Kak Seto dalam konferensi di Media Center Polda Jatim, mendesak negara hadir dalam penyelamatan anak pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Rabu, 16 Mei 2018. (Foto: Haris/ngopibareng.id)

LPAI Desak Negara Untuk Selamatkan Anak Pelaku Teror Bom

16 May 2018 16:38

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Keterlibatan anak-anak dalam aksi teros bom yang menimpa 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya pada Minggu, 13 Mei dan Senin, 14 Mei 2018 mendapat sorotan dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi atau Kak Seto menilai bahwa keterlibatan anak dalam aksi teror itu bukanlah sebagai pelaku. Anak-anak tersebut merupakan korban dari pola asuh yang salah pada orang tuanya.

Menurut Kak Seto, keterlibatan anak-anak dalam aksi teros bom tersebut hanyalah sebagai korban. "Anak ini hanyalah korban belaka. Karena mereka sangat mudah untuk dipengaruhi. Mereka tentu tidak bisa disalahkan. Karena itu mereka bukanlah pelaku tetapi korban," katanya di Polda Jatim, Rabu, 16 Mei 2018.

Untuk itu, lanjut Kak Seto, negara harus hadir untuk memberikan treatmen. "Mungkin semuanya harus berupaya secara maksimal untuk mengarahkan yang tepat dan lingkungan yang kondusif. Karena lingkungan korban sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak tersebut," katanya.

Sebagai tindak lanjut terhadap perkembangan anak korban teror maupun anak pelaku teror, LPAI siap melakukan pendampingan jika dibutuhkan. "Yang penting adalah negara harus hadir untuk mendampingi dan memulihkan tentang pola pikir anak-anak yang dinilai sudah keliru. Ini tidak hanya sekedar dongeng belaka, melainkan lebih dalam lagi terkait dogma," ujar Kak Seto.

Diinformasikan dalam aksi teror bom yang terjadi di 3 tempat ibadah dan markas Polrestabes Surabaya diketahui melibatkan anak-anak. Karena pelaku aksi teror bom itu diketahui masih satu keluarga. 

Ledakan bom bunuh diri yang menimpa Gereja Kristen Indonesia (GKI) di jalan Diponegoro dilakukan oleh istri Dita dan dua putri. Begitu juga di Gereja Santa Maria jalan Ngagel dilakukan oleh kedua putra Dita yang masih berusia 18 dan 16 tahun. Namun keempat anak Dita yang dilibatkan dalam aksi bunuh diri tersebut tewas. 

Sementara ledakan bom yang terjadi di rumah susun Wonocolo, Taman, Sepanjang, Sidoarjo empat anaknya juga menjadi korban. Namun 3 anak pelaku bernama Anton selamat dan masih dalam proses perawatan di rumah sakit Bhayangkara. 

Begitu juga aksi bom bunuh diri yang terjadi di Mapolresta Surabaya pada Senin, 14 Mei 2018 juga melibatkan anaknya. Pelaku yang teridentifikasi bernama Tri Murtiono membawa ke tiga anaknya. Dua anaknya tewas, namun satu anaknya lagi perempuan yang diketahui bernama Ais selamat dalam aksi tersebut. (hrs)