Luhut Panjaitan: Bukan Money Politic, tapi Bisyaroh

05 Apr 2019 17:09 Politik

Setelah ramai dituduh melakukan money politic dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan pada Sabtu 30 Maret lalu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan akhirnya buka suara atas tudingan yang diarahkan kepadanya.

Luhut pun memberikan klarifikasi secara tertulis yang dibagikan kepada media. Ada delapan poin yang dituliskan dalam klarifikasinya. Dalam klarifikasinya, Luhut menyebut jika uang yang diberikan kepada KH. Zubair Muntasor, adalah bisyaroh. Bisyaroh adalah istilah dalam bahasa Arab yang kurang lebih artinya memberikan sesuatu hal yang menggembirakan.

Kata Luhut, bisyaroh ini diberikan kepada KH. Zubair Muntasor, karena dia mendengar jika kiai sepuh ini sedang sakit. "Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Saya pun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi.," sebut Luhut dalam keterangan tertulisnya.

Berikut klarifikasi lengkap Luhut:

Sehubungan dengan beredarnya video kunjungan saya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan, berikut klarifikasi saya:

1. Kunjungan saya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019, merupakan bentuk silaturahmi.

2. Silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa saya lakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada tahun 1995. Bagi saya keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI.

3. Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian.

4. Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, saya sengaja menjenguk KH. Zubair Muntasor yang saya dengar memiliki masalah kesehatan. Tentu hal ini tidak patut saya ceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Beliau.

5. Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Sayapun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi.

6. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 15 menit, saya menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019.

7. Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH. Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya.

8. Saya mengimbau kepada para elite agar mengedepankan pikiran jernih ketimbang prasangka buruk, dan hati yang bersih ketimbang hati yang penuh kecurigaan. Ajaran hubungan dan jalinan silahturahmi yang sudah diajarkan turun temurun oleh para leluhur kita jangan dirusak oleh kepentingan sesaat para elite. Sebelum bertindak bertanyalah dan berdialoglah dengan hati nurani yang paling dalam untuk melakukan sesuatu yang terbaik.

Demikian klarifikasi ini saya sampaikan dengan harapan dapat menghentikan fitnah atau kabar bohong yang diedarkan. Terimakasih.

Jakarta, 5 April 2019
Luhut B. Pandjaitan

Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini