, madu Pak Faraj turut berkontribusi dalam pembacaan teks proklamasi.

Jadi Pak Yusuf Martak, sepertinya silaturahmi dengan Pak Hendropriyono harus dilakukan. Agar memperpanjang rejeki dan kesehatan. Jangan lupa, bawa madu sidr bahiyah.

Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Reporter/Penulis : Ajar Edi
Editor : Azhari


Bagikan artikel ini